-----Urspr�ngliche Nachricht----- Von: KdP Net <[EMAIL PROTECTED]> An: -- KdP Net - Indonesian -- <[EMAIL PROTECTED]> Datum: Sonntag, 14. Februar 1999 09:16 Betreff: [kdpnet-id] KdP: Aparat Bubarkan Aksi Damai PIJAR Jakarta >Kabar dari Pijar > > >Aparat Bubarkan Aksi Damai PIJAR Jakarta > >Jakarta hari Minggu (14/2) 'dimerahkan' tidak saja oleh aksi PDI Perjuangan >yang mengadakan Halal Bihalal di Istora Senayan dan mengadakan konvoi >keliling kota. Di saat bersamaan seklitar lima puluh aktivis PIJAR Jakarta >mengadakan demonstrasi di Bundaran HI membentang spanduk merah bertuliskan >"Kami Anti Kekerasan". > >Aksi yang dimulai pukul 11.30 itu sempat diwarnai kericuhan. Pasalnya, >sejumlah PHH berjaket coklat pupus yang disinyalir sebagai anggota Kamra, >ngotot membubarkan massa. "Padahal kami melakukan aksi damai di atas trotoar >Bundaran HI, kan tidak memacetkan jalan" keluh Agustin, Koordinator Aksi. > >Dalam aksi bertemakan "Menciptakan Indonesia Penuh Damai dan Anti Kekerasan" >itu, Agustin menyampaikan orasi yang isinya menyayangkan berlarut-larutnya >pengusutan berbagai kasus kerusuhan dan kekerasan yang berlangsung di tanah >air. " Kenapa pemerintahan Habibie hingga saat ini tidak serius >menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di Indonesia" tambah Ucup Akar, >Pijaris Palembang yang kebetulan singgah di Jakarta. > >Meski turun hujan lebat, tak satupun aktivis PIJAR Jakarta beranjak dari >tempat. Setelah selesai membacakan pernyataan sikap, demonstran kemudian >melanjutkan longmarch ke arah Dephankam. Sayang ketika massa sampai di >Bundaran Patung Arjuna, aparat dengan kasar memaksa agar spanduk digulung >sambil mengancam seluruh peserra aksi. "Kalau nggak patuh, kita sanggup >'ngangkut' kalian" ungkap Hendra yang berpangkat Kapten. > >Aksi Anti Kekerasan aktivis PIJAR Jakarta akhirnya terpaksa harus bubar >menghindari bentrok lebih lanjut dengan aparat yang siap melakukan >'sweeping' dengan kekerasan. Para demonstran yang kebanyakan adalah >perempuan, mengeluhkan perlakuan aparat yang tidak simpatik tersebut. >Bahkan, menurut Anik salah seorang peserta demo, beberapa aparat berpakaian >seragam melakukan pelecehan secara terbuka dengan kalimat-kalimat >perundungan seksual.*** > > >PERNYATAAN SIKAP PIJAR JAKARTA >MENCIPTAKAN INDONESIA PENUH DAMAI >DAN ANTI KEKERASAN > >Indonesia masih fasis! 32 tahun Indonesia dalam kekuasaan rejim Soeharto >adalah rentangan jaman yang banyak dinodai oleh penindasan dan pelanggaran >HAM di seantero nusantara. Tragedi Tanjung Priok, Aceh, Lampung, Medan, >Nipah Madura, Papua Barat dan Timor Leste hanyalah beberapa di antaranya. >Tragedi yang satu terjadi silih berganti dengan yang lainnya, sehingga tidak >pernah ada penyelesaian yang tuntas. Meski kepemimpinan Soeharto telah >diganti dengan orang terdekatnya, Habibie, kenyataannya pelanggaran HAM >masih terus terjadi. Hal ini terlihat dengan tidak adanya keseriusan dalam >menangani setiap kasus seperti Tragedi Trisakti, Semanggi, Banyuwangi, >Kupang, Ketapang dan yang paling aktual, Ambon dan Aceh. > >Tragedi yang terjadi tersebut bukan hanya disebabkan oleh kekejaman militer, >pemerintahan Habibie bahkan mempertahankan status quo dengan cara mendiamkan >kerusuhan-kerusuhan di setiap daerah yang diwarnai oleh isu SARA. Hal >tersebut memicu terjadinya tingkat kekerasan yang dapat meresahkan >masyarakat yang selama ini di manfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Kenapa >pemerintahan Habibie hingga saat ini tidak serius menyelesaikan >masalah-masalah yang terjadi di Indonesia. > >Negara ini akan semakin terpuruk bila kita tidak lagi mempunyai rasa peduli >terhadap nasib Bangsa. Ketidakpedulian atau keterlambatan pemerintahan >Habibie dalam menyelesaikan setiap kasus kekerasan harus menjadi catatan >kita, bahwa memang tidak mudah memberi kepercayaan pada seseorang untuk >berkuasa. Apalagi bila kekuasan itu terjadi secara de facto, seperti >ketak-tersentuhan Soeharto oleh hukum, ataupun ABRI yang dengan kekuatan >senjata bisa tak peduli pada suara-suara keberatan masyarakat. Jika demikian >halnya, yang sesungguhnya tercipta hanyalah ketakpastian politik, kekacauan, >anarkhi, penguasa inkonstitusional, dan negara dalam negara. > >Karena itu, PIJAR Jakarta yang konsisten untuk menciptakan Indonesia penuh >damai, menuntut: > >1. Usut tuntas tragedi-tragedi berdarah selama ini, khususnya tragedi Aceh >dan Ambon; >2. Hapus total dwifungsi ABRI; >3. Hentikan politik kekerasan; >4. Stop politik adu domba SARA; >5. Ciptakan Indonesia yang cinta perdamaian. > > >Jakarta, 14 Februari 1999 > > > >Agustin MW >Koordinator Aksi > >
