Betapa bahagianya kita melihat bukti bahwa provokator yang bermodalkan
uang dan dendam tidak bisa mengadu domba kita-kita yang beragama. Jika
KH Ali Yafie bilang Islam dan Kristen adalah perdamaian dan kasih,
mudah-mudahan simbol itu bisa kita jaga dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab.
peace.

Andrew G Pattiwael wrote:
>
> Sejak perang rakyat maluku melawan penjajahan yang dipimpin oleh
> Thomas "Kapitan Pattimura" Matulessy, negeri kristen (saparua, nusa laut,
> ambon dan seram) telah mengikat persaudaraan dengan negeri islam (Haruku)
> Persaudaraan ini telah diikat oleh darah perjuangan yang menetes dari
> para pahlawan yang gugur dalam perang bersama Kapitan Besar Pattimura dan
> Sultan Nuku dari Ternate, Pejuang -pejuang Tidore dan kapitan-kapitan dari Negeri 
>Jolo.
> Karena persaudaraan ini juga lah yang telah menyatukan pembentukan
> propinsi tunggal Maluku, yang terdiri dari Ternate/ Tidore (Maluku Utara
> /Halmahera), Seram dan Ambon (Maluku Tengah) dan Kepulauan Tanimbar
> (Maluku Selatan)
> Walau maluku pernah diterpa oleh perjuangan kemerdekaan Maluku Selatan
> yang bernaung dibawah dukungan Belanda, Berkat perlindungan Tuhan sajalah
> Maluku masih ditakdirkan untuk bersatu, bukti sumpah yang diucapkan oleh
> para pejuang Pattimura dan Kristina Martha Tiyahahu masih terus
> berdengung di dalam darah setiap rakyat Maluku.
>
> Bagi yang dari Maluku, terus berdoa agar Tuhan melindungi Tanah Manise
> dari roh-roh kegelapan.
>
> Tuhan, lindungi tanah air beta
>
> Andrew Pattiwael
>
> *************************************************************************
> Korban Kerusuhan Ambon Jadi 37 Nyawa
>
>  Salat Jumat Dijaga Pemuda Kristen
>
>  AMBON - Umat Islam di Ambon kemarin melaksanakan salat Jumat dengan aman
> di
>  sejumlah masjid, setelah mendapat bantuan penjagaan pemuda dari Angkatan
> Muda
>  Gereja Protestan Maluku (GPM).
>
>  Pemandangan itu sungguh menyejukkan hati, mengingat beberapa hari
> terakhir ini
>  tidak pernah dijumpai kerukunan seperti itu, sehubungan dengan kerusuhan
> yang
>  mengarah SARA sejak Selasa (19/1) sore hingga Kamis malam.
>
>  Di Masjid Daarun Na'im, Desa Wayame, Kecamatan Baguala, beberapa sudut
> jalan
>  menuju masjid dijaga ketat anggota Angkatan Muda GPM. Namun masjid
>  berkapasitas 600 orang itu hanya terisi seperempatnya, karena masih
> banyak warga
>  yang takut mendapat serangan mendadak dari pihak lain.
>
>  Sementara itu, masih banyak warga muslim yang terpaksa meninggalkan
> kewajiban
>  ibadahnya, karena berada di tempat penampungan pengungsi markas tentara
> Kompi
>  C Batalyon Infantri 733.
>
>  Khatib Ahmad Zaki dalam kotbahnya mengajak umat Islam kembali kepada
>  semangat ukhuwah islamiah (persaudaraan sesama muslim) dan tidak mudah
>  terpecah belah. Dia juga mengingatkan kebiasaan umat Islam untuk saling
> tolong
>  menolong, dan jangan bermusuhan terhadap siapa pun, baik yang seiman
> maupun
>  tidak.
>
>  Kerusuhan yang mengarah ke SARA itu berawal ketika sopir angkutan umum
>  bernama Jopie Saiya (30), warga Desa Batumerah Atas, berselisih dengan
> sejumlah
>  pemuda Batumerah Bawah. Perselisihan yang bermula dari pemerasan itu
> membuat
>  Jopie memanggil teman-teman sedesanya untuk menyerbu Desa Batumerah
> Bawah,
>  sehingga menimbulkan pertengkaran.
>
>  Hingga kemarin sore, aparat keamanan sudah berhasil mengendalikan
> situasi kota
>  Ambon. Hal itu juga tidak terlepas dari upaya Gubernur Saleh Latuconsina
> serta
>  pimpinan agama setempat, yang menggunakan pendekatan adat dan keagamaan
>  kepada masyarakat di Ibu Kota Maluku tersebut.
>
>  37 Tewas
>
>  Korban tewas akibat kerusuhan di Ambon kini menjadi 37 orang. Ini belum
> termasuk
>  enam mayat yang ditemukan di Dusun Batubulang, Kelurahan Batugajah, yang
> belum
>  dilaporkan. Sedangkan korban luka berat 39 orang.
>
>  ''Jadi jumlah korban diperkirakan bertambah, karena diduga ada sejumlah
> mayat
>  terkurung di bawah bangunan-bangunan runtuh akibat pertikaian di
> Batubulang,
>  Kamis (21/1) sekitar pukul 09.00 WIT,'' kata Kapolda Maluku Kolonel Pol
> Drs Karyono
>  S kemarin.
>
>  Bahkan, tambahnya, jumlah korban yang tewas itu pun belum termasuk dua
> orang
>  lainnya di Sanana, Kabupaten Maluku Utara, yang dilanda kerusuhan Rabu
> lalu.
>  Kerusuhan juga merambat ke Piru, Maluku Tengah, yang menyebabkan dua unit
>  tempat ibadah terbakar.
>
>  ''Saya pun memprihatinkan kondisi ini, karena dalam kerusuhan di Ambon
> selama
>  empat hari ini tercatat tiga personel Polri luka berat, dan seorang lagi
> menjalani
>  opname di rumah sakit,'' tandasnya.
>
>  Kerusuhan di Ambon ini mengakibatkan terbakarnya 189 unit rumah, 19
> mobil, 11
>  sepeda motor, 200 becak, 82 unit kios, tiga lokasi pasar, dan 13 rumah
> ibadah, dua
>  kantor bank, sebuah penginapan, dan sebuah gedung bioskop.
>
>  Kapolda menambahkan, kerusuhan itu pun mengakibatkan sedikitnya 20.619
> warga
>  mengungsi ke berbagai instalasi militer, tempat ibadah, dan fasilitas
> sosial lainnya.
>
>  Bendera RMS
>
>  Pada bagian lain, Kapolda mengaku belum pernah menerima laporan bahwa
>  bendera Republik Maluku Selatan (RMS) berkibar di Ambon. ''Sejak
> kerusuhan
>  berdarah di Ambon, saya belum pernah mendengar laporan adanya pengibaran
>  bendera RMS. Tapi kalau isu itu benar, kami tidak tahu siapa pelakunya
> dan di mana
>  bendera itu dikibarkan,'' kilahnya.
>
>  Rumor itu berawal dari pemberitaan sebuah stasiun televisi swasta di
> Jakarta, yang
>  menerangkan selama terjadi kerusuhan sejak Selasa petang hingga Kamis
> malam,
>  telah terjadi pengibaran bendera RMS.
>
>  Dalam penayangan acara televisi swasta itu dilakukan wawancara dengan
> salah satu
>  tokoh pemuda di Jakarta. Tokoh itu mengaku menerima kabar dari
> saudaranya di
>  Ambon bahwa di mana-mana telah dikibarkan bendera RMS.
>
>  Kapolda yang didampingi Kadispen Mayor Pol Philipis Jekriel mengatakan,
> sejauh
>  ini aparat keamanan memang disibukkan melakukan pengamaman serta
>  mengevakuasi ribuan penduduk sipil ke instalasi-instalasi militer.
> Tetapi mereka tak
>  pernah menemukan bendera lain yang berkibar selain bendera Merah Putih
> pada
>  beberapa perkantoran.
>
>  Menyangkut permintaan tokoh masyarakat dan tokoh agama agar aparat
> keamanan
>  menindak tegas dan menghukum berat provokator yang memperuncing situasi,
>  Kapolda mengatakan, tetap berupaya menindak lanjutinya.
>
>  Mengenai sistem dan cara kerja intelejen dalam mendeteksi timbulnya
> kerusuhan
>  yang besar, dia menjelaskan, tidak ada masalah. Namun masih menjadi
> tanda tanya
>  kerusuhan di Ambon berlangsung dalam waktu yang cepat.
>
>  ''Sebenarnya, informasi pertama yang dihimpun intelejen menyebutkan
> kerusuhan itu
>  bakal terjadi sebelum Idul Fitri 1419 H. Tetapi tidak terbukti, mungkin
> dengan
>  pertimbangan penghormatan hari besar umat Islam. Tapi kerusuhan justru
> meletus
>  pada hari pertama Lebaran. Ini sangat mengejutkan.'' (ant-48t)

Kirim email ke