Pak Djarot ysh.

Kalau saya perhatikan, fenomenologi banyak dimanfaatkan dalam psikologi
dan arsitektur. Kalau dalam khazanah sistem tradisional sepertinya
ditempatkan sebagai kebatinan. Dan 'pendekatan fenomenologis' yang
memiliki penganut terbesar sebenarnya ada dalam tasawwuf, dengan guru
besarnya adalah Al Ghazali, dan kitabnya yang populer adalah Ihya
Ulumuddin.

Pak ATA saya kira mendalami Heidegger, termasuk pastinya banyak rekan di
milis ini. Satu catatan yang saya miliki tentang Heidegger ini adalah
konsep 'kebenaran', yang merupakan 'ke-ada-an' (aletheia) dan sekaligus
tersimpan 'ke-tersembunyi-an' (lethe). Struktur hakiki dari ke-ada-an
disebut 'existentialia', yaitu interaksi praksis manusia dengan benda
disertai suatu sikap tertentu terhadap dirinya sendiri dan sesama
manusia. 'Dasein' menunjuk kepada manusia yang disifatkan sebagai suatu
'eksistensi' dan 'berada di dunia'. Menurut Heidegger, 'ada' itu terbuka
dan sudah ada dalam 'ada' (being, sein) dan waktu (time, ziet), atau
keberadaan dalam kerangka temporalitas. Pikiran dan bahasa adalah ruang
tempat terjadinya peristiwa 'ada'. Dasar ontologis Heidegger adalah
bahwa situasi kita dan horizon yang kita tempati mempunyai masa lalu dan
masa depannya sendiri yang terpisah dari diri kita dan realitas yang
akan kita pahami. Pemahaman dipandang oleh Heidegger sebagai suatu
proses ontologis, yang senantiasa berada dalam suatu jaringan hubungan
yang sudah memiliki makna.

Saya kira cukup membingungkan, apalagi kalau mau diterapkan meneliti
Trowulan. Mudah-mudahan ada yang mau menjelaskan lebih baik pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:

Pak Eko dan sahabats,

Disertasi Pak Bondan banyak menggunakan data dari arkeologi, sedangkan
studi teman saya itu adalah tentang Situs Trowulan dalam dimensi
kekinian, yang didekati dengan paradigma fenomenologi Heidegger, bukan
Husserl seperri yang sudah saya inspirasikan dalam diskusi-diskusi kita.
Saya sendiri belum banyak mengetahui bagaimana fenomenologi Heidegger,
yang jelas menurut seorang nara sumber lebih ke arah "fenomenologi
epustemologis" daripada "fenomenologi ontologis". Intinya, jika Husserl
bersemboyan kepada "kembali ke obyek" maka Heidegger justru "kembali ke
subyek" dalam arti pelaku fenomena Trowulan dalam kekinian. Fenomenologi
jenis kedua ini konon lebih mendalam dan lebih manusiawi daripada yang
biasanya saya ceritakan.

Barangkali dari studi itu kita tidak banyak berharap tentang bagaimana
kota Majapahit di Trowulan di masa lalu, karena lebih berusaha menangkap
makna kota Majapahit itu dalam situasi masa kini dengan konteks yang
baru. Sumbangan teorinya mungkin pada bagaimana menata situs-situs kota
lama dalam konteks kekinian dan masa depan. Fenomenologi ini rasa saya
lebih sulit daripada yang biasa kita perbincangkan. Teman saya sangat
menikmati studinya yang katanya akan membawa kita kepada pemahaman
fenomena secara sangat mendalam dan manusiawi.....

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com <http://realmwk.wordpress.com>  [Blog Resmi
MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 2/1/10, Eko B K ekobu...@... wrote:

From: Eko B K ekobu...@...
Subject: Re: [referensi] Belajar dr kota2 Nusantara (was Re: Tantangan
2010)
To: [email protected]
Date: Monday, February 1, 2010, 3:24 PM

Pak ATA, Pak Djarot, Uda Eka, dan rekan2 ysh.,

Memang menarik menelusuri jejak sejarah lokasi sebuah kota seperti yg
diungkapkan Pak ATA... Saya tidak tahu banyak ttg kota kuno Aceh dan
lokasi spesifiknya, hanya mengutip dari sebuah bahan sejarah... Tapi
memang walaupun beberapa kota memiliki kesamaan karakteristik lokasi
(tidak persis di tepi pantai, agak menjorok ke daratan yg dilalui
sungai) namun alasan spesifiknya mungkin unik... utk Paris dan London
misalkan, keduanya berkembang karena menjadi basis pasukan Romawi, jadi
pemilihan lokasinya yg tdk persis di tepi pantai juga karena
pertimbangan militer, umumnya karena utk pertahanan dari serangan
Viking... Saya tidak tahu pertimbangan apa dlm pemilihan lokasi
Majapahit (di tepi Brantas) atau Sriwijaya,  atau apakah sebelumnya
kota Aceh juga telah mengalami Tsunami ketika telah menjadi pusat
permukiman? Dan ini tentu sulit mengingat sumber sejarah yg sangat
terbatas, hanya Negarakertagama utk Majapahit, sedangkan Sriwijaya
bahkan masih dlm perdebatan sejarawan apakah lokasinya di Palembang atau
Jambi, walau sejarah resmi di sekolah2 kita mengacu yg Palembang...

Sumber lainnya mungkin dari arkeologi, seperti yg digunakan oleh kawan
Pak Djarot utk Majapahit...

Kesulitan masalah data inilah yg menyebabkan kita banyak menoleh ke
Barat sebagai studi awal, yg jg tdk salah karena disiplin ilmunya
sendiri berasal dr sana... secara historik, kota2 Eropa sejak lama telah
memiliki peta2, demikian juga Asia Timur, walaupun alasannya lebih utk
pertahanan.. .

Kalau kita lihat juga, peta2 lama kota2 kuno Indonesia rata2 berasal
dari tahun 1600 an, yg digambar oleh orang2 "Barat"...

Akhirnya utk hal ini mau tidak mau kita sangat bergantung pd
perkembangan disiplin lain: sejarah dan arkeologi, misalkan, yg memiliki
metode
penelitian spesifik utk dapat menentukan arsip mana yg memiliki tingkat
kepercayaan lebih tinggi, dan bagaimana mengintepretasi bahan2 yg ada...
sehingga mau tidak mau, bagaimana planner Indonesia dpt belajar dr
sejarah kota2 Nusantara, kita perlu menunggu hasil dr rekan2 sejarawan
dan arkeolog...

salam...

--- En date de : Dim 31.1.10, Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> a
écrit :

De: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com>
Objet: Re: [referensi] Belajar dr kota2 Nusantara (was Re: Tantangan
2010)
À: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Dimanche 31 Janvier 2010, 8h29


Pak Eko tentang kota masa Hindu barangkali hanya ada satu yang masih
bisa dilacak, yaitu kota Majapahit di Trowulan. Saya pernah latihan
mengamati tanda-tanda fisik bagaikan arkeolog di Trowulan sekitar tahun
1997, yaitu memperhatikan batu-batu dan panel-panel yang masih ada
dengan menggunakan referensi Bali untuk membaca bagaimana pola
permukiman di Trowulan masa lampau. Pola kotanya grid sudah banyak
ditetahui dan saya menemukan alur bata rumah-rumah juga sejajar dengan
grid kotanya.

Sekarang ada satu disertasi tentang pola kota Majapahit di Trowulan itu,
ditulis oleh Dr. Bondan Hermanislamet. Teman saya juga sedang menulis
Trowulan dengan fenomenologi
Heidegger... .sekian dulu ya.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sun, 1/31/10, Eko B K ekobu...@yahoo. com> wrote:

From: Eko B K ekobu...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Belajar dr kota2 Nusantara (was Re: Tantangan 2010)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, January 31, 2010, 1:28 PM

Pak Djarot dan rekan2 ysh,

Memang menarik mempelajari kota2 Nusantara masa kedatangan Islam hingga
awal datangnya bangsa2 Eropa... sayangnya utk masa Hindu Buddha kita
tidak memiliki banyak catatan... mungkin banyak juga manfaat yg bisa
kita dapat dr sana khususnya utk pengembangan kota2 kecil-menengah,
karena ukuran kotanya msh relevan...

Tapi memang betul juga yg disampaikan Pak ATA ttg konteks ruang dan
waktu... mungkin banyak konsep2 perencanaan kota masa itu yg cocok utk
menyelesaikan masalah masa itu, tidak sekrg... apalagi kalau kita
kaitkan dgn bentuk pemerintahan (kerajaan), jumlah penduduk (belum ada
metropolitan) , teknologi kesehatan
(sanitasi perkotaan yg sederhana/buruk) , teknologi transportasi (msh pd
jalan kaki dan naik kuda), agama (yg Hindu beda dgn yg Islam), dst...

Tapi tentu ada yg bisa kita pelajari dr sana seperti kota
kuno Aceh (Achien/Achen) masa itu yg terkenal hijau, penuh dgn hutan
kelapa, bambu, nanas, pisang, dll. dgn sungai yg indah dan dipenuhi
kapal2... kota2 Nusantara yg rusak karena imigran dr Asia Timur dan
kemudian Eropa membangun kampung2 padat dgn rumah2 dr batu, tanpa
pepohonan, panas, mengakibatkan banjir, dst..

Tapi membangun kota2 seperti itu saat ini tentu tergantung dr regulasi
pertanahan, daya beli masyarakat, sistem perekonomian yg saat ini
dibangun berlandaskan kapitalisme (bukan berarti buruk, hanya berbeda),
kemampuan institusi publik dan jenis institusinya yg berbeda, dst...

mohon pencerahan.. .

salam...


Kirim email ke