Bulan lalu, saya ingat banyak yang menyatakan bahwa gerakan mahasiswa
tanggal 10 November dan diikuti oleh tragedi semanggi akan bisa menjatuhkan
militer dan Prez Habibie. Sebagian bahkan menyatakan bahwa wibawa
Wiranto sudah jatuh dan dia juga akan siap dipaksa mundur. Tapi sampai
sekarang kita lihat bahwa ia masih tetap di atas, dan justru oposisi Indonesia
yang semakin terpecah.

Tujuh bulan sudah berlalu sejak mundurnya M. Suharto dari kursi presiden.
Satu bulan sudah berlalu sejak sidang istimewa MPR, dan terlihat bahwa
gerakan oposisi bukan semakin menguat, tapi melemah. Ini fenomena
yang menarik, mengingat bahwa gabungan oposisi dan kekacauan keadaan
berhasil memaksa mundur salah satu orang terkuat di Asia tenggara.
Namun, apakah yang terjadi setelah itu? Walau kepalanya di potong, tapi
seperti hydra di cerita Herkules, mendadak dari lehernya muncul 2 kepala
baru, 4, dst; dan akhirnya ada banyak sekali kepala baru, dimana yang satu
bawa lolipop, satu lagi bawa buku, satu lagi bawa taring, dst.... (mulai
ngawur....) Singkatnya, kedudukan pemerintah Habibie bukan semakin
lemah, malahan menguat dan sebaliknya oposisi yang semakin melemah,
kehabisan tenaga memotong semua kepala, dan masalahnya juga oposisi
sendiri sudah kehilangan visi dan fokusnya....

Memang sejak dulu pemerintahan Orde Baru berhasil memecah belah
oposisi. Tak seperti Philipina dimana 'People Power' merupakan gerakan
spontan yang terpusat dan menghancurkan dinasti Marcos sampai keakar-
akarnya, dan bersatu membentuk pemerintahan baru, di Indonesia oposisi
tak bisa memberi alternatif. Faktanya, justru oposisi di Indonesia cenderung
bersifat oportunis dan hanya menggunakan gelombang massa yang terkadang
bersifat spontanitas. Permasalahannya adalah: oposisi Indonesia cenderung
tidak bersifat 'grassroot.'

Kenapa sampai sekarang gerakan mahasiswa dan oposisi belum sukses?
Saya tak ragu akan tekad dan niat mahasiswa dan oposisi untuk melakukan
reformasi dan perubahan secara menyeluruh di dunia politik Indonesia
yang memang sudah diwarnai oleh KKN. Namun dari gerakan mahasiswa
dan oposisi itu, sayangnya yang kurang adalah ide tentang 'what next.'

Siapakah yang diwakili oleh oposisi? Oposisi menyatakan bahwa mereka
mewakili seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaannya adalah: rakyat yang mana?
Apakah yang diwakili adalah yang radikal, preman-preman, perampok, perusuh,
atau rakyat di pinggir yang sudah terhantam habis oleh krisis ekonomi?
Sebagian besar kaum oposisi saya lihat hanya mewakili kepentingan mereka
yang sempit dibandingkan kepentingan seluruh rakyat Indonesia yang beragam.
Gerakan-gerakan oposisi yang hanya mewakili satu kepentingan seperti
agama, kepentingan, suku, ras, golongan, dst tak akan bisa secara efektif
mewakili seluruh rakyat Indonesia dan secara otomatis justru akan terpecah.
Sampai sekarang, tujuan mahasiswa dan oposisi adalah reformasi. Tapi arti
dari reformasi itu sendiri sangatlah luas dan tidak specifik dan tak ada yang
setuju pada satu arti. Selain itu, seberapa jauh reformasi harus dilakukan?

Terpecahnya oposisi terlihat secara jelas di media: Amien Rais VS Gus Dur,
pendukung ICMI vs non-ICMI; demonstrasi mahasiswa di Jakarta dikecam.
Semua itu memberikan alternatif yang mengerikan bagi semua golongan.
Kaum pengusaha yang sudah bosan dengan keadaan chaos di Indonesia
ingin kembali ke keadaan stabil dimana ekonomi bisa kembali berjalan,
petani yang kelaparan dan tak ada gabah dan pupuk untuk menanam,
PHK, angka kejahatan tinggi, dst; apakah semua itu dilihat oleh kaum
oposisi di Indonesia? Lihat ke kiri dan ke kanan, ke semua kehancuran
akibat krisis ekonomi di Indonesia. Berbicara rhetorik seperti 'partai anu
terlalu radikal, atau partai ini terlalu pro pemerintah,' dst tak akan
membantu
Indonesia. Sebaliknya oposisi perlu bersatu agar suara mereka bisa
didengar rakyat.
DI sisi lain, kita juga lihat gerakan-gerakan mahasiswa di luar negeri yang
mendukung reformasi dan mengutuk tragedi semanggi. Ini merupakan
fenomena yang baik, yakni para mahasiswa di Amerika ataupun di Eropa
tetap peduli terhadap nasib bangsa dan negara. Namun, saya sangat ragu
bahwa protes saja bisa menyelesaikan masalah.

Jika oposisi ingin kembali di dengar suaranya oleh seluruh rakyat,
sudah saatnya kaum oposisi bergabung dan menempatkan kepentingan
bangsa diatas kepentingan pribadi. Kaum oposisi perlu lebih bersikap
sebagai kaum reformis yang mau menempatkan kepentingan seluruh
rakyat diatas kepentingan pribadi dan golongan, sehingga memberikan
kredibilitas pada gerakan-gerakan mereka. Kalau kaum oposisi tetap
bersikap seperti sekarang ini, Indonesia tak akan pernah bisa survive.
Bahkan gerakan oposisi sendiri mungkin bisa hancur.

Peristiwa-peristiwa besar di dunia membuktikan bahwa kalau kaum
oposisi terpecah gerakan reformasi tak akan berakhir dengan bahagia....

YS




*************************************
**             WAR IS PEACE              **
**     FREEDOM IS SLAVERY       **
** IGNORANCE IS STRENGTH  **
*************************************

WHO CONTROLS THE PAST CONTROLS THE FUTURE;
WHO CONTROLS THE PRESENT CONTROLS THE PAST

Kirim email ke