From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ALAN RAINHARD Penjual Eskrim yang Kini Menjadi Kepala Satker Bina Marga Oleh: M. Rainhard DI KAWASAN Jalan Riau, Kota Bandung-Jawa Barat, ada sebuah gedung megah, bercat putih dengan pagar kuning. Tepat di tengah gedung itu adalah pintu masuk utama ke dalam gedung. Halaman parkirnya luas. Di seberang gedung itu, 50 meter serong ke arah barat, adalah Pengadilan Negeri Bandung. Di salah satu ruangan dalam gedung tersebut, ada ruang pimpinan. Di ruang itulah, Uce Sumarna, ‘pemilik’ gedung biasa menemui tamu atau mengadakan rapat kecil.. Pembawaannya yang ramah membuat setiap pembicaraan ibarat pertemuan kawan lama. Lelaki yang murah senyum, berperawakan sedang dan berambut pendek itu, adalah Kepala Satuan Kerja Wisma Diklat Bina Marga, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum, yang ada di jalan riau. Kepada Media Bangsa, Jumat (18/7) pukul 10 pagi, Uce menuturkan kisah hidupnya. Selama kurang dari dua jam, ia menceritakan perjalanan hidupnya yang berliku namun penuh makna. Berikut ini sepenggal kisah nyata kehidupan Uce Sumarna. ADZAN subuh terdengar bersahut-sahutan, ketika seorang bocah berusia 13 tahun, kurus dengan kulit coklat, berjalan menuju sebuah mesjid di Bojong Loa, Astana Anyar, Kota Bandung-Jawa Barat. Nama bocah itu Uce Sumarna. Usai sholat, Uce tampak bergegas kembali ke tempat tinggalnya, sebuah rumah sederhana. Rumah itu dikontrak oleh keluarga Aid Rachmat (kakak laki-laki dari ibunya), yang biasa dipanggilnya Uwa Aid. Sesampainya di rumah, Uce langsung menuju dapur. Di sana, sang bibi, istri Uwa Aid, tengah sibuk merebus singkong untuk sarapan pagi seluruh anggota keluarga. Di saat bersamaan, wanita setengah baya tengah itu juga menyiapkan eskrim yang akan dijual oleh Uce sepulang sekolah. Dengan gesit, Uce membantu. Sesekali ia menguap. Usai sarapan, Uce segera mencuci piring, yang merupakan tugas rutinnya sebelum berangkat ke sekolah. Sejak masuk sekolah teknik (setingkat SMP), pada tahun 1967 dan lulus tahun 1970, Uce tinggal bersama keluarga Uwa Aid. Uwa Aid bekerja di bioskop alun-alun Kota Bandung. Sementara istrinya membantu keuangan keluarga dengan berjualan eskrim. Lewat bibinya inilah Uce mengenal seluk beluk usaha eskrim. Mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Setiap pagi, untuk mencapai sekolah, ia harus berjalan kaki sejauh enam kilometer. Ia terbiasa mandiri. Sementara teman sekolahnya sebagian bersepeda dan sebagian lainnya diantar orang tua menggunakan kendaraan bermotor. Sekolah teknik (ST) 7, saat itu berlokasi di Ciroyom, masih di kota yang sama. Sepulang sekolah, Uce melakukan pekerjaan rutin lainnya. Sejak tahun 1967 hingga 1973, Uce menjual eskrim di alun-alun Kota Bandung. Upah dari penjualan eskrim biasa digunakan oleh Uce untuk membeli keperluan sekolah, mulai dari sepatu, baju, hingga buku-buku pelajaran, yang seluruhnya adalah barang bekas pakai. Barang-barang itu biasa ia dapatkan di pasar barang bekas, wilayah Pasir Koja. Pada tahun 1970, Uwa Aid tidak memperpanjang kontrak rumahnya. Keluarga uwa Aid pindah agak jauh dari tempat tinggalnya semula. Uce pun tak lagi bersama keluarga sang uwa karena khawatir mengganggu aktivitas belajarnya. Terpaksa ia mencari kamar sewaan. Mengatasi tingginya biasa sewa, ia dan lima orang kawan satu kampungnya sepakat untuk mengontrak kamar berukuran 2 kali 3 meter. Lokasinya di jalan pasir koja. Meski perekonomian hidupnya saat itu serba sulit, Uce Sumarna merenda hari-harinya yang keras dengan selalu bersyukur dan senantiasa menikmatinya. Saat itu Uce melanjutkan pendidikan ke sekolah teknik menengah (STM) Negeri 3 Bandung, dulu di samping stasiun hall, kini menjadi Sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri 5-daerah Bojongkoneng, Kecamatan Cibeunying Kaler. Uce mengambil jurusan teknik gambar bangunan. Hidupnya masih sama, sambil sekolah ia masih melakoni pekerjaannya sebagai penjual eskrim. Meski saat itu ia masih berdagang di kawasan alun-alun Kota Bandung, namun kini ia harus melakukan sendiri proses produksi hingga pemasaran eskrimnya.. Setelah memperoleh ijasah STM, Uce bekerja di CV Banagara. Selama tiga bulan, ia bekerja sebagai kuli. Sempat naik jabatan sebagai mandor di pembangunan gedung ternak domba di Garut, Jawa Barat. Namun saat itu, sang uwa mengunjunginya dan menginformasikan bahwa saat itu Departemen Pekerjaan Umum sedang diadakan seleksi perekrutan pegawai negeri sipil di Kota Bandung. Bermodal iman dan kepercayaan diri, Uce pun merespon tawaran itu dengan berangkat ke Kota Bandung. Jumlah peserta saat itu 400 orang, sedangkan yang akan ditetapkan sebagai pegawai negeri sipil hanya empat orang. Tes demi tes dilaluinya. Uce lulus, ia termasuk di antara empat orang yang terpilih itu. Hatinya gembira. Kini, Uce Sumarna adalah bintang baru di lingkungan Satuan Kerja Wisma Diklat Bina Marga Bandung. Ia dilahirkan di Bandung, pada 4 Mei 1953. Mulai mengabdi pada negara sebagai pegawai negeri sipil sejak tahun 1974. Selama perjalanan karirnya, berbagai kota pernah ia singgahi, seturut perintah negara. Uce muda tidak pernah mengeluh. Ia menjalaninya dengan ikhlas dan syukur kepada Allah. Mulai dari Kota Bandung-Jawa Barat (1974-1979), DKI Jakarta (1980-1981), Surabaya-Jawa Timur (1982-Desember 1985), Palembang-Sumatera Selatan (1985-1990) sebagai staf RBO atau Road Battering Office, Jambi (1990-1995) staf Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi, kembali ke Kota Bandung (1995-1998) staf RBO, Kendari-Sulawesi Tenggara (1998-1999) pada Proyek Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional, Kabupaten Bandung (April 1999-2002) staf Bina Marga-Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan Kota Cimahi (2003-2005), Kota Bandung (Januari 2006-sekarang) Kepala Satuan Kerja Wisma Diklat Bina Marga, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum. Perjalanan hidupnya penuh suka dan makna. Mulai dari penjual eskrim, hingga kuli, ikhlas dilakoninya dengan sepenuh hati. Mungkin tak seorang pun di antara keluarga besarnya menyangka bahwa ia kelak akan menjadi seorang pimpinan di salah satu institusi negeri ini. Uce Sumarna adalah figur ayah yang dikagumi isteri dan anak-anaknya. Istrinya yang pertama A. Rodiah, meninggal di tahun 1994, akibat sakit. Baik Uce dan Rodia dinilai sangat mempengaruhi sikap dan pilihan hidup ketiga anak mereka, Euis Darlia, Yani Wulandari, dan si bungsu Budi Haryadi. Dalam keseharian, Uce kerap menekankan pentingnya prinsip kejujuran, konservatisme, sikap rendah hati, dan tidak mengejar materi. Rodiah di mata anak-anaknya adalah ibu yang tegar dan mandiri. Ia mengagumi suaminya. Rodiah juga dianggap kawan semua orang dalam rumah tangga. Sifatnya lembut, yang mungkin muncul karena Rodiah dibesarkan dalam tradisi Sunda. Pendidikan anak-anak adalah tanggungjawab Rodiah karena Uce sering kerja ke luar daerah. Lalu, pada tahun 2001, melewati proses cinta yang unik, Uce menikahi Acih Winingsih. Asih bukanlah orang lain, ia merupakan putri dari kakak laki-laki ayah Uce, sehingga terhitung masih kerabat dekat. Kakek dua cucu itu, kini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengabdi, serta melakukan hobinya bermain tenis lapangan. Saragih, salah seorang staf bawahannya, mengingat Uce sebagai “pemimpin yang transparan”. Bahkan Saragih menyematkan predikat pemimpin terbaik, manakala ia membandingkannya dengan tiga pimpinan sebelum Uce. "what i don't know, won't hurt me" _____ Dapatkan <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http:/mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/> alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! No virus found in this incoming message. Checked by AVG - http://www.avg.com Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.5.1/1560 - Release Date: 18/07/2008 06:47
<<~WRD000.jpg>>
<<image001.jpg>>
<<image002.jpg>>
