Bung Panut,
Mungkin Sdr. Pohan lebih pama masalah kirim mengirim surat ke editor
suatu media massa, dia kan tukang berita juga...hehehe.

Kalo boleh saya mengomentari masalah protes terhadap pembaritaan yang
terkesan berpihak, saya rasa kita juga perlu menyadari dengan hati
terbuka bahwa kita pun masih perlu kritik semacam itu.

Mungkin ini merupakan bagian dari kepentingan bisnis dalam dnia
jurnalistik, bahwa pemberitaan sebuah media massa cenderung untuk
berpihak  dan mencari sisi yang bisa membawa popularitas, sehingga
menarik konsumen untuk membelinya. Ini juga saya lihat terjadi pada
media massa kita. DUlu waktu jaman ORBA, mayoritas pemberitaan di
surat kabar atau media lainnya, cenderung berpihak kepada pemerintah,
apapun alasannya. Sekarang situasi telah berubah, dan kondisi itupun
terasa berbalik. Pemberitaan di koran2, majalah, dll, lebih cenderung
untuk menonjolkan sisi kejelekan pemerintahan dan aparat keamanan,
karena memang hal itu juga yang menjadi trend menarik di masyarakat.
Bahkan sering pula terasa bahwa pemberitaan di media massa terlalu
melebih-lebihkan sisi buruk satu pihak, tanpa mau melihat dari sisi
yang lain. Hal semacam inilah yang menurut saya sering menjadi pemicu
konflik di daerah daerah. Misalnya koran "A" memberitakan bahwa
masyarakat di suatu daerah menyerbu kantor PEMDA atau kantor Polres
tanpa mendapatkan perlawanan dari aparat. Alasannya adalah karena ada
seorang aparat keamanan berlaku kurang ajar di depan publik. Hal
semacam ini bisa memicu konflik yang sama di daerah daerah lain. Orang
akan merasa mendapatkan legitimasi untuk melakukan tindakan tindakan
seperti itu.


Kritik inipun bisa di tujukan kepada diri kita, agar di dalam
menyikapi suatu event, kita tidak hanya melihatnya dari satu sisi,
tapi kita juga harus berani memandangnya dari sudut pandang yang
berlawanan. Kita jangan hanya teriak teriak menyalahkan pemerintah,
atau individuals yang duduk di pemerintahan tanpa bisa menawarkan
solusi yang rasional dan konkrit. Karena kalau kita mau melihat dari
sisi yang berlawanan, mungkin kita akan menemukan betapa susahnya
mereka menghadapai kondisi politik dan ekonomi negara yang jumpalitan
nggak karuan seperti sekarang ini.

Itu saja komentar dari saya, mungkin rekan-rekan ada yang mau
menanggapi.

Wassalam



---Panut Wirata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Rekan-rekan Permias:
>      Surat ke NYTimes saya revisi sedikit dengan memasukkan perkiraan
> bahwa itu adalah permainan politisi jakarta.  Tambahan Sdr Dodo  saya
> masukkan dengan sedikit perubahan.  Ada saran supaya surat ini dikirim
> ke buletin boardnya New York TIme dan juga  dikirim ke CNN.  Maaf saja
> semalam saya coba cari-cari cara mengirim surat ini, namun saya tidak
> menemukannya.  mungkin pengurus list (Indi) bisa membantu atau mungkin
> bung Pattiweal.
>      Satu lagi, bila rakan-rakan setuju, harap memdberitahu sehingga
> namanya bisa disertakan sebagai pengirim surat.  Kalau cara ini bisa
> efektif, mungkin cara ini bisa dijadikan kebiasaan dalam meluruskan
> berita-berita tentang Indonesia. Ini setidak-tidaknya yang bisa kita
> lakukan  sebagai warga negara Indonesia di perantauan.
>
> Dear Editor:
>      The article entitles "40 Christian  Killed in Revenge Riot in an
> Indonesian Village" published by The New  York Time Tuesday, January
> 26, 1999 presented some truth regarding Ambon Tragedy but certainly
> not the whole thruth.  The title of the  article itself shows the
> imbalance of the facts that were to be presented. This could be the
> result of the interview that involved
> only the Christian people. Reading the article one would get the
> impression that the Christian villagers of Ambon were the sole victim
> of the tragedy and that the tragedy was inflicted by revenging
> Muslims. The facts were that both the Christian and the Muslims were
> in some kind of war.  They attacked and killed each other and a lot of
>  people from both sides were dead. In some cases, Muslim's villages
> got  obliterated too. We belief that this is not simply religious
> conflict but it could have been the game played by elite politicians
> in Jakarta.  This is a very set situation and we hope that the
> Indonesian  authority could quickly uncover the cause of the tragedy.
>
>      We also hope that in reporting a conflict, your journalists
> interview both parties so that both side of the stories are balancely
> presented. One sided report of a conflict may result in worsening the
> conflict itself, or even creating a new conflict. This may not be true
> in advanced countries, but it is the case in Indonesia where riots
> could be easily incited by rumors.
>      This letter is intended to clarify that Ambon Tragedy is not a
> case where the Christian minority is  treated unjustly by the Muslim
> majority.  We hope that this letter disolves the bad image about
> Muslim majority in Indonesia that the article indirectly portraits.
>
> Indonesia Student Association Mailing List:
>    Panut Wirata, Ramadan Pohan, Dodo Dolitle, Blucer    Rajaguguk,
> Ichwan Ramli, Andrew Pattiweal,
>     dll
>
>
>
>
>
> >
>
> _________________________________________________________
> DO YOU YAHOO!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
>

_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke