PM Shimon Peres pernah berkata, 1985, memata-matai AS bertentangan dengan kebijaksanaan negaranya. Sejumlah pejabat Israel lainnya menyatakan nada yang sama. Masyarakat dunia pun seperti percaya saja mengingat hubungan erat keduanya yang sudah menjadi opini global. Namun belum lama seorang mantan anggota Kongres, Paul Findley, dalam karya tulisnya membantah dengan gamblang. Melalui sejumlah temuannya, ternyata selama puluhan tahun, Israel telah memata- matai AS. The Washington Post mengupasnya, sejumlah agen intelijen Israel menawarkan para pegawai pemerintah dalam upaya memperoleh informasi yang sensitif. Diperkuat The Walstreet Journal (1992), Baltimore Sun (1986), Los Angeles Times (1986), dan New York Times" (1986). Laporan CIA setebal 47 halaman melaporkannya, Israel : Foreign Intelligence and Security Service (1979). Dokumen ini ditemukan oleh kelompok militan yang menduduki kedubes AS di Taheran. Meskipun Israel meragukannya, tetapi sejumlah pejabat AS mengiyakannya. Menurut laporan tersebut, orang-orang Israel mengerahkan sebagian besar dari operasi tersamarnya untuk memperoleh rahasia intelijen, ilmiah maupun tehnis, termasuk usaha menyusup ke dalam berbagai proyek pertahanan rahasia tertentu di AS, malah sejumlah negara barat lainnya. Sementara diberitakan, sepanjang periode 1960-1970, FBI dan kontra intelijen militer melancarkan sebuah program Scope untuk mencegah Israel merekrut orang-orang AS untuk mencuri teknologi canggih. Ini mencakup penyadapan/pengawasan yang bersifat elektronik terhadap kedubes Israel. Sejak itu, Victor Ostrovsky, mantan agen intelijen Israel dalam bukunya mengungkapkan, dalam tahun 1990 Israel menempatkan puluhan agen Mossad (divisi intelijen super rahasia : AL). Mereka aktif merekrut, mengorganisasi, dan melaksanakan aktivitas-aktivitas tersamar, terutama di New York dan Washington yang dianggap mereka sebagai tempat bermain sehari-hari. Sambungnya, Israel mempengaruhi Kongres dengan mempengaruhi para ajudan Yahudi. Informasi lainnya mengungkapkan, dalam periode 1960-1980 terdapat puluhan penyelidik resmi AS yang bekerja untuk kepentingan Israel. Negara-negara Arab merupakan sasaran inlijen utamanya. Prioritas berikutnya segala keputusan rahasia AS yang berkaitan dengan timur tengah dan negara berkembang. Dihukumnya mata-mata Israel kelahiran AS, Jonathan J. Pollard (1987) merupakan bukti terkuat, bagaimana negeri itu melawan sekutunya terkuat. Ia bersama istrinya, Anne Hendersen Pollard, mengaku salah telah bertindak mata-mata. Selama 18 bulan keduanya mencuri ratusan dokumen, termasuk di antaranya yang sangat rahasia, yang sebagiannya masing-masing berisi 100 halaman. Umumnya berupa riset analitis : tehnik, foto satelit, dan grafik. Dokumen lainnya tentang posisi kapal perang, taktik angkatan laut, dan operasi latihan AS. Selain itu, kiat AS mengumpulkan informasi, termasuk mendeteksi para agen yang bekerja untuk AS. Saking besarnya dokumen yang terambil, sehingga memerlukan hampir 4 milyar $ untuk mengoreksi sistim keamanan dan menetralisir berbagai operasi yang sudah diketahui pihak luar (Israel). Sedangkan kolumnis, Seymour Hersh, menganggap keduanya sebagai mata-mata nuklir Israel pertama. Mereka telah menyampaikan sasaran nuklir AS kepada dinas intelijen Israel. Melihat itu semua, nggak heranlah bila presiden pertama AS George Washington pernah mengeluhkan sikap berbagai negara yang kurang mewaspadai kaum Yahudi yang dianggapnya seratus kali berbahaya dibandingkan tentara penjajah (Inggris). Kehadiran mereka, sambungnya, bila dibiarkan akan menyulitkan AS saja di kemudian hari. Sikap kurang ajar terhadap AS bukan itu saja. Dalam hubungannya dengan Afrika Selatan (saat diperintah oleh rezim Apartheid), Israel pun bersikap mendua, khususnya terhadap anggota AS berkulit hitam. Meskipun PBB mengembargo senjata ke Afrika Selatan (1977) Israel malah sebaliknya. Sehingga membuat marah anggota Kongres Nasional Black Caucus. Ketika PM Yitzhak Shamir mengunjungi Washington, 1988, mereka menyerahkan surat, AS menyediakan 1,5 milyar $ untuk pengembangan pesawat tempur Levi. Tetapi kami mengetahui, para insinyur Israel mengambil manfaat dari bantuan itu untuk Afrika Selatan. Kami anggap ini sebagai tindakan yang tidak bermoral. Salam, Nasrullah Idris -------------------- Sumber antara lain : "Diplomasi Munafik Ala Yahudi" (Paul Findley)
