Masih gondrong mas. Mumpung belum balik jadi PNS, gondrong sedikit
membuat perasaan lebih enak :)
> Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote:
>
> Kalo mau objektif lagi, sebenernya jarang sekali dijumpai adanya
> penolakan terhadap keturunan Cina di masyarakat. Tengoklah, nyaris di
> setiap ibukota kabupaten ada warga keturunan Cina. Kehadiran mereka
> sedikit-banyak menggairahkan roda ekonomi setempat. Kalo pada akhirnya
> ada tekanan terhadap mereka...ini yang saya nggak tahu selain berpikir
> pasti ada yang ngompori.
>
> Eh...bai de wei...Cer, elu rambutnya masih gondrong nggak?
>
> Wassalam,
> Efron
>
> -----Original Message-----
> From: Blucer Rajagukguk [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, 25 January, 1999 05:56
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: UMPTN (was RE: Pemimpin politik ... dst. ... dst.
> ...)
>
> Soal keturunan Cina dianak-tirikan di UMPTN itu saya kira bukan
> selentingan, tetapi tertulis jelas di satu aturan. Sama seperti aturan
>
> keturunan Cina masuk PNS atau ABRI. Aneh?? Lucu? Enggak juga. Memang
> kita sendiri yang membuat jurang. Keadaan dan kondisi yang ada
> memperdalam dan memperlebar jurang tsb.
> Hanya sekedar pemikiran:
> Bisakah kita menerima keturunan Cina seperti kita menerima keturunan
> Arab, keturunan Spanyol, keturunan Jerman dan keturunan bangsa asing
> lainnya.
> Bukankah sebagian besar dari kita berasal dari Yunan Selatan?
> Bukankah agama mengajarkan bahwa kita keturunan Adam dan Hawa?
> Bukankah kita satu keturunan? Bukankah semua manusia diciptakan oleh
> Tuhan yang sama?
> No offense just a thought.
>
> Peace
>
> > Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote:
> >
> > Mahasiswa yang berkuliah di PTN berbangga bahwa dirinya merupakan
> > manusia pilihan tidak perlu disiniskan. Sedikitnya 80% mahasiswa di
> > PTN memang hasil tes (entah namanya SKALU, PP1, Sipenmaru, UMPTN,
> > dll.). Sisanya lewat PP2/PMDK/PBUD. Memang ada yang diterima lewat
> > luar jalur tsb., namun jumlahnya dapat diabaikan. Paling banter 5%.
> Di
> > DPR jumlah ini akan kalah telak kalo voting.
> >
> > Nah, yang di luar jalur itu bentuknya macem-macem.
> >
> > 1. Anak kandung dosen PTN bersangkutan. Ini ada seperti aturan tak
>
> > tertulis. Biasanya orang tua (dosen) menulis surat resmi kepada
>
> > rektor.
> > 2. "Utusan Daerah". Memang ada. Contoh: ada satu teman angkatan
> > kuliah saya yang dikirim dari Timtim, yang walaupun teman saya
> > itu nggak tahu yang namanya "antre" dan nggak bisa membedakan
> > antara "albino" dan "idiot". Jelas sekali penerimaan ini karena
>
> > politis.
> > 3. Anak pejabat. Yang ini saya duga sedikit sekali, karena banyak
> > juga anak pejabat yang "mental".
> > 4. "Lewat joki". Kalo yang ini kayaknya lebih banyak daripada yang
>
> > lewat nomor tiga. Saya juga pernah menjadi joki tahun 1987.
> > 5. Nggak tahu.
> >
> > Kalo selentingan tentang pembatasan kaum WNI keturunan kayaknya
> emang
> > ada benernya. Beberapa dosen senior saya mengiyakan isu itu.
> Alasannya
> > sangat sederhana.....karena mereka umumnya dari keluarga berada,
> jadi
> > bisa mengambil bukan yang negeri atau bahkan luar negeri. Jadi kalo
> > ada bisa nembus tes, biasanya juga mahasiswa tersebut sangat pintar,
>
> > karena seleksinya sangat ketat.
> >
> > Wassalam,
> > Efron
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Indra Adrisudiro [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Friday, 22 January, 1999 08:53
> > To: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: UMPTN (was RE: Pemimpin politik ... dst. ... dst.
> ...)
> >
> > Fakta menunjukkan:
> >
> > (1) Mahasiswa diterima di PTN
> > * via UMPTN (dengan kriteria-kriteria tertentu)
> > * via KKN (bokapnye jendral, bos Bank BNI,
> > etc.)
> > (2) Beasiswa S1, S2, S3, S4, dst. di BPPT, Bappenas,
> > dll.
> > * via seleksi murni (benar-benar kompetisi)
> > * via KKN
> >
> > Nah sekarang nggak usah ribut nyari siapa yang bener
> > dan siapa yang salah. Sebenarnya yang jelas-jelas
> > salah adalah nggak adanya aturan main yang jelas.
> > Seandainya pun ada, sanksi atas penyelewengan aturan
> > mainnya yang nggak ada.
> >
> > Karena pemerintahan yang sekarang nggak bisa diarepin
> > merubah aturan main yang sudah terlanjur berlaku.
> > Mudah-mudahan "Indonesia: The Next Generation" bisa
> > memasukkan aturan main ini ke dalam UU, Keppres, atau
> > apalah namanya.
> >
> > Intinya: saya ingin melihat Indonesia suatu saat punya
> > hukum atau aturan tentang Equal Opportunity
> > Institution (Company, University, etc.) regardless of
> > race, sex, sex opinion, sex affiliation, disability,
> > religion, shape of body, age, etc. (tambahin sendiri
> > deh). Jadi kalau bisa 100% rekrutmen (beasiswa,
> > karyawan, etc.) didasarkan atas merit, dan bukan atas
> > alasan/kriteria yang dibuat-buat.
> >
> > :-)
> >
> > PS: I don't really agree to Affirmative Action Plan,
> > soalnya kok kesannya golongan minoritas minta
> > dikasihani.
> >
> > _________________________________________________________
> > DO YOU YAHOO!?
> > Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com