--- In [email protected], "- ekadj" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Risfan dan Pak Nuzul ysh,
>
> Satu tabel tertinggal dari perhitungan nilai jalan saya sampaikan
terlampir,
> yaitu matriks nilai X yang menunjukkan 'kelengkapan jalan'.
>
> Saya tertarik meneruskan lagi lemparan Pak Risfan mengenai land-use
dan
> intensitas penggunaan lahan, atau dalam formulasi itu kita sebut nilai
u
> (myu). Saya mempertanyakan masalah koefisien yang bisa kita sepakati,
dan
> sebagai contoh adalah kembali ke Jepang sebagaimana terlampir. Dari
contoh
> ini sebenarnya kita harus membedakan commercial district sebagai
'highly'
> dan 'standar saja'. Franchise dll selalu mencari posisi highly
commercial
> district, dan bagusnya di negara-negara maju, 'kawasan' ini
terdefinisi. Di
> Indonesia sepertinya kita juga harus menambahkan kriteria 'kawasan
> campuran', seperti ruko/rukan, rumah warung, dlsb. Sehingga cukup
puyeng
> juga bila hal ini 'dilegalkan' dan ditentukan koefisiennya. Termasuk
juga
> bila commercial area itu bertumpuk-tumpuk, dan trend juga sekarang ini
:
> sekian lantai ke atas dijadikan apartemen.
>
> Saya kira saya harus menyiapkan suatu contoh simulasi bergambar,
berikut
> perhitungan-perhitungannya juga. Sembari juga mohon dibantu dari
rekan-rekan
> sekalian untuk menyusun koefisien untuk tipikal Indonesia. Sementara
> demikian pak. Salam.
>
> -ekadj
>
> 2008/10/6 Risfan M [EMAIL PROTECTED]
>
> >   Dear referenciers ysh,
> > Pertanyaan Bang Nuzul tentang McD yang memborong properti di kota
besar
> > menggoda saya. Jadi ingat awal belajar teori lokasi tentang
optimalisasi
> > lokasi penjual es lilin.
> >
> > Saya tidak bisa menjawab secara langsung kasusnya, tetapi
terprovokasi
> > untuk membahas secara umum tentang pengaruh timbal balik antara
"nilai
> > properti" dengan kehadiran "jaringan franchise dan retailers."
> >
> > Retailers dan berbagai outlet produk franchise senantiasa berusaha
> > menjangkau konsumen dimanapun mereka berada. Bahkan dengan layanan
deliveri
> > atas pesanan via telpon. Dan mereka bersaing antar pedagang produk
sejenis
> > atau substitusinya.
> >
> > Tentunya retailers tersebut diuntungkan dengan dibangunnya mal atau
pusat
> > belanja di satu kawasan atau kota, yang menjadi pusat kunjungan
penduduk
> > setempat. Dari obrolan dengan pemilik franchise domestik diperoleh
info
> > bahwa mereka akan berusaha masuk ke setiap mal atau pusat belanja di
kota
> > besar. Tujuannya adalah untuk menjaga kehadiran mereka dihadapan
pelanggan.
> > Ini dapat dilihat dengan kehadiran franchise global maupun nasional
di
> > setial pusat belanja, seperti McD, KFC, Pizza Hut, Dunkin Donut,
juga Bread
> > Talk, Batik Keris, TB Gramedia, salon Johny Andrean, Rudi
Hadisuwarno, Disc
> > Tara, dst.
> >
> > Sebaliknya, tiap mal atau pusa belanja akan merasa beruntung jika
tenant
> > atau penyewanya adalah jaringan franchise yang punya nama (brand)
yang kuat
> > tersebut. Karena merupakan jaminan akan dikunjungi pelanggan.
Terutama kalau
> > yang masuk adalah supermarket dan department store yang ternama.
Mereka
> > menjadi anchor tenant, menjadi jangkar yang mengikat penyewa dan
pengunjung.
> > Untuk setiap mal yang baru dibangun orang akan bertanya, apa
supermarket dan
> > department store nya. Apakah Giant, Carefour, Hypermart, Superindo?
Apakah
> > Metro, Sogo, Matahari, Ramayana, atau lainnya? Anchor tenant bisa
menentukan
> > hidup mati suatu mal.
> > Di beberapa daerah warga akan bangga kalau di kotanya sudah ada
nama-nama
> > retailers tersebut. Karena pada masa kini itu menjadi semacam simbol
urban.
> > Belum bisa disebut kota katanya kalau belum hadir nama-nama
tersebut. Itulah
> > kekuatan citra yang tertanam di benak konsumen. Mungkin terpengaruh
juga
> > oleh iklan di TV dan surat kabar tentang berbagai produk yang
ditawarkan.
> > Daya tarik brands tersebut sungguh terasa terutama bagi mereka yang
punya
> > anak dari usia TK hingga remaja.
> >
> > Kenyataan di atas tentu menyedihkan bagi promosi produk lokal. Tapi
kita
> > sedang bicara urban land economic saat ini. Ada cerita menarik kalau
di
> > sepanjang jalan Tol Merak - Jakarta - Cipularang, bahwa pengelola
> > masjid/mushola di tiap "lokasi istirahat" dan pompa bensinnya juga
> > franchise. Suatu kenyataan bahwa adanya tempat ibadah yang bersih,
sejuk,
> > telah menjadi faktor penentu keputusan memilih tempat pengendara
istirahat.
> >
> > Kembali kepada pokok persoalan, tentunya para retailer, franchiser,
anchor
> > tenant tersebut tahu posisi tawarnya. Sehingga tak jarang dari awal
mereka
> > sudah minta dipenuhi syarat-syarat kehadirannya, disamping harga.
> >
> > Sementara itu di luar mal atau pusat perbelanjaan, para retailer dan
> > franchiser justru harus berlomba mencari lokasi yang strategis untuk
> > menjangkau pelanggan. Di pinggir kota, ruko-ruko di pusat permukiman
baru
> > biasanya menjadi sasaran. Namun di pusat kota, persaingan dalam
memperoleh
> > lokasi strategis, di pojok perempatan utama, di sepenjang jalan raya
utama,
> > dekat pasar, perkantoran, dst. Maka tak heran kalau setiap saat
mereka
> > secara proactive "menguasai" titik-titik strategis itu, bahkan di
saat
> > pendapatan sedang turun sekalipun. Toh investasi properti sifatnya
jangka
> > panjang. Mungkin.
> >
> > Silahkan klik update: http://urbaneconomic.blogspot.com
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> > .
> >
> >
> >
>


Kirim email ke