sajak ramadhan pohan:
(Penghianatan) Ideologi
sejak mula ideologi memang palsu
membuat sesat jalan-jalan gelap potsdam
mata liar menabrak istana
hitung saja pakai matematik
berapa dibutuhkan serdadu dan falsafah
merancang dunia memetakan pikiran
orang-orang bersorak
dengan bedil dan kertas-kertas
meratakan dan dirikan monumen-monumen
atas kemauan "sebuah dunia sebuah pikiran"
merah, hijau, hitam graffiti menyergap kota
langit mendung menetes darah
mereka berlari dan menabrak suhu di bawah nol
makin terengah makin jauh dari titik final
luruh menciut membeliak bumi makian
usaikan, usailah perhitungan gila ini
bunuh, bunuhlah ideologi apapun
di sini
di sana
gantung saja kata-kata
muntahkan nanahmu dari cawan memabukkan
sebab, berapa kepala lagi harus disusun sebagai tembok lama-baru?
apa pun, tak ada namanya kemegahan
kalah atau menang tetaplah kematian
kesia-siaan penantian yang tak selesai
untuk hari ini
untuk hari esok
rest in peace: !
Berlin-Hamburg, Winter 1994
sajak ramadhan pohan:
Transisi Peti Gantung
Membuka peti usang yang dulu pernah mereka usung menuju tiang gantungan; aku
melihat bercak darah, kain lap basah, dan kitab-kitab tua yang baunya memecah
langit: memuntahkan sel-sel sperma baru aneka warna, tak saling kenal, menyapa
pun tak; hanya maki-makian dan curiga yang tak pernah padam, terus begitu.
Menyeru seorang tuli, persis di dekat Brandenburg Tor, ''Kita sesungguhnya tak
pernah bersaudara!,'' maka berbaris-baris anak muda skinhead memboyong
nyanyian luka, membenamkannya ke wajah-wajah gypsy, kaum mata sipit, turki dan
entah apa lagi.
Keragu-raguan membuncah saat menatap awan teriris di atas alexandr platz, yang
cuma menyisakan kepengapan, meledakkan marx-engeles di topi rusia milik
honecker; pecah dan remuklah segala impian orang-orang: siapa pun!,
sebagaimana kohl menyesali kepalannya yang berjamur.
Kaki-kaki berserak menyapu kedunguan: ruang partai, gedung jangkung, dan
segala pikiran yang pernah diyakini.
Berlin-Hamburg, Winter 1994