>Itukan mainan biasa. Saya enggak percaya perlu pake alat yang sangat
>canggih dan biaya besar. Yach cukupanlah, apalagi kalo yang pengen
>denger memang ada di dalem...who knows???

Yw: Ada yg bilang: "...Habibie itu orangnya ingin senantiasa aktif,
    sehingga dia tidak suka bertelepon sambil duduk, tapi biasanya
    nelpon sambil mondar-mandir pake telpon cordless."
    Ini bener apa enggak? Saya tidak berhasil mendapatkan konfirmasian
    dari mana pun juga (karena emang nggak nyari, sih ;-).

    Kalo ini yg terjadi (BJH pake cordless), maka penyadapan itu gampang
    bin gampil. Anak kecil juga bisa menyadap, tapi tentunya: anak kecil
    yg jenius! Kalo anak kecil yg biasa ya tidak bisa. Entah masuk
    kelompok anak kecil atau tidak, anak ITB jurusan elektro
    telekomunikasi tingkat dua, rasanya bisa sekali menguping whoever
    yg bicara lewat cordless gituan.

    Gampangnya: cordless itu, kan, handset dan pesawatnya
    berfungsi seperti pemancar radio dan penerima radio. Jadi ya,
    siapa yg bisa bikin radio yg sensitif, di-tuning pas modulasinya
    dg pesawat cordless itu, ya kenalah. Bikin radio yg sensitif yg
    memungkinkan nguping istana dari misalnya: stasiun gambir, (menurut
    saya) rada sulit juga, dari US embassy mungkin agak sedikit lumayan,
    dari Ambon,... rasanya sebaiknya nggak perlu dicoba, deh. ;-)

    Tapi andainya radionya nggak terlalu sensitif, tapi orangnya
    berkesempatan nongkrong di dekat yg mau disadap itu, ini juga bisa
    banget.

    Dari langit juga bisa (pake satelit mata-mata). Di US
    (denger-denger dari temen Tentara yg suka bicara ngalor-ngidul),
    ada satelit militer yg kerjaannya nguping pembicaraan radio.
    Biasanya, digunakan utk menyadap pembicaraan militer kalangan
    US Armed Forces sendiri, utk keperluan investigasi, analisis,
    dlsb.

    ...

    Andaikan itu tidak benar, dan cordless tidak dipakai,
    menyadap melalui kabel Telpon juga gampil surampil-rampil
    dan bisa dilakukan oleh anak balita (tentunya yg jenius).

    Sayang di sayang, kelihatannya awareness dalam mengamankan
    informasi di kalangan atas di Indonesia agak kurang sip.
    Jadi bocoran informasi terjadi terus menerus. Inget nggak,
    dulu ada bocoran mentri kabinet, bocoran nama bank,
    apa lagi deh, silakan diinget-inget.

    ;-)

Kirim email ke