Assalamualaikum Wr.Wb
Sedikit perkenalan dengan profil Presiden Partai Keadilan yang saya
dapat dari seorang rekan.
Selamat membaca......:)
Wassalam
Mohamad Rosadi
>From [EMAIL PROTECTED] Fri Jan 15 13:59:32 1999
>Received: from gwis2.circ.gwu.edu ([EMAIL PROTECTED]
[128.164.127.252])
> by gwillbe.circ.gwu.edu (8.9.1a/8.9.1) with ESMTP id RAA01623;
> Fri, 15 Jan 1999 17:01:16 -0500 (EST)
>Received: from gwis2.circ.gwu.edu (felix [128.164.9.3])
> by gwis2.circ.gwu.edu (8.8.8/8.8.8) with ESMTP id QAA08533;
> Fri, 15 Jan 1999 16:55:04 -0500 (EST)
>Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Fri, 15 Jan 1999 16:59:50 -0500
>From: Priyo Pujiwasono <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>Organization: Engineering Management - George Washington University
>X-Mailer: Mozilla 4.03 [en] (Win95; I)
>MIME-Version: 1.0
>To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
>Subject: PRESIDEN PARTAI KEADILAN
>Content-Type: text/plain; charset=us-ascii
>Content-Transfer-Encoding: 7bit
>
>Kompas: 01/16/99 NAPER...
>
>NUR MAHMUDI ISMAIL TENTANG KERUKUNAN.
>
>SEBELUM meninggal dunia tahun 1975, sang ayah sempat menitipkan pesan
>pada anak-anaknya, "Yang rukun...."
>Pesan sederhana ini sangat membekas dalam diri Dr Nur Mahmudi Ismail
>MSc
>(37), anak ketujuh dari delapan bersaudara.
> Dulu, pesan itu dilontarkan ayahnya karena
>almarhum sering melihat bagaimana keluarga maupun
>masyarakat cekcok gara-gara urusan warisan.
>Kini, ketika Nur Mahmudi mulai menggeluti
>dunia politik,sebagai Presiden Partai Keadilan, ia
>merasakan makna pesan itu menjadi sangat relevan. "Pesan itu
>kini membekas pada diri saya tentang bagaimana
>berinteraksi dengan masyarakat. Bahwa
>landasan kerukunan itu memang lebih penting dari yang
>lain,"katanya.
>
> Nama pria ramah yang berperawakan agak gemuk
>ini,sebelumnya hampir tak terdengar di panggung
>politik.
>Namun sejak ia berkiprah di Partai Keadilan,
>sosoknya mulai menjadi sorotan. Banyak yang terkesan
>oleh pernyataan maupun pikiran-pikirannya yang
>dinilai inklusif,khususnya mengenai bagaimana Partai Keadilan
>yang berasaskan Islam ini menempatkan diri dalam
>percaturan politik di Indonesia.
Partai berlambang kabah dengan gambar dua
>bulan sabit mengarah ke kanan dan ke kiri itu, populer di
>kalangan kaum muda dan kampus-kampus. Berbeda dengan
>sejumlah partai yang memasang tokoh-tokoh
>"lama dan punya nama" dalam susunan DPP nya, hampir
>seluruh pengurus Partai Keadilan adalah muka-muka
>baru. Mereka sebagian besar anak muda, dan
>rata-rata belum pernah berkecimpung di dunia politik. Yang
>juga mencolok, hampir seluruh pengurus DPP-nya
>bertitel sarjana sampai doktor.
>"Jalur kita para intelektual yang mau
>berpikir tentang nasib bangsa. Memang benar, basis kita
>kebanyakan dari lembaga-lembaga pendidikan. Namun,
>mereka itu banyak yang berasal dari masyarakat bawah.
>Mereka adalah orang-orang biasa yang sebelumnya
>memiliki interaksi di tataran masyarakat bawah.
>Sehingga, mereka kini memperoleh respons yang cukup banyak
>dari kalangan itu. Seperti kalangan buruh,
>pesantren-pesantren," kata Nur Mahmudi.
>Nur Mahmudi mengakui, pada awalnya ia banyak
>memperoleh pertanyaan yang bernadakan
>kecurigaan tentang arah perjuangan partainya.
>"Kami sering membuat imbauan untuk tidak
>memplot-plotkan partai, yang membuat kita
>sepertinya tidak bisa bermitra. Ini membuat saya
>gregetan. (Kecurigaan) itu wujud dari orang yang tidak
>pernah memperhatikan kualitas agama. Karena selama
>Orde Baru orang dikebiri untuk melihat kualitas
>agama secara formal dan rasional. Saya katakan, begitu
>mudahnya orang terprovokasi membakar rumah ibadah,
>karena tidak memahami ajaran agama dengan baik. Bagi
>saya,ini bukti keperluan kita berpolitik dengan
>landasan agama. Kita juga mengharapkan hal serupa
>kepada partai agama lain untuk menggunakan agama
>sebagai moral force. Silakan, agar rakyat dan bangsa
>ini bermoral dan berakhlak," katanya.
>Menurut pria kelahiran Kediri, 11 November
>1961 itu,setelah melakukan interaksi dengan
>anggota-anggota Partai Keadilan, ataupun setelah membaca
>ulasan-ulasannya di berbagai media, umumnya
>pihak-pihak yang awalnya "mencurigai" Partai
>Keadilan, kemudian menjadi paham. "Dan itu sudah
>terbukti. Ada anggota baru kami yang non-muslim, yaitu dari
>Kristen dan Buddha. Ini membuktikan bahwa itikad kami
>adalah berpartisipasi membangun bangsa yang sudah
> porak-poranda," ujarnya.
>Berkali-kali ia menekankan, paradigma yang
>digunakan Partai Keadilan adalah, menganggap mitra
>partai mana pun yang akan ikut pemilu. "Sehingga kita
>tidak kaget sewaktu berhadapan dengan mereka. Dan
>kalaupun kita memiliki pendekatan yang berbeda, itu hanya
>soal timing saja kita bisa bertemu."
>
> ***
>
>NUR Mahmudi tumbuh dari keluarga petani, di
>Mranggen,Kecamatan Purwosari, Kediri. "Kami hidup dari
>tanah warisan seluas 3,5 hektar. Ayah dan Ibu saya
>bukan termasuk yang berpendidikan tinggi. Mereka
>tidak lulus SD. Maklumlah zaman Belanda," tuturnya.
>>Meski begitu, kedua orangtuanya sangat
>menekankan pentingnya bekal pendidikan. "Almarhum bapak
>saya sering mengatakan, beliau akan berusaha
>semampunya untuk menyekolahkan saya, karena beliau tidak
>memiliki harta untuk diwariskan," lanjutnya.
>Nur memang terpacu untuk meraih pendidikan
>setinggi-tingginya. Dari biodata dirinya,
>bisa dilihat betapa ia "lengket" dengan aneka aktivitas
>dan gelar akademis. Ia meraih gelar sarjana di IPB
>tahun 1984, lalu bekerja di Badan Pengkajian Penerapan
>Teknologi (BPPT).
>"Saya memilih BPPT karena kerja sebagai
>Korpri dulu agak saya benci, banyak peraturannya,
>termasuk janji-janji. Saya lalu menghadap Pak AM
>Satari (Guru Besar Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor -
>Red). Saya katakan bahwa saya termasuk orang yang benci
>terhadap peraturan yang membuat orang tidak merasa
>merdeka. Jawaban beliau, kalau Anda ingin merdeka,
>BPPT adalah tempatnya. Di situ Anda mengerjakan
>penelitian, Anda laporkan, dan semua itu dikerjakan sendiri,"
>katanya. Di BPPT lah Nur memperoleh kesempatan untuk
>melanjutkan studinya, dan meraih gelar MSc
>bidang Food and Science Technology di Texas A&M
>University, AS. Ia lulus dengan predikat cum laude. Nur lalu
>meraih gelar doktor di universitas yang sama, juga dengan
>predikat cum laude. Ia juga memiliki sederet
>pengalaman sebagai pembicara dalam berbagai seminar mengenai
>teknologi pangan. Apakah ia gamang begitu terjun ke panggung
>politik yang saat ini justru sedang gonjang-ganjing?
>"Secara prinsip tidak, karena kejadian-kejadian yang ada
>sekarang ini sudah ada sejak zaman Orba," katanya. Nur
>bahkan mengaku cukup enjoy dengan aktivitasnya saat
>ini. "Saya merasa inilah kehidupan. Kelanjutan dunia
>akademik itu memang ada di politik," tegasnya.
>Sewaktu menjadi mahasiswa, Nur dikenal
>sebagai teman yang pendiam. Dia jarang nimbrung dalam
>acara-acara yang diadakan teman-temannya, seperti
>perayaan ulang tahun misalnya. "Bagaimana ya... sebenarnya
>mau-mau saja. Tetapi kadang saya berpikir, (itu)
>kurang landasan akhlak yang dimunculkan, sehingga membuat
>saya enggan. Dalam olahraga, saya juga tidak
>memilih renang tetapi sepak bola," kata Nur yang semasa
>mahasiswa aktif dalam kegiatan masjid kampus.
>Khusus soal perayaan ulang tahun, ia secara
>pribadi menolaknya. "Saya tidak bicara ini dari soal
>agama. Tapi menurut saya di situ ada suasana pengkultusan
>dan mengarah pada kesombongan. Sehingga istri
>maupun anak-anak saya tidak merayakan ulang tahun,"
>tegasnya. Ada pengalaman yang membekas pada dirinya.
>"Anda bisa merasakan, di kala orang tidak punya
>harta, kemudian dia dipoyoki (diledek -Red) nggak
>ulang tahun.Itu yang saya alami. Saya itu hidup di tengah
>rakyat miskin. Dan itu efeknya berat," katanya.
>Ia juga mengaku tidak senang dengan kebiasaan
>para karyawan yang mengumpulkan uang ramai-ramai
>setelah menerima gaji, lalu kemudian dipakai untuk
>makan-makan atau bentuk hura-hura lainnya.
>"Di situ ada suasana tekanan, nggak enak kalau nggak
>begitu. Saya menginginkan orang itu hidup tanpa ikatan
>hutang budi,"katanya.
>Nur Mahmudi menikah dengan Nur Azizah Tahid
>MA, pengajar di Institut Ilmu Alquran Jakarta,
>November 1986.Pasangan ini dikaruniai tiga anak, Ahmad
>Syihan Ismail (11), Faathimah Mahmudi (8) dan Abiir Mahmudi
>(4). "Waktu itu saya menyampaikan niat saya pada
>teman bahwa saya ingin berkeluarga, dan saya
>gambarkan idola saya. Saya lalu diperkenalkan dengan calon
>istri saya. Tentu saya mengevaluasi dulu, dia pun
>demikian. Dia itu tepat menurut kaca mata fikih saya," kata Nur
>tentang istrinya. (myr/atk)
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com