Berbicara mengenai isolationist atau pergaulan terbatas dapat mengambil
contoh dari kehidupan sehari-hari yang terjadi di tanah air ataupun yang
terjadi pada para pelajar indonesia di amerika serikat.
contoh yang cukup bagus adalah pergaulan terbatas yang sering terlihat di
kalangan keturunan, ada keturunan yang hanya bergaul dengan sesama
keturunan, ada keturunan yang bergaul dengan sesama pemilik usaha yang
bergerak dalam bidang yang sama, ada pula keturunan yang hanya bergaul
dengan keluarganya saja.
Kenapa dan mengapa pergaulan terbatas ini terjadi ? mari kita bahas
bacaan berikut ini...
Contoh yang cukup menarik, sering saya lihat selama
bergaul dengan anak-anak indonesia yang bersekolah di amerika sini, adalah pergaulan
terbatas mereka yg hanya bergaul dengan sesama anak indonesia
Ini bukan hanya sering tapi sudah keseringan.. entah karena sekolah saya
terdapat lebih dari 30-an indonesia, atau memangnya saya yang Kuper dalam
arti kurang pergaulan dengan mayoritas amerikanya.
Persamaan bahasa dan kebudayaan dapat menjadi pengikat untuk pergaulan
terbatas ini. Saya lebih luwes berbicara dengan minoritas asal indonesia
ini daripada dengan para mayoritas amerika-nya. teman-teman indo lebih
mengerti kalau saya berbicara dan mereka lebih respon thd tanggapan saya.
Kalau berbicara dengan amerika-nya, terkadang jadi malu (salah satu ciri
indonesia, cepat malu) karena takut salah bicara atau bahasa inggrisnya
belepotan. Kadang berbicara dengan mereka tidak nyambung. Kultur mereka
juga berbeda dengan kultur saya, dari pergaulan sosial mereka yang
terkadang insulting contohnya mabok, sex bebas etc....
Walau tidak semua Amerika seperti ini.
bukan hanya para mahasiswa-mahasiswa indonya yang sering berkumpul
menjadi satu, tetapi juga para mahasiswa-mahasiswa asing lainnya.
Coba tengok mahasiswa-mahasiswa asal korea, jepang, malaysia dll.
Mereka juga bergaul dengan sesama mereka. Bahkan yang black pun hanya
bergaul dengan sesama mereka. Yang white pun bergaul dengan mereka saja.
Tetapi ini hanya beberapa bagian saja.. banyak juga yang sudah mulai
dapat berasimilasi dengan kultur yang berbeda.

nah, begitu juga kan kalau kita menjadi minoritas di tempat yang
mayoritasnya berbeda, tentunya kita akan langsung merasa harus membentuk
suatu kelompok yang sebenarnya hanyalah pelarian kita saja dari ketakutan
atas kesendirian kita yang akhirnya menjurus kearah eksklusifness..

contoh anak-anak permias, ini kan juga suatu isolasi dan ekslusif, dimana
orang indonesia yang sekolah di amerika bergabung menjadi satu, dan
membentuk organisasi pelajar indonesia. Anggota-anggota permias, tolong
jangan diambil serius, saya hanya ingin memberi contoh.
Tidak ada kan, atau saya belum pernah dengar kalau ada orang amerika yang
menjadi anggota permias. Karena selain namanya juga perkumpulan mahasiswa
indonesia di as juga karena tujuan utama pembentukan organisasi ini juga
hanya untuk pelajar indonesia.

(pantesan saja bhs inggris gua kaga bagus-bagus, habis bicara bahasa
indonesia mulu, gaul ama orang indonesia mulu....kata tante gua....)

Jadi merupakan suatu yang lumrah bila para keturunan merasa lebih nyaman
untuk bergaul dengan sesama keturunan. Ini hanyalah merupakan perasaan
keamanan dan ketentraman bagi mereka. Seperti kita yang di sini merasa
nyaman bila berdekatan dengan sesama orang indo.

Memang pergaulan terbatas ini banyak dipandang oleh masyarakat indonesia
pada umumnya sebagai suatu penghalang bagi kaum keturunan untuk menjadi
satu dengan seluruh orang indonesia. Apalagi dengan situasi politik akhir
akhir ini, malah menambah keruwetan dan ketidak percayaan para keturunan
kepada pribuminya.

Solusi memang banyak, dan salah satu yang cukup menarik adalah perkawinan
campur antar golongan, mungkin perkawinan antar pribumi dan keturunan.
Tetapi tentu akan membawa dampak yang lainnya, seperti dampak perkawinan
campur antar kristen dan islam, yang sering terjadi adalah fundamental
clashed yang menjurus pada perceraian dan kebingungan sang anak kepada
agama mana yang harus diikuti, apalagi kalau kedua orang tua bersikeras
pada ajaran-ajarannya masing-masing. Namun juga banyak yang harus
merekalakan untuk mengikuti ajaran sang suami atau sang isteri.

yang terjadi di amerika, sang anak dibebaskan untuk memilih ajaran agama
mana yang mereka inginkan. Dan  freedom of Liberty ini cukup adil menurut
saya.

maaf terlalu panjang, hanya ingin menambahkan mata pembicaraan saja...

salam permias@

andrew pattiwael

Kirim email ke