Pak Wawo ysh,

Saya belum mendalami buku bapak itu, namun secara term saja saya tertarik
dengan 'future-past' atau 'past-past'. Pernah saya bersimulasi dengan kajian
Melayu, Minangkabau hingga Perang Paderi, serta berbagai kisah suku bangsa
lainnya. Sepertinya terilhami dari upaya arkeolog menggali sejarah Firaun
dan Pyramid, juga suku Maya. Saya percaya bila sejarah berulang, walau dalam
versi berbeda. Bagaimana peta metodologi ini pak, mengingat hal tersebut
merupakan 'peramalan yang terukur' juga, apakah berlaku juga untuk 'masa
lalu' ?

Beberapa catatan bapak yang lain telah memperkaya pemahaman saya, sebelumnya
saya ucapkan terima kasih. Salam.

-ekadj

2008/7/29 Hannie Waworoentoe [EMAIL PROTECTED]

>    Eka dan sekalian rekan Rofiq dan Abimanyu, tadinya saya sudah tidak mau
> menambah referensi lagi terhadap masalah futurologi itu, tapi mungkin karena
> besok hari raya, dan rasanya Eka tokh masih kurang puas, saya ingin ulangi
> atau lanjutkan lagi deliberasi mula saya, namun sekarang sudah dilengkapi
> beberapa keterangan yang saya gali dengan google yang dalam hal ini saya
> bagi dalam dua kategori: yang satu adalah sumber *Wikipedia *yang jelas
> paling mutakhir juga tidak begitu empiris karena google dan wikipedia memang
> relatip sangat muda, kategori kedua lebih established atau mapan, referensi
> dari *Encyclopaedia Brittanica* yang jelas lebih berpengalaman dan empiris
> kebetulan karena saya juga contributor dari EB ini akan saya anut juga.
>
>
>
> Secara garis besar untuk Wikipedia rada konvensional : *Overview* dan
> pembahasan dasar tentang *Probability* (kemungkinan) dan 
> *Predictability*(dapat diramal atau mungkin daya ramal) Lalu
> *Metodologi * yang mencakup *Techniques* atau Cara dari *Shaping*(membentuk 
> bisa juga men design)
> *the Future* (masa depan. Lalu pengertian yang rada samar sekan-akan
> berasal dari pemancar jauh, weak signals (kira-kira kaya signal utk HP) ,
> lalu pengertian dasar *Sign* (tanda) masa depan,  dan yang paling 'liar'
> adalah *'wild cards'*, lalu penafsiran masa depan dekat. Metoda lain lebih
> dikenal seperti  *Trend Analysis, Forecasting*, dan gagasan 
> Toffler*Megatrends (or Global trends)
> *  lalu juga pengukuran dari *potential trends, branching trends* yang
> bercabang kaya pohon *future tree, *dan sekaligus metafora *'life 
> cycle'*(umur suatu trend. Selanjutnya bidang pendidikan futurologi dan
> *Application of Foresight*  (seperti definisi *planning as applied
> intelligent forethought*.)  Lalu agak lemah contoh dari *Fashion* atau
> mode yang jelas cuma mengarah ke baju, dan peranan *Design *(ini menarik
> juga untuk *Style, dan Lifestyle)* .- Kalau ini menurut Wikipedia yang
> jelas masih rada experimental dan belum begitu teruji.
>
>
>
> Penjelasan yang diberikan oleh Encyclopedia Brittanica jelas lebih mature
> dan dewasa, tapi sebetulnya baru mulai pada akhir perang Dunia kedua pada
> waktu *Theodore von Karman* menulis bukunya  *Towards New Horizons. *Ini
> kira-kira bersamaan dengan perubahan fungsi 'think tank' par excellence *Rand
> Corporation*, lembaga research yang memang dibentuk mula-mula utk menang
> Perang Dunia II, terutama dengan hasil senjata bom nuklir, tapi kini
> mengarah ke studi strategi perdamaian,  lantas kita lihat *Dennis 
> Meadows*dari MIT yang bersama dengan rekan-rekan scientist lain lalu 
> bergabung dalam
> *Club of Rome* dengan " *Limits of Growth"* nya alitran yang begitu
> mempengaruhi *Iskandar* *Alisyahbana *di ITB yang lantas mendirikan DTC
> dengan* Adaptive dan Intermediate dan developmental technologies* itu,  di
> USA lalu ada *Report to the Government 2000*, suatu future study , yang
> selanjutnya mengilhami *Alvin Toffler* dengan *Future Shock*nya,  rada
> lebih traditional adalah studi *Daniell Bell*  *The Coming of the Post
> Industrial Society* - mungkin sampai ke ekornya pada *post modernism *yang
> kini digeluti rekan Eko di Perancis. Aliran ini kini lebih mengarah ke
> masalah lingkungan terutama dalam karangan *The Fate of the Earth*  (*AL
> Gore)*dan *Green Machines*, banyak yang lantas menjadi rada anti
> consumerism dengan segala penyakit atau kejanggalannya termasuk juga *climate
> change*.
>
>
>
> Eka, saya engga mengira uraian diatas bisa diperas sampai begitu singkat,
> tapi futurologi memang belon begitu maju rupanya. Yang masih belum ada
> adalah penafsiran dari sumber budaya Indonesia, saya duga hal ini pasti
> tidak kosong saya ingin sebut karya dan pikiran umpamanya dari Muh Yamin dan
> GSSJ Ratu Langie sedangkan orang asing tentang Indonesia Denys Lombard dan
> mungkin banyak lagi yang dapat dianggap futurist atau futurolog. -
>
> Sebagai penutup ingin saya sanggah pandangan *bahwa masa depan itu pasti
> berbeda dengan masa kini atau masa lampau,* sebetulnya yang lebih mencekam
> adalah suatu kepercayaan kuno dimana manusia dihukum dengan melahirkannya
> kembali jikalau ia tidak memperbaiki hidupnya - jadi masanya bisa berbeda
> tapi nasibnya tetap sama.  *well what do you rather have a better future
> or the same destiny.*- *I think neither* *perhaps*. Kalau ada yang ingin
> menyanggah statement ini silahkan baca tulisan saya  *From Past-past to
> Future-future  *dimana saya mengutip Humphrey Bogart menjelang Perang
> Dunia II dalam film Casablanca:
>
> .......*So even while future songs will rarely sound the same,  old
> melodies still linger on *... *so play it again Sam*
>
> Jadi walaupun lagunya sudah baru, iramanya koq masih bergaung sama. Pak
> Wawo.
>
>
>  ----- Original Message ----
> From: - ekadj <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, July 28, 2008 10:34:21 PM
> Subject: [futurologi] Re: [referensi] Milis Futurologi
>
>   Pak Rofiq dan Pak Abim ysh,
>
> Terima kasih atas referensi dan informasinya, untuk suatu ketika
> berkesempatan memperoleh dan membacanya. Mungkin sudah saatnya menyiapkan
> semacam perpustakaan kecil untuk koleksi dan dokumentasi. Saya sendiri masih
> belajar secara mudah dan santai, misalnya dengan menonton film dan video
> yang saat ini begitu banyak menawarkan skenario masa depan. Sebenarnya ini
> langkah mundur, bila dulu sempat menjadi 'master' di dunia 
> 'simulasi<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1701>'.
> Namun bila hal ini mengindikasikan pada keinginan menjadi ahli futurologi,
> tentunya jauh panggang dari api.
>
> Saya kira justru Pak Rofiq sudah menjadi futurologist, karena sudah melihat
> 'bentuk' di masa depan. Namun coba kita ikuti pelan-pelan skenario Pak Rofiq
> ini, dan kita siapkan di milis 
> Futurologi<http://tech.groups.yahoo.com/group/futurologi/>.
> Saya kira banyak kecerdasan di sekitar kita yang bisa kita saksikan dan
> dinikmati, tinggal menunggu waktu saja. Saya yakin.
>
> Salam,
> -ekadj
>
>
>  On Mon, Jul 28, 2008 at 12:28 PM, Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ 
> yahoo.com<[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
>
>>    Pak Eka, buku a brief history of the future karangan oona strathern
>> bagus untuk dibaca kalau kita ingin menjadi futurist atau futurologist.
>> Banyak sekali metoda untuk meramalkan masa depan, salah satunya menggunakan
>> delphi technique. Alfin Toffler menggunakan pendekatan ini, ada juga yang
>> menggunakan skenario sistem dinamis. Anyway Indonesia sudah harus mempunyai
>> center of futurology.. . paling tidak memang dimulai dengan milis dulu.
>>
>>
>> Salam
>> Aunur Rofiq
>>
>>  ----- Original Message ----
>> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com <[EMAIL PROTECTED]>>
>> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com <[EMAIL PROTECTED]>
>>   Sent: Saturday, July 26, 2008 9:22:24 PM
>> Subject: Re: [referensi] Milis Futurologi
>>
>> Rekan milister ysh,
>>
>> Mungkin saya termasuk yang masih gamang terhadap pendekatan yang
>> menganggap mampu meramal *the future* melalui data informasi masa lalu
>> (plus plus...), karena saya yakin ada masa lalu yang seolah-olah berulang
>> (karena generalisasi) , tetapi karena waktu-ruang- kultural suatu eksositem
>> bersama peradaban manusia (antroposistem) selalu berubah atau berkembang
>> (walaupun ada menyederhanakannya seolah berupa spiral, yang juga tidak jelas
>> perubahan dimensinya) maka yang dilakukan hanya pe-model-an (apapun bentuk
>> penyederhanaan dunia nyata yang digunakan, dengan berbagai asumsi tidak
>> berlakunya berbagai unsur lain di luar model tersebut) dengan "if and only
>> if" yang bisa sangat banyak dan mungkin justru mengabaikan unsur yang
>> penting.
>>
>> Masa lalu adalah sejarah yang dapat dijelaskan, dipelajari atau dikenang
>> karena tidak berulang kembali. Masa kini akan segera menjadi masa lalu. Masa
>> depan tergantung apa yang kita dan pelaku lain siapkan dan lakukan sekarang
>> dengan sengaja/terencana/ terkelola ataupun tidak sengaja/terencana/
>> terkelola berdasarkan pengetahuan dan kemampuan masa lalu, tanpa harus
>> terikat kaku dengan temuan masa lalu tersebut. Jadi semakin banyak kita tahu
>> keterkaitan kita dengan aspek dan pihak lain maka semakin arif harusnya
>> tindakan kita dalam menyiapkan masa depan.
>>
>> Sebagai contoh, RTRW cuma suatu skenario dengan berbagai "if and only if"
>> yang penyusunnya ketahui di masa lalu (yang pasti berbeda dengan masa
>> datang) dan gunakan dalam pemodelannya, sesuai *keterbatasan* dan *resiko
>> * yang dicakupinya, Langkah selanjutnya perlu merupakan proses
>> berkelanjutan yang bersifat kesepakatan, kolaborasi, revisi dan koreksi
>> terhadap keterbatasan sebelumnya dan perubahan resiko penerapannya, untuk
>> mewujudkan aspek positif yang diharapkan bersama (dan  bukan sekadar
>> melegalisasi kekurangan yang terlanjur dilakukan, walaupun tidak populer).
>> Jadi sangat tidak arif apabila kemudian kita menganggap pihak lain "harus"
>> (apriori) mengikuti "model" atau skenario kita tersebut.
>>
>> Sementara itu dulu sumbang pikir saya.
>>
>> Salam,
>>
>> Abimanyu
>>
>> .
>>
> .
>
> 
>

Kirim email ke