Pak Wawo ysh, terima kasih atas pandangan-pandangan awal tentang prediksi
2010. Sambil menunggu Pak Risman dan lain-lainnya, saya tertarik dengan
konsep 'sustainability' itu, yang kalau boleh saya perbandingkan dengan
kota-kota sekitarnya. Pertama Toli-toli, waktu saya kunjungi memang seluruh
bukit-bukit dipenuhi oleh pohon cengkeh, saya perkirakan telah berjaya sejak
masa Hindia Belanda, dan tidak termasuk dalam politik kora-kora. Jadi memang
era Belanda dulu (abad 19), Maluku dikerdilkan supaya Sulawesi bisa tumbuh.
Hanya konsep 'sustainability' di Toli-toli ini saya agak prihatin: 1) ketika
panen cengkeh tiba, justru tenaga kerja pemetik datang dari arah Sulut,
dengan kata lain 'masyarakat setempat' hanya menikmati hasilnya saja dan
menjadi tidak kreatif; 2) ada alternatif baru yaitu tanaman coklat sebagai
'pengisi', dan ini juga menjadi tidak kreatif, yaitu sekedar tanam, panen,
dan kirim bijinya ke Surabaya; 3) potensi yang lain adalah sapi, sangat
banyak di sepanjang Trans Sulawesi, namun aneh kita tidak pernah mendengar
'sapi Sulawesi' di Jakarta waktu hari qurban, atau potensi ini dapat diikuti
dengan 'industri' pengalengan dll. Jadi kata kunci 'sustainability'
seharusnya berlanjut dengan 'industri'.

Kedua adalah kasus Bitung, saya kunjungi hampir 20 tahun yang lalu. Masih
sepi, saat itu Bimoli baru mulai beroperasi. Jadi kalau saya duga Bitung
ditumbuhkan oleh Bimoli. Aneh, karena di sekitar itu sedikit sekali
perkebunan kelapa sawit. Atau semata mengandalkan kemampuan 'kelapa'? Jadi
Bitung dimulai dengan 'industri', dan bertumbuh seperti sekarang ini.

Untuk kasus Gorontalo yang bapak sampaikan, memang saat ini bertumbuh
sebagai 'kawasan pertanian', dan andalannya 'jagung'. Mungkin ini, nasib
sustainability dari jagung, apakah sebagai komoditi mentah ataukah akan
diolah? Saya kira ini yang bapak resahkan dengan 'kelanjutan program-nya
Fadel', apakah demikian?

Sementara demikian dulu pak. Salam.
-ekadj



2010/1/27 Hannie Waworoentoe <[email protected]>

>
>
>  Walaupun sekarang ini saya sudah menyampaikan posting yang kedua yang
> mula-mula saya arahkan khusus kepada moderator Eka, dan rekan narasumber
> Risman, saya merasa bahwa posting pertama itu 'jatuh diantara dua kursi'
> (it might ...have fallen between two chairs) atau memang tidak mendapat
> response, sehingga rasanya saya memberi semacam 'self inflicted comment'
> suatu komentar untuk menghibur diri sendiri (jadi juga semacam 'selfpity')
> ......But let me stop this    nonsense,  and proceed further .
>
> Sebaiknya saya memberikan semacam groundlevel impressions about post
> Fadelian Gorontalo (untuk mereka yang tidak tahu, Fadel adalah gubernur
> pertama propinsi Gorontalo yang dewasa ini telah duduk dalam kabinet SBJ,
> sebagai menteri Kelautan )  Nah tadinya saya mengira bahwa Fadel telah
> meninggalkan Gorontalo dalam kondisi yang cukup intact (utuh) tanpa utang
> atau hidden agendas. Tapi rupanya perubahan  atau peralihan itu tidak bisa
> seamless atau smooth. Terlampau gegabah jikalau kini sudah kami berikan
> verdict atau keputusan bahwa masa ke gubernuran Fadel itu tanpa cacat
> samasekali. On the contrary, proses 'changing of the guard ' itu sedikitnya
> agak gegabah atau tidak diduga sehingga at the most  ada perasaan bahwa
> proses pergantian itu kurang dipersiapkan (hal mana memang tidak mungkin,
> oleh karena setiap keputusan politik itu selalu datangnya tiba-tiba . Namun
> sukar juga kita tafsirkan bahwa Fadel itu sengaja sudah meninggalkan suatu
> 'bom waktu'
> Maka dalam konteks futurologi tantangan 2010,  beberapa dugaan dapat kami
> rumuskan untuk masa depan gorontalo:
> Pertama  dapat kita kemukakan bahwa  development boost yang dimulai pada
> masa Fadel mungkin masih akan memerlukan semacam sustainability, sehingga
> pertanyaan berikut adalah bagaimana  sustainability itu dapat atau harus
> dijamin
> Kedua barangkali sudah dapat kita susun semacam silabus untuk masa post
> Fadel itu. Secara sistimatis maka sudah dapat kita identifikas unsur-unsur
> yang pasti harus kita selenggarakan , serta hal hala manakah yang harus kita
> elak.
> Ketiga sudah dapat kita perkirakan hal-hal yang pasti masih akan berlanjut
> dimasa depan, ini semacam kelanjutan implikasi sejarah
> Yang terakhir adalah pertimbangan tentang  skenario yang paling masuk akal
>   (most likely scenarios)
> Secara khusus dapat pula kita tafsirkan kemungkinan perkembangan untuk kota
> serta walikota  Gorontalo sendiri.  Perkembangan ibu kota Gorontalo
> sedikitnya akan mempunyai ciri ciri  metropolitan, yang jelas terimplikasi
> dalam luas wilayah urban nya, serta threshold fungsionalnya secara
> demografis.
>
> Sebaiknya saya masih anggap pandangan diatas sebagai tentative, terutama
> karena masih memerlukan verifikasi, seperti dalam vernakuler praktek
> kedokteran   second and third opinions.
> Salam internet! dari Pak Wawo
>
>  ------------------------------
> *From:* Hannie Waworoentoe <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Tue, January 26, 2010 5:10:01 PM
> *Subject:* Re: [futurologi] Tantangan 2010
>
>
>
>  Eka dan Risman,
> Mungkin ini cuma berita yang jatuh dari langit virtual, tapi sekarang saya
> di sebuah warnet di Gorontalo yah memang kl 'those backwaters' yang kini
> sudah agak jauh dari mainstream atau arus utama di jakarta. Well this needs
> some explanation, tapi untuk rekan-rekan yang lain mungkin agak menjemukan.
> Well let me put it this way, about 300 years ago the Dutch or maybe also
> some other nations started to have an eye on what we now call the Teluk
> Tomini, or de Tomini bocht, secara geografis itu suatu teluk yang besar
> mulai dari Sulut dengan pulau Nusa Utara Sangir Talaud terus ke selatan
> lewat Tanjung Flesko ke Gorontalo, kerajaan tua Bualemo yang ada hubungan
> dengan Ternate, lalu terus lagi Poso dan Ampana, ke Luwuk Banggai, well this
> si quite a mouthful, tapi kebetulan wilayah ini sangat baik dikaji dan
> dipelajari oleh David Henley dalam bukunya Food, Fertility and Fever, well
> sebetulnya demographic history dari wilayah besar ini. Nah lalu saya jadikan
> obyek ini sebagai perhjatian kontemporer saya, I might spend some 6 to 8
> months or perhaps less on this old developed area. Cuma seluruhnya saya
> lakukan on a shostring pakai kendaraan umum seperti Damri. Well if you like
> to find out  more about my travelogue, I might prepare something but I will
> not promise anything in any media. Sementara ini it is still a very very
> crazy idea of an 80 yer old man. Salam dari Gorontalo.
>
>  ------------------------------
> *From:* - ekadj <4ek...@gmail. com>
> *To:* futurol...@yahoogro ups.com
>
> *Sent:* Wed, January 20, 2010 10:06:56 AM
> *Subject:* [futurologi] Tantangan 2010
>
>
>
> Pak Risman dan Pak ATA ysh.
> Memang perkembangan kondisi saat ini sudah sedemikian luar biasa, terutama
> akibat demokratisasi dan transparansi, walau dalam beberapa hal juga tidak
> diterapkan dengan betul. Saya melihat tidak semua pihak paham dengan situasi
> ini, lebih karena masih digunakannya paradigma lama; atau ini kita sering
> sebut sebagai perlambatan proses reformasi. Bila reformasi ingin berjalan
> lancar, kita perlu 10 tahun lagi, jadi sudah melewati satu generasi. Jadi
> memang lebih menyangkut pada persoalan 'orang' (baca: mentalitas), bukan
> 'sistem'.
>
> Mengenai fenomena baru konstruksi vs konstruksi, seperti terlihat dalam
> pengungkapan beberapa kasus hukum belakangan ini, sangat kentara
> pertentangannya. Butuh stamina dan urat syaraf yang kuat untuk menjalaninya.
> Memang adu panco, dan tidak ada hitungan untung-rugi. Seharusnya disikapi
> secara bijak. Dalam banyak kasus pembangunan, konstruksi vs konstruksi sudah
> berlangsung cukup lama, namun tidak disadari, selalu merasa bisa diatasi,
> dengan menambah amunisi, dana, platform, resource, dll. Namun dengan mulai
> biasanya trend ini, dan kesadaran mulai meluas, maka gaya ini akan membuat
> segala effort menjadi sia-sia dalam jangka menengah. Namun pemegang
> paradigma lama akan selalu membangun kesempatan dan terobosan, sangat
> tipikal pemikir konstruktif: membangun trend baru, punya dukungan power, dan
> merasa memiliki resource yang berkelimpahan.
>
> Mengenai dekonstruksi, hanya bisa dilakukan pada tingkat kesadaran yang
> tinggi. Namun sebagai konsep, siapa saja bisa melakukan. Namun bila tidak
> populer akan disebut sebagai teknologi daur-ulang atau teknologi pemulung,
> dan sangat berlawanan dengan pemikiran konstruktif. Jadi perlu sentuhan
> maestro yang berbakat. Dalam pandangan saya, akan sukses 3 tahun lagi. Jadi
> benar penerawangan bapak-bapak berdua, tahun 2010 ini cukup destruktif.
> Namun dapat menjadi platform bagi tumbuhnya pemikiran baru, atau seorang
> teman saya mengatakan: World 2.0.
>
> Saya cukupkan demikian dulu pak. Salam.
>
> -ekadj
>
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com <[email protected]>>
> Date: 2010/1/19
> Subject: Re: [referensi] Tantangan 2010
> To: refere...@yahoogrou ps.com <[email protected]>
>
>
> Rekans ysh,
>
> Mengenai "back office"....saya jadi teringat fungsi FEUI sebagai
> "think-tank" para menteri ekonomi tahun 1970-an....
>
> Mengenai "konstruksi vs konstruksi, "anti konstruksi" dll ...saya jadi
> teringat "dekonstruksi" ...mendestruksi yang mapan dan merekonstruksi dengan
> nyawa baru....
>
> Wass,
> ATA
>
>
> 2010/1/19 R Maris <par...@indo. net.id <[email protected]>>
>
>
>>
>> Yth Pak Mod, teman-teman,
>> Mendukung penuh fungsi back-office, penggiatan produksi hardcopy, annuals
>> maupun accidentals; mungkin dengan gaya gurita cikeas, saya akan borong
>> beberapa puluh copies terlebih dahulu, mana nomor rekening Pak Moris?
>> Katalog dari terbitan yang sudah tersedia?
>> Selanjutnya mengenai tiga komentar Pak Mod.
>> Setuju baru ada 'sense' revolusi. Agaknya saya terpengaruh sentimentalitas
>> kalangan gaek saja yang rata-rata mengalami gencetan otak selama 32 tahun
>> dengan klimaksnya harus  hidup di 'Indonesian Dark Ages' [dasawarsa1990-
>> 2000]. Jadi merasa sangat terkejut dan terpana ketika tiba-tiba bangsa besar
>> ini memutuskan berpaling kepada Habibie (ratusan perundangan dalam 2 tahun;
>> transparansi demokrasi barat) dan Abdurrachman Wahid (paradigma baru
>> kekuasaan; tindakan-tindakan seorang commander-in- chief sejati). Mulai 2004
>> semakin tertanam reformasi kultural itu. Orang gaek melihatnya sesuatu yang
>> terjadi secepat kilat. Pak Mod menjelaskan, tata caranya lebih canggih,
>> justru konstruksi lawan konstruksi. Konstruksi Hasta Brata dilawan gigih
>> dengan konstruksi Pancasila.
>> Kiranya dari dunia penataan ruangpun selama 2000-2010 terjadi an all-out
>> effort mengemukakan sesuatu konstruksi. Menghasilkan pengamatan, bahwa pada
>> 2010 ini penggarapan perlu lebih terfokus pada konstruksi hak dan kewajiban
>> rieel Bupati/Walikota; sementara langkah-langkah sektoral disinkronkan
>> melalui optimasi rencana maupun penetapan kriteria pencapaian Tujuan dan
>> spesifikasi Sasaran.
>> Menangkap point no 5, Koperasi, kiranya akan terlihat semakin tegaknya
>> "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, di depan Hukum" di persada Pertiwi.
>> Begitulah kira-kira tata membaca 15 tonggak dari peta-lintasan (roadmap)
>> yang dikonstruksi melalui Abdunnomics ini: tantangannya adalah bagaimana
>> mengungkap, jauh di dasar kultur, norma berbangsa yang membentuk jaringan
>> kuat kesatuan ummah dari seluruh pemukim di Indonesia.
>> Jika sudah kenal Tujuan, lebih mudahlah menjabarkan Tindakan.
>> Jika bertindak dalam suasana revolusioner, jangan hitung-hitung untung
>> rugi.
>>
>> Wassalam,
>> Risman Maris
>>
>> On Jan 17, 2010, at 8:56 AM, ffekadj wrote:
>>
>>   Pak Risman ysh, sayang sekali kemarin tidak sempat hadir. Padahal saya
>> ingin mengembangkan diskusi tentang satu istilah yang bapak lemparkan Kamis
>> sore itu, yaitu 'back office'. Ketika rekan-rekan mendiskusikan beberapa
>> program seperti jejaring dan annual book itu, saya sudah merasakan kalau
>> milis dan komunitas Referensi ini sudah diperlakukan sebagai 'a back
>> office'. Saya ingin tanggapi tiga hal dari wejangan bapak sbb.
>>
>> Mengenai 'suasana revolusioner' pada kondisi saat ini, saya kira baru
>> 'sense' saja pak. Namun memang ada hal yang baru dalam kondisi perpolitikan
>> yaitu 'tindakan terkonstruksi' sekarang sudah dihadapi juga dengan 'tindakan
>> terkonstruksi' lainnya. Jadi konstruksi vs konstruksi. Sangat rentan
>> berlangsung pada fenomena hukum; namun sebenarnya juga rawan akan menjalar
>> pada berbagai kegiatan yang mengandalkan 'konstruksi' lainnya, terutama
>> legal drafting, planning, designing, dst. Malah yang dikhawatirkan utilizing
>> dan controlling juga terbangun dan berjalan secara konstruktif juga. Jadi
>> hal ini menjadi perhatian bagi kita, agar hati-hati bermain konstruksi,
>> selain akan ada reaksi anti-konstruksi juga kemungkinan akan dilawan dengan
>> 'tindakan konstruksi' lainnya. Demikian kira-kira kata Dunia.
>>
>> Kedua mengenai evaluasi 10 tahun terakhir dan pemrograman jangka paling
>> pendek (2010). Harus diakui kita hanya bergerak di tataran kebijakan saja,
>> dan belum menstimulus sektor riil. Dengan kata lain ini sebenarnya merupakan
>> pukulan (bukan lagi tantangan) bagi dua pemegang 'menara kebenaran' (menurut
>> persepsi Harya <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10726>):
>> menara emas dan menara gading. Bila Pak Risman menawarkan titik 2010 sebagai
>> titik perubahan, maka sudah saatnya tidak bergenit-ria, dan sungguh berat
>> beban itu ditanggung oleh generasi sekarang ini.
>>
>> Ketiga, dari 15 subyek yang bapak tawarkan, terus terang saya hanya mampu
>> menangkap point nomor 5, yaitu sesuatu yang bapak lambangkan sebagai
>> 'koperasi'. Sungguh betul, begitulah keadaannya sekarang ini pak.
>>
>> Sementara demikian dulu pak. Salam.
>>
>> -ekadj
>>
>>
>> --- In [email protected], R Maris <par...@...> wrote:
>> >
>> > Yth Pak Mod, cucuku Panpan, teman-teman,
>> > Bertepatan ingin kopi darat, gigi sakit sehingga batal ikut, harap
>> dimaafkan.
>> > Membuka tahun baru 2010, sangat penting menyadari apa yang sebenarnya
>> tengah terjadi, di arena politik-perekonomia n dan politik-sosial
>> kemasyarakatan. Tidak kurang, suatu suasana revolusioner!
>> > Jalannya dibuka terutama oleh berbagai tindakan dan alam pikiran Gus Dur
>> semasa menjabat Presiden RI. Saat itu saya sadur bebas saja ke dalam
>> "Abdunnomics" , yang lengkapnya dapat dibaca di Files milis ini.
>> > Pada tahun 2000 itu kiprah Gus Dur membangkitkan kembali berbagai
>> harapan dan semangat pada suatu bangsa yang baru saja sadar betapa terpuruk
>> martabatnya. Harapan-harapan itu jika disarikan akan berbentuk berbagai
>> perubahan drastis aturan main, antara lain pada 15 subjek berikut:
>> > ………………………………………………………………………………
>> > Langkah-langkah Jangka Pendek dan Menengah
>> >
>> > "Abdunnomics" , Jakarta 5 Agustus 2000
>> >
>> > 1. Pejabat Negara (MPR, Eksekutip, DPR, MA): didukung dengan kecukupan
>> yang pantas bagi datuk-datuk negara dan bangsa
>>
>>
>
>  
>

Kirim email ke