...

>Yang saya sangat sedihkan ternyata bahwa hanya sebagian kecil (data kasar
>tidak sampai 25%)  yang benar-benar pulang ke indonesia dan bekerja di
>instansi yang mengirimnya. Sebagian bekerja di luar negeri. Atau pulang ke
>indonesia tapi bekerja di swasta. Sebagian lagi belum/tidak selesai
>kuliahnya.

Yw: Ya, kalau kita coba untuk tidak berpikir sektoral,
    hal itu sebetulnya tidak perlu disedihkan. Instansi (Indonesia)
    itu kan menyekolahkan orang maksudnya (seharusnya) adalah
    memberdayakan orang itu (yg dipercaya akan berkontribusi
    positif bagi 'the community', dan TIDAK HARUS melalui
    instansi itu lagi). Pokoknya yg penting, the community,
    bukan sektor demi sektor. Itu menurut saya.

    Justru kalo tiap instansi mikirnya masih instansinya
    doang (atau sektornya), kita harusnya sedih...

>Banyak memang alasannya. Tapi yang paling klasik adalah:
>Di indonesia lulusan yang dari luar negeri ini ternyata tidak dihargai.
>Singkatnya masa gaji doktor lulusan luar negeri setelah balik ke instansi
>yang dulu mengirimnya hanya sama dengan gaji UMR (dasar pegawai negeri
>masih 200 ribu?).
>
>Ada yang mau berpendapat?
>Wassalaam.
>
>Reza

Yw: Ini juga sama. Kalo udah capek-capek disekolahin
    sampe doktor, ternyata semuanya masih goblok juga (mau
    aja dibayar seharga sepotong celana dalem bekasnya
    charlie chaplin, gitu). Kita harus sedih...

    Anyway, apa bener celana dalem bekasnya Chaplin
    harganya segitu? Jangan tanya saya, deh. Jijay. ;-)

Kirim email ke