Wah, Usul-nya bagus tuh rekan Hadeer...., thanks!
Sayapun sebetulnya setuju bahwa mengapa kita
tidak mau memaafkan orang yang pernah khilaf ?
Kalau maaf sih, sebagai umat beragama pasti kita
berikan, iya ngga ? Tapi kalau kesalahan politik
atau perbuatan menyengsarakan rakyat, kelihatannya
agak susah untuk di'lupa'-kan atau di 'tipp-ex'.
Hanya menurut saya agak susah untuk dijalankan 100%.
Kenapa? Coba saja kita bayangkan seandainya seorang
bekas Menteri jaman Orba dan ex Pimpinan Golkar,
tiba-tiba membuat partai baru dan mencalonkan diri
menjadi Presiden dan berkoar akan memeprjuangkan
kepentingan Rakyat banyak demi keadilan dan kemakmuran ??
Bisa bayangkan apa komentar dari Masyarakat luas ?
Jadi kalau menurut saya : "Hanya sejarah, waktu dan
alam yang bisa mengganti jargon ORANG LAMA menjadi
ORANG BERSIH.
Salam,
bRidWaN
PS : Anda belum menjawab apakah saya harus
memanggil Bung atau Mbak ??.......:)
-------------------------------------------------------
At 15:29 26/01/99 +0700, Hadeer wrote:
> USUL :
>
> Gimana kalo untuk selanjutnya jargon Orang-orang Lama
> diganti dengan Orang-orang BERSIH.
>
> Bisa sajakan ada orang "baru" yang "kotor"....atau
> ada orang "lama" yang "bersih"... :-)
> Kaya'nya lebih enak ya pake istilah/jargon Orang-Orang
> Bersih....dech
>
> Gimana Bang Bridwan....setuju?.....nah nanti tinggal
> mendefinisikan orang bersih itu seperti apa....
> Jangan - jangan saya juga nggak masuk ke orang yang
> bersih....he...he.....
>
> Smile
|>bRidWaN wrote:
|>
|>> Secara gamblang dapat disimpulkan bahwa calon
|>> Pemimpin masa depan kita haruslah orang yang
|>> 'bersih', sehingga akanlah aneh apabila ada
|>> Partai baru yang masih (atau akan) menjagokan
|>> Orang Lama yang jelas-jelas terlibat dalam
|>> praktek KKN selama ini.