Setahun sudah Jakarta menjadi kota militer. Betapa tidak? Lihatlah, nyaris di sepanjang jalan terlihat serdadu siap tempur dengan menggendong SS-1 (FNC) atau M-16. Air muka mereka tampak berlipat-lipat karena perasaan lelah, rindu keluarga, sampai menunggu musuh datang bergabung menjadi satu.
Di beberapa ruas jalan protokol ditutup paksa. Tentara memang dilatih untuk merusak. Tidaklah heran penutupan jalan mengakibatkan jalan buangan yang pada hari-hari normal terasa macet makin mapet-pet alias seperti show room mobil bekas. Tidak ada antisipasi petugas untuk mengatur lalu lintas secara manual, karena yah itu tadi...tentara dilatih untuk merusak.
Saya jadi makin gemes saja kepada para petinggi TNI yang tidak menjalankan core business -nya yaitu pertahanan negara. Mengapa mesti ikut-ikutan main politik? Inilah akibatnya. TNI makin buruk citranya. Coba kalau TNI menjalankan bisnis intinya....nggak ada hujatan kepada TNI. Nggak ada yang namanya penjahat perang (melawan rakyat sendiri).
Saya juga jadi ingat Letkol Oliver North dalam kasus Iran-Contra. Sukar sekali membuktikan kesalahannya lewat jalur pengadilan, karena ia memang serdadu yang hanya menjalankan perintah. Yang terkena jeratan hukum adalah aktor politiknya seperti Richard Pointdexter. Oleh karena melindungi Reagan akhirnya North dijadikan bidak untuk menanggungnya dengan hukuman kerja sosial.
Jika pada akhirnya terpilih presiden yang kuat (???) sangat boleh jadi para petinggi TNI akan menjadi penjahat perang karena turut serta dalam sirkus politik. Para petinggi TNI ini, kalau memang si presiden ini berani, harus dijerat bukan sebagai TNI, tetapi sebagai individu yang menggunakan seragamnya untuk menakut-nakuti rakyat.
Jujur saja, jika terjadi bentrokan ada korban dari TNI, saya tidak menyesalinya karena memang bisnis TNI bukan memerangi rakyat dan bermain politik serta kesombongan mereka sendiri. Tengoklah di beberapa komplek perumahan militer. Selalu dijumpai peringatan "HATI-HATI, KOMPLEK ABRI". Nah...ini artinya orang sipil jangan macem-macem kepada TNI. Peringatan ini 'kan sama esensinya dengan "HATI-HATI, ADA ANJING GALAK".
Kapan yah Jakarta diserbu oleh pasukan asing...biar para serdadu itu punya musuh betulan?
Wassalam,
Efron
