Bung Rempu dan rekan2 ysh,

Memang otot dan syaraf menulis mesti rutin dilatih ….

Perencanaan jalan nasional, provinsi saya kira selalu melibatkan Pemda 
setempat. Dan, rencana pembangunan jalan seperti tol Jakarta – 
Cipularang pasti sudah masuh di RTRW-nya. Hanya, seperti Anda 
sampaikan, tanggap tidak mereka dengan antisipasi dampak 
positif/negatif nya.

Mengenai banyak Pemda yang tidak aktif memajukan daerahnya, sebetulnya 
kebanyakan mengurusi, tapi masalahnya seringkali sangat sektoral, 
masing-masing Dinas punya program dan prioritas yang tidak saling 
mendukung. Masalah klasik juga. Misalnya, Dinas Pertanian membina 
petani apel, jeruk, jahe atau lainnya tapi masalahnya perlu ada agro-
industri untuk pengolahannya. Sementara itu Dinas Perindustrian dan 
Perdagangan mengurusi komoditas yang lain. Dinas Koperasi & UKM lain 
lagi yang dibina.Sementara dari Dinas Pendapatan Daerah (DPKD) malah 
meningkatkan retribusi disitu. Tidak ada kesatuan pendapat soal jenis 
komoditas apa yang akan diprioritaskan, sehingga semua upaya 
difokuskan ke situ. 

Belum lagi nanti pada proses penetapan anggaran, proses negosiasi yang 
tidak transparan dan konsisten dengan rencana sering lebih menonjol. 
Sehingga meskipun visi misi daerah memprioritaskan penguatan UMKM, 
alokasi anggarannya bisa berbeda.

Tapi kalau melihat sisi baiknya tentu banyak juga. Untuk Kabupaten 
Cianjur misalnya, beralihnya arus lalu-lintas regional Jakarta – 
Bandung, juga Bogor - Bandung ke jalan Cipularang akan mengurangi 
tekanan arus di jalur Puncak, sehingga mengurangi kemacetan yang lebih 
parah dan menurunkan daya tarik wisata. Masalahnya adalah bagaimana 
mengelola pertumbuhan tersebut agar tetap optimal. Menurut riset 
majalah Warta Ekonomi (22 September 2008) Kabupaten Cianjur menempati 
urutan kabupaten/kota "terkaya" peringkat ke 24, turun dari peringkat 
18 pada tahun 2007, dengan APBD sebesar Rp 1.141 M (PAD nya Rp 77.8 
M). Sementara itu Kabupaten Bandung ada di peringkat 9 (turun dari 
peringkat 4 pada th 2007), APBD nya sebesar Rp 1.383 M (komponen PAD 
nya Rp 132.3 M).

Salam,
Risfan Munir
blog - http://urbaneconomic.blogspot.com

--- In [email protected], "risfano" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> --- In [email protected], Rempu Rayat <rumpiusa2004@> wrote:
> >
> > Yth Pak Risfan M, ikut meramekan... melemaskan syaraf sejenak..
> >
> > Kalau pada konteks ekonomi wilayah, seyogyanya Pemda-pemda yang
> terpengaruh dengan adanya TOL diajak berbicara pada saat perencanaan
> pembangunan dan penyusunan FS nya. Tapi walaupun tidak diajak bicara
> oleh pengusaha jalan TOL, karena dapat berita ada jalan TOL maka 
baiknya
> Pemda yang merasa bakal rugi angkat bicara. Nah  disini  saya kira
> masalahnya akan meluas ke arena kultur kita, mungkin, sehingga
> komunikasi dimaksud tidak jalan. Kabarnya banyak lho Pemda yang 
tidak
> aktif mengurusi bagaimana agar perekonomian daerahnya bisa lebih 
maju.
> > Salam,
> > Rempu
> >
> > --- On Wed, 10/8/08, Risfan M risfano@ wrote:
> > From: Risfan M risfano@
> > Subject: [perkotaan] Nilai lahan dan Intensitas Lahan
> > To: [email protected]
> > Date: Wednesday, October 8, 2008, 12:29 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >             Bang Eka dan reman2 ysh,
> >
> >
> >
> > Terima kasih atas tanggapannya. Mengenai perubahan nilai dan harga
> lahan akibat interaksi antara land-use dengan sistem transportasi 
saya
> gambarkan dalam Diagram-2 (terlampir atau di  blog Urban Land 
Economic).
> Pada prinsipnya pembangunan jalan (apalagi tol) antar kota akan
> meningkatkan nilai lahan di lokasi-lokasi yang mengalami peningkatan
> aksesibilitasnya. Nilai lahan akan diikuti dengan naiknya harga 
lahan
> pula, asal sites tersebut tidak ada restriksi untuk dibangun.
> Selanjutnya, walau sering lambat NJOP naik, sehingga PBB juga bisa 
naik.
> Tapi lebih dari itu yang diharapkan tentu economic multiplier effect
> nya, bagi kehidupan ekonomi lokal dan daerah.
> >
> >
> >
> > Itulah manfaat pembangunan prasarana jalan bagi kawasan (dan
> masyarakat) yang diuntungkannya. Hanya sering kali tujuan semula
> terutama untuk manfaat akses regional (antar kota) misalnya, tapi
> masyarakat di sekitar (pintu tol) yang banyak diuntungkan. Tak ada 
yang
> salah, yang penting jangan sampai ekses keuntungan tersebut jangan
> sampai mengganggu fungsi utamanya. Kalau karena "numpang untung"
> tersebut fungsi jalan terganggu, ya percuma saja membangun jalan
> tersebut.
> >
> > Perlu dicatat juga bahwa yang menikmati keuntungan meningkatnya 
akses
> karena jalan tol, misalnya, bukan hanya Bekasi saja, tapi sampai
> Bandung. Walau yang "dirugikan" juga ada, misalnya kota-kota
> Subang, Purwakarta, juga kota-kota kecil sepanjang jalur Puncak, 
yang
> arus lalu lintas harian (LHR)nya merosot tajam.
> >
> >
> >
> > Kembali ke topik nilai lahan, dengan time-frame. Dengan diagram
> tersebut tergambar bahwa dalam jangka waktu tertentu peningkatan
> intensitas land-use sebagai respons dari pembangunan jalan tersebut 
bisa
> menimbulkan feed-back negatif, yaitu peningkatan pembangunan lahan 
yang
> over, sehingga menimbulkan masalah baru. Sehingga nilai lahan di
> titik-titik yang tadinya naik bisa merosot. Sehingga nilai lahan di
> waktu mendatang (Vt) tidak selalu naik.
> >
> >
> >
> > Dari sisi pengambangn wilayah, kalau tidak diterapkan  "growth
> management" dan penataan sistem transportasi yang memadai, akan
> menimbulkan kebutuhan lebih lanjut untuk pembangunan prasaran jalan
> lagi. Maka masalah akan berulang.
> >
> >
> >
> > Sekali lagi kajian urban land economi ini membawa pesan, agar 
publik
> juga faham soal adanya peningkatan nilai lahan (dan siapa yang
> diuntungkan) dan biaya eksternalitasnya (dan siapa yang 
menanggungnya) .
> >
> >
> >
> > Salam,
> >
> > Risfan Munir
> >
> > Blog - http://urbaneconomi c.blogspot. com
> >
>



Kirim email ke