Sebenarnya point yang ingin saya sampaikan adalah: "

"SEHARUSNYA SETIAP PARTAI/CALON PRESIDEN MENGUNGKAPKAN PROGRAM KERJA SERTA
PRIORITAS-PRIORITASNYA SECARA TRANSPARAN."

Biar para pemilih bisa menentukan pilihannya berdasarkan program kerjanya,
bukan karena yang lainnya.

Tetapi, karena disamping susah nyari tulisan dengan topic yang sama persis
dengan persoalan di atas, juga karena promosi (kampanye) Pak Amien berikut
cukup menarik untuk dibaca, maka tulisannya saya forwardkan.

Menarik, karena yang diungkapkan berhubungan cukup erat dengan
diskusi-diskusi yang berlangsung akhir-akhir ini, mulai dari

1. Konsep Ekonomi dan Politik untuk menanggulangi krisis.
2. Solusi permasalahan SARA
     - Kesempatan berkarier bagi Etnis Tionghoa baik dalam pemerintahan
       maupun dalam ABRI/
     - Permasalahan Pri - NonPri.
     - Permasalahan krisis karena kesukuan serta agama.
3. Menanggulangi kerusuhan-kerusuhan akhir-akhir ini terutama para
   provokatornya.
4. Sampai dengan masalah Referendum permasalahan Timor-Timur.
5. Kalau ada yang terlewat.

------------------------------------------------------------------------
http://www.jawapos.co.id

Amien: Etnis Cina Silakan Masuk ABRI

Bila Jadi Presiden, Pakai Model Ekonomi Mandela

Singapura, JP.-

Ketika massanya di Partai Amanat Nasional (PAN) kemarin melakukan protes
di Jakarta, Prof Dr H M. Amien Rais berceramah ''kampanye'' di Singapura.
Bila terpilih sebagai presiden, katanya, dia akan menghapus politik rasial
terhadap etnis minoritas Cina.

''Bila Tuhan memang menghendaki saya menjadi presiden Indonesia mendatang,
saya akan berusaha mengakhiri diskriminasi itu di negara saya,'' kata
ketua PAN ini di hadapan forum kajian Institute of Defense and Strategic
Studies.

Wujud nyata penghapusan kebijakan rasial itu adalah tidak lagi
mengharamkan masuknya etnis Cina ke kabinet. Bahkan, di tubuh ABRI
sekalipun. ''Bila saya menjadi presiden, saya akan menempatkan beberapa
pemimpin Cina di keanggotaan kabinet serta mendorong mereka (etnis Cina)
masuk ABRI,'' tandasnya.

Amien mengatakan ''janji'' itu sebagai jawaban atas pertanyaan Mr Tommy
Koh, Dubes keliling Singapura. Koh mengajukan rasa prihatinnya itu
mewakili masyarakat mayoritas Cina di Singapura atas berbagai aksi
kekerasan yang menimpa etnis Cina, khususnya kalangan pengusaha, di
Indonesia.

Menurut Amien, memberikan kesempatan lebih luas kepada etnis Cina untuk
berpartisipasi di masyarakat bisa mengurangi tendensi mereka memonopoli
dunia bisnis.

''Saya seorang muslim dan sangat mempercayai agama saya. Dalam kitab suci
Alquran, manusia itu satu, tidak memandang apa warna kulit kita, bahasa
apa yang kita ucapkan, dan agama apa yang kita peluk,'' papar mantan ketua
PP Muhammadiyah itu.

Karena itu, lanjut dosen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini, dirinya
akan berusaha pula menghapus predikat nonpribumi bagi keturunan Cina.
Amien menegaskan, setiap orang yang kakeknya lahir di Indonesia sudah
sepenuhnya menjadi warga negara Indonesia.

Dia mengecam para pendukung keluarga mantan Presiden Soeharto yang
dinilainya sengaja menciptakan kerusuhan antaragama dan etnis di
Indonesia. Tujuannya, kata Amien, tidak lain menciptakan peluang bagi
militer untuk meraih kekuasaan. Amien juga menyalahkan militer Indonesia
yang tidak menangkap mereka yang selama ini dinilai sebagai provokator
kerusuhan di beberapa wilayah Indonesia belakangan ini.

Soal pemilu 7 Juni mendatang, Amien berpendapat, sangat tidak
menguntungkan siapa pun dan kelompok mana pun untuk menunda
atau menggagalkan pelaksanaan pemilu itu. Juga, pemilihan presiden yang
dijadwalkan berlangsung November nanti. Bila waktu yang sudah ditentukan
itu tidak bisa dipenuhi, ingat Amien, maka tidak hanya mahasiswa, rakyat
juga akan marah.

Tetapi, lanjut Amien, ''Tidak ada jaminan bahwa pemerintahan baru yang
terpilih secara sah itu mampu mengatasi masalah perekonomian kami yang
begitu sulit dan rumit.''

Karena itu, Amien mengatakan bahwa kebijakan ekonomi partainya bakal
berdasarkan model ekonomi Afrika Selatan (Afsel). Tepatnya, perekonomian
setelah Nelson Mandela terpilih sebagai presiden Afsel menyusul rontoknya
penindasan rezim apartheid minoritas kulit putih yang mendominasi
perekonomian dan politik.

Menurut Amien, setelah berkuasa, pemerintahan Mandela tidak semena-mena
menghentikan konglomerasi besar, melainkan lebih pada mengaturnya agar
mereka bisa beroperasi secara fair. Pada saat bersamaan, pemerintahan
Mandela juga memberlakukan kebijakan membangun usaha kecil dan memperbaiki
kehidupan kaum miskin.

Lalu, soal Timor Timur (Timtim), Amien kembali mengatakan bahwa referendum
merupakan pilihan yang tepat bagi rakyat Timtim. Biarlah mereka menentukan
nasibnya sendiri, bergabung penuh atau pisah dari Negara Kesatuan
Indonesia.

Tetapi, ingat Amien, referendum itu harus dilakukan bertahap. ''Emosional
hanya akan menyulut perang sipil,'' tandasnya. (ap/sol)

Kirim email ke