BEN ANDERSON TIDAK PERCAYA INDONESIA AKAN PECAH SEPERTI UNI SOVIET


Keputusan mengejutkan dan mungkin juga membingungkan, keluar dari sidang
kabinet terbatas bidang keamanan Rabu lalu. Itulah keputusan pemerintah
untuk melepaskan Timor Timur dari negara kesatuan Republik Indonesia
secara baik-baik dan terhormat, kalau usul otonomi luar biasa ditolak
rakyat wilayah itu. Seriuskah keputusan pemerintah ini? Bukankah, di
jaman Orde Baru dulu, sudah banyak janji pemerintah, tetapi tidak
satupun ditepati? Usul terakhir adalah penarikan mundur ABRI dari
Timtim, tetapi ternyata pasukan ABRI di wilayah sengketa ini tidak juga
berkurang. Nah, bagaimana perkembangan terakhir ini harus dipahami?

Dalam acara Fokus Akhir Pekan kali ini kami menghubungi Prof Benedict
Anderson, pakar Indonesia dan Timor Timur pada Cornell University, di
Ithaca, Amerika Serikat. Prof Anderson sudah sejak tahun 50an menekuni
Indonesia dan sejak tahun 75 menekuni masalah Timor Timur. Bagaimana
pendapatnya tentang perkembangan Rabu lalu itu?

Ben Anderson [BA]: Bagaimanapun juga ini untuk pertama kali pemerintah
Indonesia membuka kemungkinan pelepasan. Itu yang penting. Selama ini
selalu pemerintah bilang, itu tidak mungkin, tidak bisa dibicarakan,
bukan topik untuk negosiasi apapun. Jadi kalau pemerintah sekarang sudah
mengatakan bahwa biarpun bukan alternatif yang paling baik, tapi itu
salah satu alternatif yang real. Saya kira itu suatu perobahan yang
besar dan penting.

Jadi, kalau dikatakan bahwa ini cuma muslihat, saya pun juga nggak
percaya. Situasi memang sudah cukup menunjukkan bahwa Indonesia sudah
menghadapi jalan buntu di TimTim. Politik yang selama ini dijalankan
jelas nggak ada hasil. Dan dengan krisis ekonomi Indonesia nggak punya
duit untuk menjalankannya lebih lama lagi. Dan tekanan dari luar dan
dari dalam makin hari makin besar. Ini semacam respons. Juga saya kira
terhadap perobahan dalam politik luar negerinya teman akrabnya di
Australi.

Radio Nederland [RN]: Jadi menurut Anda ada semacam tekanan
internasional terhadap Indonesia, supaya segera menyelesaikan masalah
Timor Timur begitu?

BA: Ada semacam tekanan baik langsung, jadi kelompok-kelompok yang ada
perhatian khusus terhadap TimTim, tapi juga tekanan cara tidak langsung,
bahwa krisis ekonomi begitu melanda Indonesia dan jalan keluarnya masih
jauh di depan. Pemerintah tidak punya, anu, sumber-sumber untuk
menjalankan politik yang lama. Dan dengan demikian mereka harus berbuat
apa saja supaya meyakinkan orang-orang luar negeri bahwa waktunya sudah
datang untuk membangun ekonomi Indonesia lagi. Dan di situ, TimTim jelas
menjadi masalah.

RN: Anda pernah mengatakan bahwa masalah TimTim ini adalah salah satu
contoh klasik perang dingin di pentas internasional. Dan sekarang perang
dingin sudah selesai, jadi masalah TimTim diharapkan juga akan selesai.
Jadi, nampaknya ramalan anda terpenuhi?

BA: Saya memang merasa demikian, biarpun dulu waktu saya omong begitu,
banyak orang ketawa, yang merasa bahwa saya semacam utopis yang gila-
gilaan. Saya malah pernah bilang bahwa saya yakin TimTim akan lepas,
merdeka, sebelum habis tahun 2000. Dan makin lama sudah makin yakin
bahwa ini akan terjadi.

RN: Apa sebenarinya dasar optimisme Anda dulu itu?

BA: Justru karena saya melihat bahwa Orde Baru makin lama makin keropos.
Dan dengan didongkelnya Soeharto sistem yang dibangunin selama 32 tahun
ini tidak mungkin dipertahankan lagi. Terus kelompok-kelompok luar
negeri yang melihat Indonesia dengan mata perang dingin, sudah merobah
pikirannya. Jadi pencaplokan Timtim ke dalam Indonesia itu disetujui
oleh Amerika dan sekutunya, sebagian besar karena Indonesia dianggap
sekutu yang penting dalam menghadapi komunisme dan sebagainya.

Dan juga pada waktu itu kan selat Timor itu sangat strategis bagi
Amerika Serikat dengan kapal selam nuklirnya dan sebagainya. Sampai ada
semacam persetujuan rahasia antara Washington dan Jakarta supaya kalau
kapal selam itu melalui Selat Timor tidak usah naik sampai ke dataran
laut, di mana bisa inspeksi oleh satelit Soviet. Sekarang satelit Soviet
enggak ada lagi, jadi Amerika tidak merasa bahwa mereka ada kepentingan
dalam politik Indonesia di TimTim seperti dahulu.

RN: Sekarang kalau kita beralih ke masyarakat Timor Timur sendiri, kita
tahu selama dua puluh tahun ini masyarakat Timor Timur sangat terbelah.
Ada yang pro Indonesia dan tentu ada yang anti Indonesia. Bagaimana
menurut Anda dampak perkembangan terakhir ini bagi masyarakat Timor
Timur sendiri? Apakah perpecahan itu akan semakin dalam atau bagaimana?

BA: Justru tidak, saya kira. Saya melihat umpamnya udah ada gejala
seperti tempo hari orang-orang TimTim yang menjadi anggota Golkar
cepat-cepat anu angkat pantat dari Golkar dam merasa bahwa angin sudah
berubah jurusannya. Orang-orang yang selama ini berkolaborasi dengan
Jakarta, ada sebagian yang tentu merasa terancam masa depannya, tapi ada
juga yang merasa harus cepet-cepet menyesuaikan diri dengan situasi.
Karena orang-orang yang berwibawa di TimTim, seperti anu, Mario
Carascalao, Xanana Gusmao, Uskup Belo dan sebagainya semua berdiri, saya
kira, di satu tempat. Jadi enggak ada pemimpin yang meyakinkan di pihak
integrasi. Dan saya juga yakin bahwa itu cuma minoritas tertentu.

RN: Kita kembali ke usul Indonesia tadi. Salah satu hal yang nampaknya
makin kelihatan dari langkah terakhir yang ditempuh Indonesia itu adalah
bahwa pemerintah Indonesia baik yang dulu maupun yang sekarang di bawah
Habibie ini, menolak referendum. Apakah kesan semacam ini benar?

BA: Well, saya kira ini sebagian untuk menjaga muka, jangan bahwa orang
yang selama ini mati-matian membela kepentingan politik Indonesia di
luar negeri, yaitu Ali Alatas, yang begitu sering mengatakan: "Mungkin
begini begitu, referendum", ya seolah-olah dia harus makan katanya
sendiri. Saya kira ini sebagian untuk menjaga muka Alatas, mungkin
Soeharto juga. Ndak tahu.

Jadi, referendum bagaimanapun, ini ada dua jalan kemerdekaan: referendum
yang mungkin di mata Horta dan teman-temannya itu yang paling aman - dan
saya setuju bahwa itu yang paling aman. Tapi saya juga yakin kalau
pemilunya beres nati bulan Juni, apa setelah ada keputusan bahwa pegawai
negeri tidak digolkarkan, ini berarti bahwa partai-partai oposisi
kemungkinan besar akan menang jauh. Dan harus diingat bahwa semua tokoh
pemimpin partai oposisi telah mengatakan simpatinya atas konsep
kemerdekaan Timtim. Jadi saya kira ini tidak jelek.

Bagaimana pun juga itu sulit sekali sekarang untuk pemerintah Indonesia
untuk kembali kepada politik yang lama. Mereka sudah membuka alternatif.
Itu sudah masuk pembicaraan internasional dan sebagainya. Ini seperti
kita naik sky di atas gunung pada musim hujan, udah mulai jalan, jadi
tidak bisa kembali ke puncak.

RN: Anda mengatakan bahwa referendum paling aman bagi Xanana, Horta dan
kawan-kawan. Maksudnya bagaimana?

BA: Well, dengan pengalaman yang pahit selama dua puluh tahun ini mereka
selalu curiga bahwa kalau nggak ada semacam wasit yang fair di TimTim,
semacam tentara atau kelompok-kelompok tertentu dalam tentara,
kelompok-kelompok tertentu dalam birokrasi akan main di belakang layar.
Jadi mempersenjatai orang-orang ini, orang-orang itu, mengadu domba dan
macam-macam muslihat. Mereka juga ingat selama ini bagaimana pemilu-
pemilu itu dimanipulir oleh pusat. Jadi mereka tidak percaya bahwa
pemerintah sekarang betul-betul mengubah pikirannya dan betul-betul
jujur dalam membuka kedua alternatif ini.

Saya mengerti dari pengalaman mereka, tapi saya juga yakin bahwa melihat
apa yang dikatakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, apalagi infonya
dikeluarkan kepada masyarakat oleh Menteri Yunus Yosfiah yang dulu
terkenal sekali sebagai orang keras waktu di TimTim, kalau orang seperti
itu omong dengan suara sekarang, saya tidak bisa ditarik kembali.

RN: Anda sudah sedikit menyinggung soal peran ABRI ini dan seperti Kamis
lalu telah ditegaskan oleh Pangab Jenderal Wiranto bahwa ABRI akan
menerima kalau Timtim itu dalam kata-katanya 'secara baik-baik dan penuh
hormat keluar dari Indonesia'. Sebenarnya pendapat ABRI seperti ini dulu
juga sudah Anda ramalkan yaitu bahwa ABRI akan berubah sikapnya soal
Timor Timur, karena sekarang ABRI dipimpin oleh kalangan yang sedikit
terlibat bahkan mungkin tidak terlibat, mungkin Pangab Wiranto sendiri
tidak pernah berada di TimTim. Jadi Anda semakin yakin dengan pendapat
Anda ini.

BA: Well, ini saya dapat informasi yang menarik dari seorang teman yang
sama sekali tidak tahun tentang Indonesia, tapi banyak berhubungan
dengan orang Timtim. Beberapa tahun lalu dia cerita pada saya bahwa dia
ingat nama Wiranto. Waktu Wiranto sebagai anak muda ditempatkan di salah
satu tempat, Wiranto itu kaget, karena ternyata banyak sekali eksekusi-
eksekusi di luar hukum dan sebagainya. Dan dia kasih janji kepada orang
setempat, selama dia menjadi komandan di situ, itu akan distop dan
memang ternyata distop. Baru setelah Wiranto dipindahkan ekskusi-
eksekusi dan kekejaman lain mulai lagi. Saya dengar cerita ini jauh
sebelum Wiranto menjadi orang top.

Jadi, bagaimana pun pada waktu pengalaman mereka di TimTim, itu pada
waktu mereka masih kecil. Jadi orang-orang yang menjadi biang keladi
politik yang serem selama ini justru bukan orang ini yang rata-rata
umurnya sekarang ya 52 tahun. Itu berarti pada waktu dioper, ya, usianya
kira-kira 32 tahun. Jadi masih anak muda. Jadi biang keladinya Soeharto
udah keluar. Benny Moerdani sudah diexitkan. Panggabean sudah nggak
kedengaran lagi. Ali Moertopo udah wafat. Jadi mafia lama yang
bertanggung jawab atas kebijakan ini sudah tidak berkuasa lagi. Jadi
anak muda ini bisa mengatakan bahwa bagaimanapun juga itu bukan
kesalahan kami. Dan memang bukan kesalahan mereka.

RN: Kalau kita melihat corps ABRI ya, jadi ABRI secara keseluruhan,
itukan mereka sudah banyak kehilangan prajurit di sana. Belum lagi,
orang-orang yang kehilangan jabatannya, misalnya Hendro Priyono yang
kehilangan jabatan Pangdam Jaya, karena masalah Timor Timur. Kemudian
Sintong Panjaitan, Rudolf Warouw, semua perwira tinggi ABRI ini harus
berkorban karena masalah Timor Timur. Kok sekarang, tiba-tiba mereka
begitu saja rela melepaskan Timor Timur. Bagaimana ini?

BA: Well, bagaimanapun si Sintong sekarang menjadi penasehat, dekat
dengan Habibie, si Hendro masih disebut-sebut sebagai calon Pangab yang
berikut, dsb. Mereka tidak terlalu jatuh. Korbannya memang ada, tapi
jangan lupa bahwa korbannya itu pada tingkat sersan dan prajurit. Jadi
bukan di kalangan perwira. Perwira yang ambil peranan yang menentukan
dalam hal ini. Saya kira sekarang ini pemimpin tentara cukup praktis dan
realistis, tidak bombastis dan emosional seperti dahulu. Mereka cukup
melihat situasi yang sebenarnya, di mana ABRI menghadapi begitu banyak
tantangan dari segala penjuru angin. Terus tenaga sumber kekayaan,
sumber finasial sudah susah. Citra mereka di kalangan rakyat sudah buruk
sekali. Jadi mereka tidak ada kekuatan untuk meneruskan politik dulu di
TimTim. Apalagi tokoh utamanya, Prabowo, sudah didongkel, kan. Saya kira
mereka sekarang melihat situasi dengan mata yang dingin.

RN: Jadi misalnya Prabowo tetap berada dalam pucuk pimpinana ABRI maka
kebijakan semacam ini tidak akan keluar?

BA: Belum tentu begitu, cuma mungkin lebih lama sedikit, karena saya
tidak percaya dalam proses ini satu dua orang terlalu menetukan.
Kekuatan-kekuatan yang main ini kekuatan yang besar, di luar negri dan
di dalam negri.

RN: Kalau begitu sebenarnya apa inti kegagalan Indonesia di Timor Timur?

AB: Inti kegagalan adalah bahwa masyarakat umum tidak mengerti bahwa
yang dilakukan di TimTim itu semacam penjajahan modern. Jadi mereka bisa
ditipu dengan semboyan-semboyan integrasi dan sebagainya untuk menutupi
fakta bahwa sejarah TimTim sama sekali tidak berkaitan dengan sejarah
Indonesia. Bahasa dan budayanya udah lain sekali. Dan mereka tidak ingat
sekali logika dari setiap penjajahan, bahwa bagaimanapun pada suatu
waktu orang-orang yang dijajah akan bangkit untuk melawan, persis
seperti orang Indonesia melawan Belanda dulu. Ya, belakangan orang
TimTim bangkit untuk melawan penjajah yang berkulit sawo mateng. Jangan
dikira bahwa penjajahan itu cuma monopoli dari orang bule.

RN: Anda tadi sudah menyebut soal integrasi. Sesudah pengumuman hari
Rabu lalu, yang banyak dipermasalahkan adalah lalu bagaimana dengan
integrasi Indonesia secar keseluruhan. Mereka takut TimTim ini merupakan
preseden atau semacam rangsangan bagi daerah lain, misalnya Aceh dan
Irian Jaya, untuk menemnpuh jalan yang sama. Anda yang sudah mengamati
Indonesia sejak tahun 50an itu bagaimana perasaan anda?

BA: Saya kira tidak. Saya memang dari dulu tidak percaya pada omongan
seperti ini. Dan saya lihat kemarin di koran sini disebut bahwa istana
sendiri sudah mengeluarkan semacam statement (pernyataan, Red.) bahwa
disintegrasi tidak perlu dikhawatirkan dan sebagainya. Semuanya
diperhitungkan. Jadi kalau pemerintah sendiri mengatakan bahwa situasi
tidak berbahaya, ya saya kira, ini tanda bagus.

Masalahnya begini, bahwa bagaimanapun status TimTim sebagai bagian dari
Indonesia tidak pernah diterima oleh PBB ataupun oleh mayoritas negara-
negara di dunia ini. Jadi cuma Australia plus ASEAN mungkin yang pernah
menyetujuinya. Sedangkan status Aceh dan Irian tidak pernah
dipermasalahkan benar-benar oleh PBB. Jadi status TimTim itu memang
khusus.

Tetapi pemerintah juga menyatakan, dan saya setuju dalam hal ini, bahwa
situasi ini akan mengarah ke suatu perombakan dalam hubungan antara
daerah dan pusat dan daerah di Indonesia setelah pemilu nanti, bulan
Juni. Jadi dengan penawaran kepada TimTim semacam otonomi yang sangat
luas, itu dengan sendirinya propinsi-propinsi yang selama ini paling
rawan akan menuntut semacam itu. Saya kira daerah-daerah lain yang belum
rawan akan menyusul.

Jadi panik tentang negara kesatuan Indonesia, bahwa itu kalau
federalistic state (negara federal, Red.) atau desentralisasi itu pasti
komplotan Belanda dsb, itu benar 50 tahun yang lalu. Tetapi tahun 2000
bukanlah tahun 50. Negara yang sebesar Indonesia yang beraneka warna,
tidak bisa dipimpin ke arah yang baik dengan tangan besi dan sentralisai
yang luar biasa seperti selama kediktatoran Harto. Memang harus ada
semacam kelonggaran, baik dalam hukum maupun dalam partai politik.

Dan saya kira justru ini akan menarik daerah-daerah rawan kembali
sepenuhnya ke dalam anu, pelukan ibu pertiwi. Jangan lupa bahwa Aceh
tidak selalu macem-macem terhadap pusat. Pada jaman revolusi, Aceh
sangat kuat membela Republik. Pada tahun 60-70an, Aceh paling aman. Itu
dibikin rawan oleh pusat. Begitupun Irian. Kalau pemerintah Indonesia
tidak kurang ajar di situ, situasi seperti OPM itu enggak mungkin sekuat
seperti sekarang ini. Ini semuanya akibat cara pemerintahan yang salah.
Dan kalau ini berubah, ini bisa juga, situasi bisa berubah ke arah yang
baik.

RN: Anda selama ini terkenal dengan buku anda "Imagined Communities" di
situ anda termasuk orang pertama yang meramalkan akan terjadinya
negara-negara kecil, pecahnya Uni Soviet, pecahnya Yugoslavia, Eropa
Timur segala macem, tetapi kelihatannya dalam soal Indonesia ini anda
menjadi sangat romantis dan mungkin malah justru kontradiksi dengan
pendapat anda sendiri?

BA: Oh tidak. Saya tidak merasa bahwa semua negara besar akan pecah.
Saya cuma bilang bahwa ada beberapa negara tertentu, di mana pemerintah
di pusat memperlakukan sebagian orangnya seperti jajahan. Dan kalau
perlakuan ini sangat bersifat suku atau bangsa, itu akan menimbulkan
semacam reaksi.

Jadi kita lihat umpamanya cara Cina di Tibet itu menimbulkan semacam
nasional. Itu tidak berarti bahwa pemerintah Cina tidak kurang ajar
kepada rakyat di tempat-tempat lain. Tetapi itu tidak berdasarkan
perbedaan agama, perbedaan kultur dan sebagainya. Saya tidak yakin bahwa
negara India akan pecah, saya tidak percaya bahwa, umpamanya, Perancis
akan pecah. Atau Brasil akan pecah. Ini hanya akan timbul dalam situasi
di mana ada semacam politik yang dijalankan oleh pusat yang bersifat
menjajah.

RN: Bukankah hal itu yang terjadi di Aceh, Irian dan terakhir di Maluku?

BA: Hmmm, saya kira tidak. Kalau orang Aceh, seperti saya katakan tadi,
mereka malah berjuang mati-matian untuk Republik. Mengambil peranan yang
besar dalam revolusi dsb. Kalau Irian itu agak lain, karena mereka
ditarik oleh Belanda setelah tahun 50. Tapi pada waktu Indonesia masuk
pertama, saya kira enggak ada antipati besar terhadap Indonesia dari
pihak orang Irian. Itu baru timbul setelah sederetan pemerintahan
militer dengan sikap yang kejam.

Memang pernah ada RMS. Tapi jangan lupa bahwa RMS sebenarnya ingin
bergabung dengan Belanda, itu merasa diri seperti provinsi Belanda yang
ke... keberapa? Dan setelah itu habis, enggak ada apa-apa selama 40
tahun. Saya kira ini tidak akan terjadi, tetapi seandainya pemerintah
sekarang ini mengambil politik terhadap Ambon, seolah-olah orang Ambon
itu bukan orang Indonesia, tetapi semacam kelompok yang perlu dijajah,
ya bisa saja.

RN: Tetapi kalau kita melihat sejarah Indonesia ya, dari, misalnya jaman
Sriwijaya, kemudian ada Majapahit, kemudian ada raja-raja di Jawa,
Sultan Agung, Amangkurat, kemudian ada penjajahan Belanda, dari situ
kemudian lahir Indonesia. Kan kita tidak bisa berkata bahwa Indonesia
ini bentuk akhir kan Ben?

BA: Ini banyak mitos, dalam hal ini. Jadi orang merasa bahwa sejarah
Indonesia mulai dengan Syailendra dsb. Itu sama sekali enggak bener.
Sejarah Indonesia mulai kira-kira 90 tahun yang lalu, pada ketika
Belanda selesai dengan menaklukan daerah yang sekarang ini masuk
perbatasan Indonesia. Jadi, Indonesia dalam bentuk seperti sekarang ini
baru tercapai kira-kira pada tahun 1910, pada masa akhirnya Gubernur
Jenderal Van Heutz.

Dan kata Indonesia sendiri baru mulai normal dan biasa dipakai pada
tahun 20an, jadi cuma 80 tahun yang lalu. Jadi Indonesia itu sesuatu
yang baru. Jadi justru yang meyakinkan dalam hal ini bahwa selama
pergerakan atau kemerdekaan, selama jaman Jepang, jaman Revolusi, dsb.
justru yang mengherankan adalah bahwa gerakan separatis sedikit banget.

Dan saya sendiri dengan pengalaman di Filipina, di Muangthai, merasa
bahwa rasa kebangsaan Indonesia itu cukup tinggi. Bisa dibuktikan juga
dengan jumlah orang Indonesia yang melarikan diri ke luar negeri. Itu
sedikit sekali dibandingkan dengan umpamanya orang Thai dan Filipina
yang melarikan diri ke Amerika, Kanada atau Inggris dan tempat-tempat
lain, kan. Jadi, kadang-kadang orang Indonesia, saya merasakan, anu,
cukup picik pikirannya. Tapi ada baiknya juga. Itu sebagian berarti
kesadaran kebangsaannya, dan obsesinya terhadap negara dan bangsanya
sendiri.

RN: Maksud anda obsesi?

BA: Well, saya ambil contoh itu mahasiswa-mahasiswa yang datang ke
Amerika untuk belajar politik dan sebagainya. Ada orang Thai yang ingin
belajar tentang Indonesia, anda orang Filipina yang ingin belajar
tentang Muangthai atau Malaysia. Tetapi saya belum pernah ketemu dengan
orang Indonesia yang pingin belajar negara apapun juga kecuali Indonesia
sendiri.

Jadi, dalam hal ini saya kira saya ingin menegaskan sekali lagi. Bahwa
situasi yang sekarang ini di mana justru kedua orang yang paling
berperanan dalam hal TimTim yaitu Ali Alatas dan Jenderal Yunus Yosfiah,
justru kedua orang ini yang kemukakan perubahan politik, itu bagi saya
cukup meyakinkan. Bahwa dalam hal ini pemerintah Indonesia betul-betul
sadar bahwa mereka sudah terpukul dengan jalan buntu dan harus cari
jalan keluar dengan sedapat mungkin menjaga muka.

Saya masih harap bahwa secepat mungkin bisa ikut perayaan kemerdekaan
TimTim di Dili.

RN: Demikian Prof. Benedict Anderson, pakar Indonesia dan Timor Timur
dari Cornell University, di Ithaca, Amerika Serikat.

Kirim email ke