Transkip wawancara Riza Primadi dari SCTV dengan KH Abdurrahman Wahid di
kediamannya Ciganjur. Wawancara ditayangkan langsung di Liputan 6 Siang
pukul 12.20 WIB

Riza:
Menurut Gus Dur konsep dialog yang akan dilaksanakan seperti apa?

Gus Dur:
Ya, dialog itu harus melibatkan seluruh warga bangsa yang mau ngomong. Jadi
saya buka open house umpamanya, di mana tiap hari datang orang, bisa
sepuluh, bisa empat, dan terus saya bilang sama mereka bahwa omongan anda
saya rekam, nanti dari omongan anda ini kalau ada saya ambil pointersnya
dan saya sampaikan pointers itu pada Pak Habibie dan Pak Wiranto pada hari
raya nanti. Rekaman itu nanti saya transkip dan saya jadikan lampiran. Jadi
mungkin lampiran itu tebal sekali.

Riza:
Tapi yang datang itu kan beragam, ada yang rakyat biasa, ada yang elit?

Gus Dur:
Ya itulah rakyat, itu nasional.

Riza:
Apa yang ingin dicapai dari mengumpulkan suara rakyat itu?

Gus Dur:
Kita coba mencari titik-titik pemecahan masalah bangsa kita

Riza:
Dalam tiga hari ini apa saja yang sudah tertangkap dari masyarakat?

Gus Dur:
Yang saya dapatkan sudah dua point. Satu, keharusan kita untuk melakukan
pertukaran pikiran secara bebas dan menyalurkannya kepada pihak-pihak
pemerintahan. Sekarang ini yang macet kan itu.

Riza:
Macet maksudnya pemerintah nggak mau dengar?

Gus Dur:
Pemerintah nggak mau dengar, rakyatnya nggak mau ngomong.

Riza:
Demo-demo itu kan salah satu bentuk omongan?

Gus Dur:
Ya, tapi kan nggak semua senang demo. Jadi ada yang senang bicara apa
adanya di muka saya, ya nanti saya sampaikan.

Riza:
Kaitannya dialog nasional dengan pertemuan Gus Dur dengan Pak Harto?

Gus Dur:
Salah satu bentuk dialog nasional itu saya mencoba menemui
pimpinan-pimpinan kita yang punya pengaruh besar di masyarakat.

Riza:
Pak Harto masih?

Gus Dur:
Ya, diantaranya Pak Harto. Pak Harto itu masih besar pengaruhnya di
masyarakat. Saya ini nanya dari Ketua NU wilayah Lampung, kemudian
orang-orang NU yang lain. Pada umumnya menjawab bahwa masih banyak orang
yang melihat bahwa Pak Harto bisa memberikan sumbangan pemikiran kepada
kita semua. Walaupun dia sudah bukan presiden.

Riza:
Tapi banyak orang yang tidak bisa menangkap pemikiran Gus Dur seperti itu
ketika beberapa waktu yang lalu Gus Dur mengkritik Pak Harto dengan keras
melalui buku Adam Scwarth tapi kemudian sekarang ngajak ngomong. Bagaimana
ini?

Gus Dur:
Lho, menyatakan bahwa Pak Harto dulu ndak siap untuk satu perubahan, tidak
siap untuk suatu penghentian keadaan itu bukan berarti beliau tidak mau
berbicara. Bukan berarti beliau tidak mau dialog. Justru ketika beliau
berhenti menjadi presiden justru mungkin ada peluang untuk memikirkan apa
yang telah terjadi. Menuju kepada masa depan.

Riza:
Kalau pandangan Gus Dur dulu sebelum Pak Harto lengser dengan sekarang ada
perbedaaan nggak?

Gus Dur:
Ya ada

Riza:
Di mana perbedaannya?

Gus Dur:
Sekarang menurut saya lebih gampang untuk bicara dengan orang. Lebih
gampang ketemu orang. Lebih bebas dalam tindakannya dan lebih segar.

Riza:
Mungkin karena tidak jadi presiden lagi?

Gus Dur:
Mungkin

Riza:
Apa bukan karena Gus Dur punya massa, kemudian Pak Harto ingin ketemu Gus
Dur supaya dapat dukungan?

Gus Dur:
Oh ndak, Pak Harto ndak pernah ngomong begitu.

Riza:
Jadi yang diomongin apa saja Gus?

Gus Dur:
Yang diomongin ya, beberapa sebab dari kebijaksanaannya yang diambil di
masa lampau, kemudian keadaan sekarang bagaimana. Sekarang ini Pak Harto
menyatakan ia pusing dengan mahasiswa. Tiap hari kok demo. Dianggapnya saya
nggak ngerti. Wong saya ngerti kok.

Riza:
Terhadap soal apa?

Gus Dur:
Yang mereka tuntut itu lho. Makanya Pak Harto sekarang ini meminta supaya
segera ada clearence, semacam penyelesaian terhadap masalah. Jangan
digantung seperti ini. Supaya cepat diadili.

Riza:
Kalau Gus Dur sendiri menyampaikan apa ke Pak Harto?

Gus Dur:
Saya menyampaikan itu saja. Supaya ada pertemuan dengan Pak Habibie, Pak
Wiranto.

Riza:
Dengan Pak Harto dan Gus Dur?

Gus Dur:
Ya

Riza:
Sebelumnya Gus Dur ketemu Pak Habibie kemudian ketemu Pak Harto, nuansa
perbedaannya di mana dari dua pemimpin itu?

Gus Dur:
Pejabat kita itu sama dalam kebiasaannya. Pak Harto itu 32 tahun jadi
presiden. Ketika saya masuk diberondong dengan keterangan tentang berbagai
policy dia di masa lampau. Pak Habibie juga begitu. Begitu sarapan langsung
cerita, ketemu ini ketemu itu. Jadi saya satu jam duluan mendengar dan
selalu "iya pak, iya pak!" Ya nggak apa-apa kita sudah tahu budayanya
pejabat, ya
sudah.

Riza:
Tapi kemudian Pak Habibie menolak ketemu empat orang tersebut?

Gus Dur:
Nggak, nggak menolak. Kalau sebagai presiden, ya. Sebagai pribadi tidak.
Pertemuan itu pribadi. Dengan kata lain tidak di muka pers.

Riza:
Kira-kira agendanya apa?

Gus Dur:
Ya nanti, tergantung pertemuan itu. Kalau saya beranggapan, lebih baik
kumpul, lalu ini kita bicara apa. Nanti kan ketemu titik-titiknya.

Riza:
Saat sekarang kekuatan kan tidak hanya empat orang, ada kekuatan masyarakat
di luar itu. Bagaimana bisa menyelesaikan persoalan kalau ada kelompok lain
tidak
diajak?

Gus Dur:
Memang kita nggak menyelesaikan kok. Mencari penyelesaian. Penyelesaiannya
di tempat lain.

Riza:
Di mana Gus?

Gus Dur:
Ya di MPR. MPR memutuskan melalui TAP. TAP diundangkan melalui DPR.

Riza:
DPR hasil pemilu yang nanti?

Gus Dur:
Ya. Jadi kita sekarang bicara supaya nanti ada masukan untuk MPR yang akan
datang. Jadi sekarang tidak berarti kita akan memecahkan seperti anggapan
beberapa orang. Itu salah. Saya nggak berniat itu.

Riza:
Ketika Gus Dur sehabis bertemu Habibie reaksi langsung positif tetapi
ketika bertemu Pak Harto reaksinya sangat negatif. Gus Dur bisa mengerti
itu kalau ada reaksi negatif?

Gus Dur:
Yang bereaksi negatif dasarnya memang tidak senang, mau diapakan.

Riza:
Tidak senang terhadap Gus Dur atau Pak Harto?

Gus Dur:
Terhadap saya juga tidak senang. Jadi mereka takut. Saya ini terus terang
saja yang butuh ini PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Kalau saya berhasil
mencapai ini nanti PKB bayangkan kayak apa. Akan menjadi pihak yang
mencapai dukungan besar. Memang ini yang mereka takuti.

Riza:
Kecurigaan ini berdasar nggak. Apa memang Gus Dur arahnya begitu?

Gus Dur:
Ya tidak, wong saya tidak ada urusan dengan PKB. Saya ini ketua NU.

Riza:
Ada yang bilang bahwa ini dalam rangka upaya Gus Dur untuk ingin masuk
lingkaran kekuasaan?

Gus Dur:
Ya biar saja. Ngladeni omongane wong.

Riza:
Tapi nggak akan dijawab Gus?

Gus Dur:
Nggak, untuk apa. Pemerintah lebih kecil dari saya.

Riza:
Tapi masyarakat kan butuh penjelasan Gus?

Gus Dur:
Ya saya sudah jelaskan dengan bermacam-macam jalan. Ada yang ketemu saya
untuk open house. Ada teman-teman yang telepon. Ini semua tugas saya untuk
menjelaskan pada masyarakat.

Riza:
Kelompok Ciganjur lain sudah telepon?

Gus Dur:
Saya tahu kok kalau Pak Sultan Ibu Mega dan Pak Amien saya tawarkan pada
Pak Harto nggak mau dia ketemu.

Riza:
Ada komunikasi nggak setelah ketemu dengan Pak Harto?

Gus Dur:
Belum. Nanti saya jelaskan kalau masalah ini sudah selesai di masyarakat.
Sekarang kan reaksi-reaksi masih ada. Walaupun tidak banyak. Saya tahu
sendiri. Masyarakat menjunjung kok. Jangan sampeyan baca wawancaranya ya,
orangnya ya itu-itu juga. Amien Rais, Ahmad Tirtosudiro, lalu yang
minor-minor itu. Lalu tambah Arbi Sanit. Ya orangnya itu-itu lagi. Apa
benar mereka mewakili masyarakat. Saya kok nggak yakin. Tapi rakyat yang
tiap hari ngomong sama saya. Supir-supir taksi, orang jual rokok, semua
pada senang kok, sebab mereka juga takut perang saudara. Inti utamanya kan
banyak sekali pengikut-pengikut Pak Harto yang bikin keributan karena tidak
puas idola mereka digencet-gencet.

Riza:
Itu tujuan akhirnya untuk mencegah kerusuhan-kerusuhan?

Gus Dur:
Ya, itu untuk mencegah kerusuhan-kerusuhan. Rakyat senang itu.

Riza:
Dengan cara mempengaruhi Pak Harto?

Gus Dur:
Ya. Ada dua sebab, satu kerusuhan itu sendiri menimpa mereka. Yang kedua
investor asing tidak masuk gara-gara ribut. Jadi ribut ini harus diakhiri.
Maka itu mereka senang dengan saya, baik dengan pendapat saya.

Kirim email ke