----------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------
------------

:::: Kota dan Sepeda ::::    (tulisan ini ada di www.bdwiagus.blogspot.com)

By.: B.Dwiagus Stepantoro

Kalau kita mau nostalgia masa kanak-kanak kita bahkan sampai remaja,
tentunya kita tak akan pernah lupa kenikmatan masa-masa ketika kita
menggenjot sepeda, keliling-keliling komplek rumah atau perkampungan
sekitar, atau mengunjungi rumah teman -teman sepermainan. Betapa nikmatnya
masa itu, ketika sepeda adalah sebuah alat bagi seorang anak menikmati
kebebasan mengendalikan sesuatu, karena sepeda bisa membawa anak ke dalam
dunia yang dirasa sudah dalam genggam kuasanya.

Tapi sekarang mungkin anak-anak sekarang apalagi remaja sudah banyak lupa
untuk bersepeda, teralihkan oleh asiknya bermain playstation dan sega,
serunya televisi, serta nyamannya berkendara empat roda. Hanya mereka
anak-anak yang ada di daerah-daerah bukan kota-kota justru yang bergembira
menikmati nikmat bersepeda.

Tapi jangan salahkan si anak di kota-kota bila mereka tak tertarik menaiki
sepeda, juga jangan salahkan orang tua di kota-kota besar bila mereka lebih
suka membelikan mainan video game daripada menemani anaknya naik sepeda.

Begitupula, anak-anak muda sekarang, saya rasa, lebih suka memilih memiliki
kendaraan roda empat, sebagai mainan mengasyikkan sambil menghabisi masa
remaja. Kalau tak mampu, mereka beli sepeda motor, yang kelihatannya lebih
perkasa dibandingkan sepeda. Maka sepeda telah menjadi simbol mereka yang
tak mampu. Mereka yang miskin. Karena berkendara sepeda sangat mungkin
diartikan tidak mampu untuk membeli motor atau mobil yang sudah jadi penanda
status ekonomi masyarakat untuk digolongkan miskin atau sejahtera (liat saja
kriteria untuk penerima BLT, kalau punya motor dianggap bukan miskin). Jadi
demi menjaga status ekonomi yang indah di mata masyarakat, orang lebih suka
membeli motor, dan kalau sudah beli motor, buat apa beli sepeda lagi?
Bukankah sebagian besar orang berpikir seperti itu?

Mungkin yang bisa kita salahkan ada di luar sana. Jalan raya dan
lingkungannya yang tak akrab lagi dengan pesepeda. Jalan yang ruangnya sudah
tersesaki dan terperkosa oleh pengendara lainnya. Motor, mobil, angkutan
umum semuanya ingin menjadi penguasa jalan raya. Tak ada sisa ruang buat
sepeda.

Kalau dulu ketika kita masih anak-anak, masih berani keluar rumah dan
menjelajahi jalanan di seputar rumah, sedangkan sekarang, sangat jarang
orang tua yang berani mengijinkan anaknya keluar rumah berkeliaran dengan
sepeda.

Lingkungan komplek perumahan yang aman bagi pesepeda pun sudah merupakan
kemewahan, yang mungkin cuma bisa didapat dalam komplek perumahan yang agak
mewah, dengan jalan kuldesak, atau perumahan dengan sistem klaster tertutup,
atau sebuah town-house yang eksklusif. Namun itu tidak menjamin para
orangtua memberanikan anak-anaknya keluar rumah bersepeda. Karena di luar
sana, sebuah rimba belantara jalan raya sana, penghuninya saling bertarung
merebut kuasa.

Masalahnya kembali ke itu tadi. Kota-kota di negara kita tercinta seperti
lupa masa kecilnya. Masa kanak-kanak ketika bermain dengan sepeda. Ketika
kota berkembang, ia lupa memberikan ruang bagi si pesepeda. Yang dimanja
adalah mereka yang bermotor namun pengotor. Pengotor udara tepatnya.
Berbagai fly-over bertumpukan di berbagai persimpangan Kota. Underpass pun
mulai menggasruk-gasruk ruang bawah tanah jalan raya. Semuanya demi
lancarnya sepeda motor dan si empat roda. Tapi di mana ruang untuk sepeda?

Mungkin para pesepeda memang harus bertarung dengan para pengendara
kendaraan bermotor lainnya. Mungkin memang para pesepeda dipandang tidak
perlu diistimewakan, jadi harus diperlakukan sama dengan pengendara lainnya.
Jadi harus sama-sama berjuang berebut kuasa atas ruang di jalan raya.

Sepertinya memang ada anggapan tertentu oleh banyak orang di banyak kota
besar ini bahwa sepeda itu bukan alat tranportasi yang layak di dunia modern
ini. Mereka menganggap, boleh lah sepeda sebagai untuk keliling-keliling
kompleks rumah, belanja ke warung, mengunjungi tetangga, atau sekedar
olahraga menghabisi senggang waktu atau untuk melepas kerinduan masa kecil
yang bahagia dengan sepeda. Tapi kalau untuk alat tranportasi utama untuk
bekerja, ke kantor, ke tempat usaha atau ke sekolah, ... weit, nanti dulu.
Masih banyak orang menganggap sepeda bukanlah alat transportasi yang layak
untuk bersaing ruang di jalan raya. Jadi menyingkir sajalah, wahai pesepeda.
Begitu sepertinya pandangan banyak orang-orang di kota.

Tapi untungnya, ternyata ada sekelompok orang yang perduli dengan keadaan
tersebut. Mereka yang memulainya pada tanggal 6 Agustus 2004 dengan mulai
mempromosikan bahwa sepeda adalah tak kalah istimewanya dengan kendaraan
bermotor dua atau empat roda. Dan sepeda tak seharusnya tersingkirkan dari
jalan raya. Dan bersepeda bisa jadi dan sangat pasti adalah pilihan yang
bijak dan logis untuk berkendara di kota, ... untuk diri sendiri, untuk
sesama, untuk kota, untuk semua.

Mereka lah yang menggagas komunitas bike to work (b2w), yang kemudian
dideklarasikan tanggal 27 Agustus 2004, dan kemudian berkembang dengan
anggota ribuan orang pesepeda (pekerja, anak sekolah, kuliahan). Mereka ini
lah yang mencoba menunjukkan bahwa para pesepeda adalah perwakilan mereka
yang tersingkir, tak perduli miskin ataupun kaya, tapi istimewa, karena yang
mereka perdulikan hanyalah kota tempat mereka hidup yang mestinya bisa
ditinggali dengan nyaman dan bebas polusi. Saya rasa mereka bukan hendak
sekedar bernostalgia masa kanak-kanan yang bahagia dengan sepeda, tapi lebih
dari itu mereka punya misi dan visi. Misi dan visi yang mulia, ingin
menciptakan lingkungan yang sehat dan bersahabat bagi para pesepeda. Karena
sepeda itu sendiri telah bersahabat dengan lingkungan dan memberi manfaat
sehat bagi pengendaranya, jadi lingkungan itu sendiri harus dibuat sehat dan
bersahabat bagi para pesepeda. Maka tak salah, kalau tujuan mulia dari
komunitas ini adalah adanya ruang yang sehat dan bersahabat untuk para
pesepeda, sebuah jalur khusus sepeda di sepanjang jalan agar pesepeda dapat
secara fair mendapatkan haknya atas ruang bergerak. 

Tapi visi dan misi ini bukan berarti para pesepeda minta dikasihani, tapi
karena memberikan jalur yang terpisah dengan kendaraan bermotor bukan
berarti memberikan perlakuan istimewa, melainkan memberikan hak yang sama
bagi  semua pengguna jalan secara fair menurut kebutuhan. Bukankah sangat
tidak fair kalau membiarkan pertarungan akses ruang jalan antara pesepeda
(yang lebih vulnerable) dengan pengendara mobil atau motor? Lebih dari itu,
jalur sepeda khusus justru bisa memperlancar lalu lintas karena minimalisasi
konflik perebutan ruang jalan antara kendaraan bermotor dan kendaraan tak
bermotor (alias sepeda dan kawan-kawannya).   

Sepertinya komunitas b2w ini bisa melakukan lebih lagi untuk mewujudkan visi
dan misi itu, mengingat ada Bang Fauzi " Kumis" Bowo, pak Gubernur Jakarta
tercinta, dalam jajaran pelindung  dalam keorganisasian b2w ini (bersama
dengan Pak Kusmayanto Kadiman). Tapi bola akan selalu berada pada Bang Fauzi
Bowo, yang punya kuasa dan yang adalah ahlinya (seperti kampanye beliau).
Mau atau tidak dia dengan berani, memulainya dari yang kecil, sepenggal
jalan demi sepenggal jalan dibuat jalur khusus sepeda. Jangan cuman tiap
minggu doang, untuk beberapa jam doang, hanya penggal jalan sudirman-thamrin
pula. Gebrakan lebih dari itu harus ada nih, Bang Fauzi.

Mungkin video kampanye di bawah ini bisa jadi inspirasi buat kita semua,
terutama untuk Bang Fauzi. Video ini dibuat oleh Interface for Cycling
Expertise (I-CE), www.cycling.nl , yang menggambarkan para pesepeda yang
beruntung dari Belanda, Denmark dan Colombia dan menunjukkan bahwa
menciptakan kota yang bersahabat dengan pesepada, adalah sesuatu yang bijak
dan beradab.

http://www.youtube.com/watch?v=5rwwxrWHBB8  

Sementara saya mempersiapkan sepeda saya untuk bike to work perdana saya,
besok Senin ya, tanggal 11 Agustus 2008. Sebagai persiapan untuk itu, saya
coba lupakan dulu masa indah saya ketika kecil mblasuk-mblasuk
kampung-kampung di Meruya, atau di sawah-sawah di pinggiran tol Jagorawi
(kalau menemani teman berlibur ke Bogor). Bahkan saya akan lupakan dulu
masa-masa indah saya ketika bersepeda di Rotterdam dan dimanja oleh jalur
khusus sepeda yang nyaman dan dihormati secara istimewa oleh pengendara
kendaraan bermotor di penyeberangan jalan. Biarlah saya hadapi dulu
kenyataan pada hari Senin nanti, bahwa Jakarta-ku BELUM siap menjadi kota
yang bersahabat dengan pesepeda.

Best regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
www.bdwiagus.blogspot.com  
 




Kirim email ke