Subject:
[IMAGI] cerita menegenai Tim-Tim
Date:
Fri, 12 Feb 1999 19:00:50 -0000
From:
"Eko A.A. Rifky" <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To:
[EMAIL PROTECTED]
To:
"IMAGI" <[EMAIL PROTECTED]>
Kawan-Kawan Semuanya,
Berikut ini saya lampirkan e-mail saya kepada kawan-kawan PPI-UK cabang
Liverpool yang merupakan inti diskusi kecil antara
saya dan seorang teman dari Tim-Tim yang kebetulan bertemu dan
berkenalan di sebuah acara yang disponsori oleh University
of Liverpool dan Socialist Worker Student Association mengenai
Indonesian Revolution. Cerita mengenai acara itu sendiri akan
saya coba forward e-mail dari seorang teman yang kebetulan turut
menghadiri acara tersebut.
Kemarin sepulang dari diskusi Indonesian Revolution di Eleanor Rathbone,
saya dan seorang kawan dari Timor Timur yang
bernama Savio sempat menghadiri sebuah diskusi umum lagi yang bertempat
di Flying Picket....diskusi umum yang juga
diadakan oleh Socialist Worker ini pada dasarnya membahas tentang
pilihan antara Reformasi dan Revolusi sebagai pola
perjuangan mereka di Inggris ini. Pada diskusi tersebut, kawan kita
Sandi yang berbicara di Eleanor Rathbone, kembali menjadi
pembicara pada acara ini. Pada intinya yang dibicarakan Sandi di Flying
Picket dan di Eleanor Rathbone tidak berbeda
jauh..hanya saja pada pembicaraan kali ini ia lebih agak dalam mengulas
tentang adanya dikotomi antara kelompok Reformis
dan Revolusionis di Indonesia.
Setelah acara tersebut selesai, saya bersama Savio (seorang kawan dari
Tim-Tim), Sandi serta Alexis (anggota Socialist Worker
dan tampaknya merupakan pendamping Sandi selama di Inggris) sempat
membicarakan tentang posisi Timor-Timur di negara
Republik Indonesia. Berikut ini saya sampaikan beberapa hal yang
merupakan point-point dari diskusi kami tersebut:
1. Pada dasarnya masyarakat Timor Timur di luar Indonesia tidak pernah
memusuhi masyarakat Indonesia yang kebetulan
sedang berada di luar negeri, kalaupun pernah terjadi insiden antara
masyarakat Tim-Tim di luar negeri dan kawan2 Indonesia,
itu semata-mata dilakukan oleh oknum yang kebetulan kurang berpendidikan
(meminjam kata2 Savio). Mereka malah
terkadang heran karena apabila bertemu dengan masyarakat Indonesia yang
ada di Liverpool pada khususnya dan Luar negeri
pada umumnya...kawan kawan Indonesia tersebut sedikit menghindar bahkan
terkadang mengaku berasal dari Malaysia
(kembali meminjam kata2 Savio)....mengenai kasus ini saya telah mencoba
menerangkan kepada Savio bahwa hal tersebut
mungkin terjadi karena pemberitaan tentang kekasaran yang dilakukan oleh
warga Tim-Tim diluar negeri terhadap warga
Indonesia, terlalu menghantui kawan-kawan Indonesia tersebut...Savio
sendiri dapat mengerti soal ini karena pada dasarnya
insiden2 yang terjadi di luar negeri antara warga Indonesia dan Tim-Tim
adalah semata-mata kesalah pahaman belaka dan
bukan merupakan bagian dari doktrin perjuangan mereka.
2. Mengenai posisi Tim-Tim di dalam negara Republik Indonesia, pada
dasarnya secara logika Savio dan beberapa teman-teman
Tim-Tim lainnya lebih memilih untuk bergabung dengan Republik Indonesia,
karena adalah tidak mungkin bila Tim-Tim yang
sekecil itu dengan sumberdaya alam yang terbatas bila dibandingkan RI
dapat bersaing di dalam kancah perekonomian dan
politik global di Asia Pasifik...tetapi karena pendekatan represif yang
selalu diandalkan oleh rezim Suharto dengan ABRI-nya
terhadap kasus 2 Tim-Tim telah menimbulkan dendam yang amat sangat
terhadap ABRI dan segala alat2 birokrasi pemerintah
Republik Indonesia (bukan pada masyarakat Indonesia yang secara notabene
mengalami hal yang sama - sekali lagi meminjam
kata2 Savio). Oleh karena itu tampaknya kemerdekaan Timor-Timur
merupakan satu-satunya jawaban terhadap permasalahan
yang telah menjadi duri dalam daging bagi Republik Indonesia 30 tahun
belakangan ini. Tetapi menurut Savio kawan-kawan
pejuang Tim-Tim tidak menutup kemungkinan untuk kembali bergabung dengan
RI apabila pada kemudian hari masyarakat
Tim-Tim merasa bahwa Pemerintah RI telah berubah menjadi lebih
demokratis dan ABRI telah kembali ke barak sehingga
perlakuan semena-mena oleh ABRI (terutama AD...khususnya Kopasus dan
Kostrad) terhadap warga Tim-Tim dapat di-eliminir.
Saya sendiri pada dasarnya dapat mengerti keinginan dari kawan2 pejuang
Tim-Tim ini karena pada dasarnya terkadang
kemerdekaan itu lebih berharga dari segala hal yang ada di dunia ini,
apalagi pada dasarnya menurut Savio sebagian besar
masyarakat Tim-Tim tidak pernah merasa sebagai bagian dari negara RI
karena proses masuknya ABRI ke Tim-Tim lebih
merupakan invasi dan bukannya memberi pertolongan. Saya kembali lagi
menyatakan diri setuju dengan perkataan Savio ini,
karena secara logika bagaimana mungkin Timor-Timur yang kecil dan
didominasi oleh masyarakat yang kurang berpendidikan
(meminjam kata2 Savio) dapat menentang pemerintah RI selama 30-an tahun
tanpa adanya suatu will-power untuk dapat
menghirup udara kemerdekaan yang tertanam di hati dan jiwa mereka.
3. Seperti daerah-daerah lain di RI ini pada dasarnya tidak ada
pertentangan antar agama di Tim-Tim, apalagi pertentangan
antara masyarakat pendatang dan masyarakat asli (bahkan menurut Savio,
salah satu pemimpin Fretilin merupakan seorang
muslim keturunan Arab yang telah menetap lama di Tim-Tim). Insiden2 yang
terjadi di Tim-Tim antara masyarakat asli (yang
beragama Katolik) dan pendatang dari Jawa dan Sulawesi (yang mayoritas
beragama Islam) semata-mata terjadi karena
adanya rekayasa dari satuan-satuan Intelijen Kopasus dan Kostrad yang
memang ingin menciptakan kesan bahwa orang-orang
Tim-Tim membenci penganut agama lain, yang dapat menjadi alasan agar
operasi2 militer mereka dapat dipertahankan di
Tim-Tim serta agar masyarakat Islam di luar Tim-Tim (yang merupakan
mayoritas di Indonesia) tidak bersimpati atau malah
membenci perjuangan masyarakat Tim-Tim. Ketika ditanyakan soal bukti
dari pernyataannya ini Savio memberikan contoh
bahwa apabila masyarakat Tim-Tim menangkap seorang provokator, ketika
diserahkan kepada instansi militer ataupun
keamanan, esoknya oknum tersebut dapat kembali berkeliaran dengan
bebasnya. Apabila kita melihat pada malapetaka bulan
Juni 1997 kemarin dimana pola-pola seperti ini terjadi pula, saya secara
pribadi dapat mempercayai bahwa kondisi panas di
Tim-tim memang diinginkan oleh instansi2 tertentu.
Demikianlah tiga hal yang menjadi fokus dari pembicaraan kami, melalui
surat ini saya hanya mencoba menghimbau kepada
kawan kawan sebangsa dan setanah air semuanya agar dapat mengerti
mengapa masyarakat Tim-Tim sangat menginginkan
kemerdekaannya hingga kita dapat lebih arif dalam menghadapi kasus
Tim-Tim dan tidak hanya termakan oleh propaganda
sepihak, baik dari pemerintah kita maupun dari pihak yang lain. Akhir
kata saya kembali meminta kepada kawan-kawan
sebangsa dan setanah air agar apabila bertemu dengan kawan-kawan dari
Tim-Tim dapat menunjukan kesan bersahabat,
karena pada dasarnya sampai saat ini notabene mereka masih merupakan
saudara2 sebangsa dan setanah air kita dan kalaupun
pada suatu saat mereka telah merdeka, mereka tetap merupakan tetangga
kita, hingga selayaknya kita memeperlakukan
mereka sebagai tetanggga yang baik dan bukan memusuhi mereka.
Sekian dan terima kasih,
Eko A.A. Rifky
**********************************************************************
*************** EKO ADHAM ADITIANTO RIFKY *************
Liverpool Institute of Public Administration and Management
Faculty of Social and Environmental Studies
University of Liverpool
***********************************************************************
*************** [EMAIL PROTECTED] ***********************
*************** [EMAIL PROTECTED] ************************
**********************************************************************
eGroup home: http://www.eGroups.com/list/imagi
Free Web-based e-mail groups by www.eGroups.com