Sangat menarik ide dalam posting ini.  Tapi kalau boleh tanya,
teknologi yang mana? Lalu bagaimana mengatasinya? Kenapa itu bisa
terjadi? dst,dst. Pendeknya, bisa lebih rinci dan spesifik?

Wassalam,
Panut Wirata




---Nasrullah Idris <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Banyak  capaian  teknologi di negara berkembang  dewasa  ini
> menjadi
> kebanggaan/kepuasan  penduduknya.  Padahal itu bukannya apa-apa.  Ia
> reruntuhan
> hasil  rekayasa  teknologi usang kalau dilihat dari  puncak
> prestasinya  secara
> global.
>    Statement itu  mengisyaratkan keberanian dan perubahan, khususnya
> pendekatan
> kita  terhadap  tekonologi.  Janganlah benak kita  dibodohi  atau
> dininabobokan
> dengan khayalan palsu berdasarkan "mekanisme simbol tanpa makna"
sampai
> "ritual
> akademik tanpa visi".
>    Wajarlah  bila Malik bin Nabi (filosof) mengatakan bahwa suatu
> bangsa  tidak
> akan  berkembang bila selalu tergantung pada teknologi impor. Lebih
> buruk  lagi,
> negara  seperti  itu hanya akan menjadi pion dari  berbagai
perusahaan
> raksasa
> transnasional dalam menover Machiavelistik
>    Sementara teknologi Barat terus berkembang pesat, seharusnya kita
> tidak boleh
> diam terpaku atau menonton saja. Karena ini tidak saja dianggap
> kelalaian, juga
> sikap yang tidak bertanggungjawab terhadap generasi berikutnya.
>    Kemerdekaan atas kedaulatan wilayah atas penjajahan memang
> menjanjikan banyak
> hal. Tetapi yang sungguh diberikannya hanya sedikit serta tidak
> mencukupi  kalau
> tidak  disertai  semangat  memperdayakan sumber daya yang  ada.
> Terlebih  kalau
> direpotkan oleh konflik internal, sektarian, dan parokial, yang
> semuanya  tumbuh
> karena klaim chauvelistik mengenai keunggulannya masing-masing.
>
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris
>

_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke