Jakarta lagi..jakarta lagi....Kapan yang di Irian-nya bisa membangun
diri kalau semua UANG lari lagi ke Jakarta?

Yang satu persen (1%) juga belum diberikan bagi penduduk sekitar (Suku
Amungme) sekarang sudah nyumbang buat Pemerintah Pusat 200% Kenaikan Royalti
Padahal sudah dijanjikan sejak 1996 (Waktu Prabowo turun ke Timika demi
menengahi pembicaraan antara Moffet dan Suku Amungme yang mengamuk)

Setidaknya jangan semua 200% DIKERUK sama Jakarta, ngga ADIL donk..
DPR sama MPR di Jakarta ngga mikir sama Kesengsaraan yang telah diderita
para penduduk sekitar. Pikirnya Freeport Hanya Merugikan Indonesia secara
Umum, padahal yang harus mandi air coklat bekas limbah dari Mil-74 adalah
penduduk desa Banti sampai Ammamapare. Siapa yang harus tiap hari melihat
keruhnya sungai Otakwa, atau gundulnya daerah aliran sungai di Timika?
Atau melihat menciutnya Gunung Es dari Kejauhan Desa Tsinga?

Ngga habis pikir sama anggota DPR/MPR, katanya memperjuangkan kepentingan
Nasional, kok kepentingan "Dewek" yang diperhatikan sendiri.

Gua ngomong sendiri kayak orang gila kalau begini sih..Apakah hanya
saya sendiri yang "merasa" rakyat Irian diperlakukan tidak adil,
Setiap diskusi sama Orang Indonesia (Bukan dari Irian) selalu mereka
bilang Freeport merugikan Indonesia, tanpa sedikit menyinggung kerugian
yang diderita oleh Rakyat Irian atau Penduduk Asli Suku Amungme.

Kok kita SELFISH sekali, hanya merasakan ketidakadilan thd pembagian
saham Freeport 80% dan INDONESIA (BUKAN IRIAN) 20%.
Kalau rakyat Iriannya meneriakkan ketidakadilan, Kita berondong dengan
peluru seperti di Menara Air Biak.

Aduh kalian betul-betul ngga adil sekali, kok pandangannya sempit sekali.
Hanya merasa dirinya dirugikan, padahal tidak pernah terlibat langsung
dengan mereka-mereka yang merasakan hidup dan tinggal di sekitar penambangan
Hanya teriak-teriak kalau kas di Jakarta sudah kosong..dan tidak peduli
sama sekali dengan warga iriannya.


Andrew Pattiwael





**************************************************************************
Pembagian Royalti FI Permainan Elit Politik

 Sumber : Cenderawasih Pos, 16 Februari 1999

 Jayapura, Cepos,

 Setujuan PT Freeport Indonesia Company (FIC) membayar royalti tambahan ke
 pemerintah Indonesia, atas pembangunan volume produksi di atas 200 ribu ton
 biji tambang perhari dan berlaku mulai 1 januari 1999 akan berdampak negatif
 pada anak cucu bangsa Indonesia.

 ''Masyarakat tidak akan menerima hal itu, sebab masyarakat lokal juga akan
 berpikir bahwa penambahan produksi di atas 200 ribu ton biji tambang per
 hari,
 maka anak cucu kita tidak akan menikmatinya. Karena hal itu sebagai ulah
 elit
 pengusaha asing dan elit pemerintah kita,'' jelas pelaksana harian (Plh)
 Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jayapura paul baut kepada Cenderawasih Pos,
 kemarin.

 Menurut dia, kekhawartiran masyarakat Irja khususnya masyarakat yang
 bermukim
 di kawasan penambangan Tembagapura ini perlu dimaklumi. Sebab, peningkatan
 penambangan produksi di atas 200 ton biji tembaga per hari, pemerintah
 Indonesia juga mendapat iming-iming kenaikan tambahan 200 persen Royalti
 dari
 PT FIC.

 Masyarakat pedalama di puncak Gresbergst Tembagapura, kemungkinan ada rasa
 tidak tahu, bagaimana proses itu, tetapi masyarakat kecil tersebut selama
 ini
 tertekan dan tidak tahu bagaimana proses riyalti dan keuntungan yang diraih
 dari segala urusan yang mengenai tambang di Tembagapura ujar Paul baut.

 Yang diketahui oelh lapisan masyarakat kata dia, adalah transparansi
 mengenai
 pembagian royalti itu. Kekayaan yang diambil oleh pengusaha asing dan
 pengusaha
 Indonesia, akan berdampak pada kerusakan lingkungan. ''Inikan bisa
 menimbulakan
 kerawanan juga di irja karena masyarakat sendiri akan saling
 curiga-mencurigai
 yang mana akan bernampak pada tantanan hidup masyarakat juga dong,''
 katanya.

 Sementara perhitungan masih dilakukan, rakyat pedalaman Tembagapura tidak
 tahu,
 sementara setelah perhitungan habis, PT FIC mulai mengambil alih semua
 dengan
 habis-habisan mengambil bijih tambang yang sangat banyak. Tampa melihat
 faktor
 lingkungan yang nantinya berdampak pada, kelangsunan idup bangsa
terkecil di
 dunia.

 Oroentasi dari PT FIC adalah memperkaya diri sendir, sebab tidak ada satu
 pun
 pengusaha yangmau rugi setelah membayar royalti yang cukup besar. Sementara
 orientasi rakyat adalah ingin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
 ''Ini
 akan tidak bersatu, mana ada pengusah seperti FIC mau rugi, anggak ada.
 Karenanya seharusnya FIC juga memperhatikan kelangsungan hidup berbangsa di
 tempat penambangan. Sementara unutk rakyat Irian Jaya sendiri hanya bisa
 diperkirakan pada pembagian royalti yang selama ini menjadi keributan,
 padahal
 tidak menyadari bagaimana nanti setelah massa kontrak FIC habis terus
 kekayaan
 alam kita habis juga, anak cucu kita tidak dapat menikmati. Ditambah
 kehancuran
 lingkungan hidup yang jelas akan ditinggalkan oleh pengusaha itu,'' katanya.

 Karena itu, seharunya pemerintah jangan memikirkan royalti yang besar saja,
 tampa melihat ke depan. Sebab kekayaan alam itu akan habis di ambil
 semuanya.
 Anak cucu bangsa tidak dapat menikmati lagi. ''dan pengusaha tidak mau
 peduli
 lagi sama kita setelah habis kontraknya,'' katanya. (mul)

Kirim email ke