>To: [EMAIL PROTECTED] >From: alex <[EMAIL PROTECTED]> >Subject: Re: NAsionalisme=Slogan? > >Dear Rekan-rekan, > >Ini saya kutipkan kelakar dari Wimar Witoelar.......di Kompas hari ini.. > >Menurutnya nasionalisme itu hanya slogan, karenanya nggak perlu >ditumbuhkan. Yang harus ditumbuhkan dalam diri anak-nak sejak dini >yakni tanggung jawab sosial dan kemasyarakatan. Ungkapan perlu penambahan >rasa nasionalisme sejak dini hanya slogan seperti jaman Mussolini, yang digunakan penguasa sebagai alat politik. > >Menurutnya lagi membuat lingkarn sosial yang baik disekolah dan memberi teladan merupakan cara ampuh bagaimana menumbuhkan manusia berbudaya. >Masalahnya : siapa pimpinan yang memberikan teladan kalo kabinetnya sendiri >terdiri dari para PREMAN, ujar Witoelar. > >Soal ini sebaiknya ditanggapi secara kelakar saja kata Witoelar... >Menurutnya permintaan Habibie hanya ingin memojokkan orang-orang yang tidak suka dengan pemerintah. Negara itu kan seperti rumah, kalo rumahnya enak dihuni, kita kan enggak usah ke rumah orang lain toch!! >Kalo sekolah ke LN dilarang ya tolong buat sistem pendidikan yang bagus. Dan tolong jangan ada tawuran melulu (ini tambahan dari saya) > >Ia jugatidak sreg dengan istilah tercabut akarnya. Karena kewajiban mempelajari P4 dan mengikuti upacara bendera bukan tanda seorang nasionalis. Semua itu hanya istilah yang diciptakan penguasa untuk kepentingan politiknya. > >Mengenai kecendrungan anak-anak sekarang yang fashionable ia mengatakan biarkanlah. Masih untung anak-anak itu tidak korupsi toh yang salah ortu dan pemerintah. >Kalau mau dilarang adalah jangan membakar rumah ibadah, jangan korupsi, jangan tawuran bukan melarang sekolah ke LN. > >Kalau alasan untuk menghemat devisa, sebaliknya ia mengingatkan Keluarga >Habibie untuk tidak sering-sering berlibur ke Jerman. Bagaimana dengan Feisal Tanjung yang menyimpan uangnya di Australia, atau Ginajar yang sering ke LA >(apa dia punya condo disana ya). Seharusnya mereka yang dilarang.........hehehe > > >Sumber Kompas 15.12.98 >
