Pak BSP ysm,
Terima kasih atas tanggapannya dan informasi tentang upaya-upaya yang telah
dilakukan di Yogya. Saya melihat postingan bapak ini tidak sampai di
Referensi, dan saya lanjutkan, siapa tahu bakal disamber oleh Pak Pingky
yang sekarang sudah bergabung dengan kita, Pak BTS, Pak HariG, dll. Namun
saya harapkan kita bisa membedah secara mendalam di milis
Perkotaan<http://groups.yahoo.com/group/perkotaan>,
berhubung juga ada Ibu Rima, Pak Djarot, dll.
Saya coba lanjutkan beberapa upload-an lagi untuk kasus Tokyo sebagai
referensi kita bersama. Salam.

-ekadj
2008/11/9 [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>

> Uda Eka ysm, rekan milister
>
> Saya setuju dengan Tokyo case yg saya yakin juga dipergunakan oleh
> negara-negara lain. Strategi itu juga pernah dilakukan oleh Jogja dalam
> skala yang lebih kecil.
>
> Pada tahun 2000 saya mendapat perintah dari Gubernur untuk mendorong
> pertumbuhan ekonomi Jogja dan menyebarkan kegiatan sehingga tidak
> concentrated di Malioboro. Untuk itu HBX meminta saya menggunakan event
> Asian Tourist Forum (ATF) sebagai event pengumpil pertumbuhan. Mohon dilihat
> bahwa pada masa itu GRDP/cap masih sekitar 400 USD. Sebuah angka yang
> rendah.
>
> Strategi yang dipergunakan adalah :
> 1. Bangun CBD baru dengan engine venue ATF.
> 2. Kembangkan prasarana untuk meningkatkan akses ke Jogja dari luar.
> 3. Install kemudahan-kemudahan dalam masyarakat menikmati Jogja.
>
> Dengan strategi itu maka pertama dibangunlah JEC. Untuk menjaga aurs lalu
> lintas yang akan memadati jalur ke arah gedung JEC. Gedung ini menjadi cikal
> bakal CBD baru seluas 14 hektar yang saat ini sdg dalam proses negosiasi
> dengan pihak ke 3. Ternyata dengan keberadaan JEC ini langsung terasa di
> masyarakat. Semula eksportir dari Jogja hanya 4, setelah JEC berjalan 4
> tahun jumlah eksportir di Jogja 247 !! Hal ini karena pameran-pameran yang
> diadakan di Jogja bisa menarik terjadinya deal-deal bisnis dan yang
> menangkap adalah eksportir Jogja. Permasalahan JEC hanyalah gedung itu tdk
> dilengkapi dengan prasarana pendukung yaitu : Hotel, gudang dan gedung
> perkantoran. Ini yang sedang dinegosiasikan dengan pihak ke 3 tsb.
>
> Kedua, dikembangkanlah Adisucipto sebagai internasional airport terbatas
> (harap dicatat bahwa ini merupakan usaha lebih dari 30 tahun). Alasannya
> adalah jumlah penumpang diproyeksikan akan naik menjadi 5-10 juta pertahun.
> Saat itu masih 2,7 juta dan saat ini sudah menjadi 5 juta/th. Ini ternyata
> mengakibatkan pertumbuhan jalur penerbangan dr Jogja. Semula route dar Jogja
> hanya ke 4 kota (Jakarta, Surabaya, Bali, Mataram). Sekarang kota ini sudah
> bisa dihubungkan langsung dengan 16 kota lain di dalam dan luar negeri. Yang
> terjadi adalah pertumbuhan ekonomi antar kota-kota itu terbentuk.
>
> Ketiga, pengembangan sarana informasi. Ternyata program ini tidak terlalu
> berhasil. Masalahnya ada perbedaan konsep antara saya dengan HBX tentang
> operasional basis prasarana informasi tersebut. Saat ini konsep itu (e-Jogja
> atau Jogja cyber province) masih berjalan namun relatif terseok-seok.
>
> Terlepas dari semua permasalahan yahng ada :
>
> 1. GRDP percap dari sekitar 400 sudah melonjak menjadi diatas 1000 USD
> dalam waktu 5 tahun.
> 2. Nilai investasi pertahun bisa meningkat 200% dari masa-masa sebelum
> strategi ini dibangun.
> 3. Pertumbuhan ekonomi meski tidak terlalu tinggi bisa steady dan pada
> tahun 2002-2005 pertumbuhan ekonomi DIY bisa diatas rata-rata nasional. Ini
> hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
> Akibatnya lebih jauh :
> 4. PAD DIY melonjak dari 376 milyar pada tahun 2001 menjadi sekitar 700
> milyar tahun 2008. Ini mengakibatkan bahwa belanja aparat sudah bisa
> dibiayai sendiri dengan PAD. Hal ini hanya terjadi di 4 propinsi di
> Indonesia. Memang hal ini juga didukung adanya pengurangan belanja aparat
> diatas 140 milyar akibat efisiensi dengan pemotongan jabatan dari semula
> 1600an menjadi hanya 600an dan pengurangan pegawai dari 13.000an menjadi
> 6.000an.
> 5. Saat ini Pemerintah DIY sudah berani melakukan investasi langsung. Hal
> ini tercermin antara lain dalam perluasan bandara Adisucipto.
>
> Pertanyaannya apakah itu cukup. Jawab saya... masih sangat kurang.
>
> Jadi memang strategi tokyo itu cocok untuk speeding up pembangunan kota.
> Hal ini saya alami waktu mempertanggungjawabkan konsep didepan DPRD DIY.
> Mereka yang semula menolak menjadi sangat setuju setelah melihat
> gambaran-gambaran yang akan terjadi.
>
> Salam dari jogja yang tambah semrawut.
>
> bambang sp

Kirim email ke