Lalu Singapore?

-K-

2008/8/1 Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]>

>    *Jakarta = New York?*
>
> http://bdwiagus.blogspot.com/2008/07/jakarta-new-york.html
>
> [image:
> http://bp3.blogger.com/_RORXZVSbauE/SJLs-IxzOGI/AAAAAAAAAME/RhETYNyK-pY/s200/JKT-NYC.jpg]<http://bp3.blogger.com/_RORXZVSbauE/SJLs-IxzOGI/AAAAAAAAAME/RhETYNyK-pY/s1600-h/JKT-NYC.jpg>
>
> Bagaimana kalau saya bilang: "*In reality, Jakarta is going to be a New
> York for ASEAN**.*"
>
> Mungkin anda akan segera menyahut setengah berteriak: "Mimpi kaleeee....",
> sambil melempar saya dengan kulit kacang, sedangkan kacangnya sendiri
> dimasukkan ke mulut.
>
> Tapi begitulah kata *Surin Pitsuwan*, Sekretaris Jenderal ASEAN yang baru
> bertugas awal tahun 2008 ini, waktu diwawancarai oleh the Jakarta Post,
> Kamis (24/07/2008) - 
> reference<http://www.thejakartapost.com/news/2008/07/24/world-taking-asean-seriously-secretarygeneral.html>.
> Jangan salahkan beliau, karena mungkin His Excellency Surin sepertinya belum
> kenal baik Jakarta apalagi dengan para pengurus Jakarta ini. Dan mungkin
> maksud pernyataan tersebut hanya menegaskan pentingnya fungsi Jakarta
> sebagai *tuan rumah *bagi ASEAN Secretariat, yang adalah alat penggerak
> organisasi 10 negara tersebut, yang sedang berbahagia menyongsong Piagam
> ASEAN yang ditargetkan pada tahun ini bisa diratifikasi oleh seluruh negara
> anggota, yang diharapkan dapat menambah tenaga dorong bagi pergerakan ASEAN
> sendiri sebagai organisasi yang sangat berpengaruh untuk membentuk kawasan
> yang menyaingi EU. Beliau pikir, dengan demikian bertambah seksinya ASEAN,
> maka semakin banyak entitas luar yang ingin bersentuhan dan bergandengan
> dengan ASEAN, dan berhubung ASEAN Secretariat itu bertempat di Jakarta, maka
> Jakarta terkena imbas keseksian ASEAN tersebut. Jadi, ketika beliau bilang
> seperti itu, mungkin dia punya visi Jakarta akan jadi seperti New York yang
> jadi pusat kegiatan PBB, atau seperti Brussel yang jadi markas EU, atau
> seperti Geneva yang merupakan tempat berkumpulnya lembaga-lembaga
> internasional. Betapa indah dan agungnya visi itu.
>
> Namun sayang, saya rasa, visi tersebut jauh dari visi yang dimiliki oleh
> para pengurus Jakarta. Abang Kumis Fauzi Bowo mungkin juga tak berniat, tak
> berangan-angan dan tak berdaya untuk memiliki visi seperti itu. Jadi, wajar
> saja warga Jakarta, atau warga yang hidup dari kota Jakarta akan merasa
> gemas. Lihat saja tulisan seorang bernama *Andre Vltchek *yang gemas
> dengan Jakarta: di sini <http://www.worldpress.org/Asia/2875.cfm>.
> Sepertinya kok kota-kota lain seperti Bangkok, Singapore, dan Kuala Lumpur
> lah yang berhak menyandang New York-nya ASEAN. Seperti Bangkok, misalnya,
> banyak Organisasi Internasional membuka kantor representasi untuk kawasan
> Asia dan Pasifik di kota itu.
>
> Namun yang lucu, sebagai paradoks, sementara Jakarta sudah begitu parahnya
> menurut si *Andre Vltchek* itu, hingga patut disamakan dengan kota-kota di
> negara-negara miskin di benua Afrika sana, namun Jakarta tercatat sebagai
> kota kedua di kawasan Asia Tenggara (setelah Singapore) dengan biaya hidup
> termahal bagi ekspatriat. Begitu menurut hasil survey
> <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_most_expensive_cities_for_expatriate_employees>Mercer
> Human Resource 
> Consulting<http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_most_expensive_cities_for_expatriate_employees>.
> Kok bisa yah, dengan keadaan Jakarta seperti ini, namun ternyata *cost of
> living*-nya bagi pekerja ekspatriat mengalahkan Kuala Lumpur dan Bangkok,
> dan posisi tersebut ternyata tak tergoyahkan sejak 2002.
>
> Mungkin karena di Jakarta ini, yang cenderung seperti kampung modern yang
> megah, ada dualisme sisi kehidupan yang mencolok mata. Yang tak berdaya dan
> yang sangat berada. Sementara ada pengemis dan penjaja koran dan gorengan di
> pinggir jalan, kita bisa juga melihat karyawan/karyawati dengan pakaian
> necis, bersih, rapi dan wangi berlenggang ke tempat kerjanya sambil
> menenteng handphone keluaran terbaru. Sementara ada bis metromini dan kopaja
> yang dekil berkarat dan setia mengepulkan asap hitam dari knalpotnya, kita
> pun bisa melihat seliweran mobil gres keluaran terbaru. Sementara ada
> barisan rumah-rumah bobrok nan kumuh di pinggiran sungai, bantaran rel
> kereta api dan kantong permukiman kumuh, maka kita juga bisa liat apartemen,
> *town-house*, dan beragam komplek perumahan mewah. Sementara pasar
> tradisional penuh sesak namun sumpek, becek dan kotor tak teratur, kita juga
> akan menemukan taburan mall, hypermart, shopping area, dan berbagai tempat
> hiburan. Dan karena para ekspatriat itu hanya punya dua pilihan, antara yang
> buluk dengan yang luks, maka tentunya yang terkahir itu yang menjadi pilihan
> dengan harga yang cukup mahal. Dan kebetulan Jakarta punya segalanya yang
> terbaik, terbagus, dan termewah untuk dinikmati para ekspatriat.
>
> Jadi sebenarnya kalau diliat dari sisi *cost of living for expatriate*itu, 
> bisa saja ya kita menganggap patut lah Jakarta disamakan dengan New
> York. Jakarta sebenarnya mampu memberikan layanan dan barang kelas satu bagi
> para ekspatriat. Dan mungkin semua layanan dan barang kelas satu sudah cukup
> membuat para ekspatriat itu layak untuk tinggal. Toh, macet dan polusi jadi
> tak terasa. Mungkin mereka juga tak butuh taman hijau banyak-banyak, cukup
> sudah dengan taman-taman di daerah Menteng dan kawasan elit lainnya. Mereka
> juga tak terganggu oleh pengemis dan gelandangan, toh mobil berkaca lapis
> hitam nyaris pekat dan bahkan kadang dengan korden. Mereka tak terganggu
> dengan sungai ciliwung yang mengkeruh serta deretan rumah-rumah bobrok nan
> mengenaskan di bantaran sungai dan rel kereta api, karena toh view apartemen
> sudah diarahkan untuk tidak melihat ke daerah seperti itu.
>
> Untuk semua itu, mereka harus bayar mahal. Harus punya mobil beserta
> sopirnya, daripada naik metromini atau kopaja. Atau kalau tidak, harus
> naik taksi setiap hari. Atau kalau mau belanja kebutuhan sehari-hari, ada
> berbagai macam mal, supermarket, hypermarket, dan butik. Tidak perlu
> desak-desakkan di pasar tradisional atau grosiran atau ITC. Tidak butuh
> warteg atau warung tenda kaki lima, karena ada kafe dan restoran yang tak
> kalah dengan yang ada di Singapura dan Malaysia. Mungkin mereka ingin
> memanjakan diri mereka dengan semua yang mahal namun menyenangkan itu,
> seperti candu yang bisa melupakan sisi lain Jakarta yang mendekati neraka
> yang kumuh dan bikin pecah kepala.
>
> Yah, waktu jua lah yang akan menentukan, sampai sejauh mana Jakarta akan
> menyiapkan dirinya untuk menjadi New York-nya ASEAN? Atau menunggu Bang
> Kumis terinspirasi oleh Pak Bloomberg, walikota New York, yang terpilih dua
> kali, yang punya "PlaNYC: A Greener, Greater New York", yang meminta digaji
> US$ 1,- per tahun, dan yang mau memberdayakan *city commisioner*-nya
> (tidak seperti Bang Kumis,yang tak pernah memberdayakan 5 walikotanya,
> typical one-man-show-nya-sutiyoso).
>
> Yah, mestinya kita tunggu saja. Kita tunggu sampai warga Jakarta, menggeram
> dan melakukan revolusi, barangkali. Suatu hari ...
>
>
>
> Best regards,
>
>
>
> *Benedictus Dwiagus S.*
>
> bdwiagus.blogspot.com  <http://bdwiagus.blogspot.com>
>
>
>
> *Planning**: Much works remain to be done before we can announce our total
> failure to make any progress ,...*
>
>
>
>
>  
>



-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
Cell : +62 815 607 0927
T/F : +62 21 7997039
INDONESIA

<<image001.jpg>>

Kirim email ke