tetap saja, tindakan mahasiswa kali ini kayak PAM Swakarsa, pake agama
sekenanya. bahkan mengada-ada.

Cuma masalahnya ketika dulu PAM Swakarsa tahlilan di tugu proklamasi, KISDI
(yang?) mendukung dan mahasiswa+penduduk sekitar mengusir mereka, terus
sekarang yang terjadi kebalikannya........jadi ya nggak ada yang beres
(kecuali saya! lho)

dan Bung BRidwan bilang tidak ada salahnya SAMA SEKALI????, wah..wah


-----Original Message-----
From: BRIDWAN [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, 25 December 1998 16:03
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: GUS DUR SETUJU TARAWIH di Jembatan Semanggi(tanggapan)


Saya ? Setuju saja.
Tidak ada salahnya sama sekali !
Soal sah tidak sahnya, dosa tidak dosanya?
Memangnya manusia yang menentukan ?

Masalah macet, ya jangan liwat sana dong !
Liwat alternatif yang lain kan masih banyak.
Kena[a musti dipersulit sih masalahnya ?

Hidup Mahasiswa !!


At 15:56 24/12/98 EST, Ramadhan Pohan wrote:
>Salam!
>Gus Dur bilang setuju dan OKE-OKE saja.
>KISDI terang-terangan menolak.
>Anda?
>
>Berikut laporan Jawa Pos
>
>Wass
>ramadhan pohan
>--------------------------------------------------
>Salat Tarawih Jangan di Jalan Raya
>
>Kapolri dan Gus Dur soal Rencana Peringatan Tragedi Semanggi
>
>Jakarta, JP.-
>
>Kapolri Letjen Pol Roesmanhadi menyayangkan rencana mahasiswa UI untuk
>melakukan salat tarawih di Jalan Jenderal Sudirman, sekitar Jembatan
Semanggi,
>Sabtu besok. "Kegiatan keagamaan seperti itu ya seharusnya di masjid.
Kalau di
>jalan berarti tidak benar,'' katanya kepada wartawan di Jakarta kemarin.
>
>Menurut Kapolri, salat di jalan akan mengganggu ketertiban dan kepentingan
>masyarakat lain, yang juga punya hak sama untuk menggunakan jalan tersebut.
>Namun, Polri akan tetap mengamankan dan melindungi pelaksanaan tarawih,
asal
>tidak mengganggu kepentingan dan ketertiban umum.
>
>''Silakan mahasiswa melakukan keramaian atau renungan, asalkan kepolisian
>setempat dilibatkan dalam pengaturan lokasi dan waktu kegiatan,'' jelasnya.
>Bahkan, lanjut dia, Polri wajib melindungi kegiatan itu jika panitia
menuruti
>anjuran aparat dan memenuhi semua ketentuan UU No. 9 Tahun 1998 tentang
>Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
>
>Seperti diketahui, keluarga besar UI berencana mengadakan salat isya dan
>tarawih di Jalan Sudirman. Ini dimaksudkan untuk memperingati 40 hari
tragedi
>Semanggi, yang menewaskan beberapa mahasiswa akibat bentrok dengan petugas
>yang mengamankan unjuk rasa pada 13-14 Mei lalu.
>
>Seorang aktivis mahasiswa UI yang juga salah satu penggagas tarawih
tersebut
>mengatakan kepada Jawa Pos bahwa rencana itu serius. ''Misinya, hanya ingin
>menyadarkan bahwa tindakan aparat keamanan terhadap aksi mahasiswa
berlebihan.
>Itu terbukti dari banyak korban jiwa akibat sikap represif aparat,''
ujarnya.
>
>Selain itu, dengan peringatan tersebut, menurut dia, mahasiswa semakin bisa
>menyadarkan masyarakat bahwa gerakan mahasiswa perlu didukung. Sebab,
>perjuangan mahasiswa murni gerakan moral. Yang dia pertanyakan, mengapa
aparat
>menyikapi gerakan mahasiswa ini dengan tindakan brutal.
>
>Sementara itu, Ketua Umum PB NU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Ketua
KISDI
>(Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) Achmad Sumargono punya
>pandangan tak sama terhadap rencana tersebut.
>
>Gus Dur menyatakan setuju rencana tarawih di Jembatan Semanggi. ''Saya
setuju
>saja, wong cuma tarawih saja, kok,'' ujarnya ketika dihubungi di rumahnya,
di
>Ciganjur, Jakarta Selatan, kemarin.
>
>Menurut Gus Dur, rencana pelaksanaan tarawih di jalan raya itu bukan
masalah.
>Sebab, tentu aparat keamanan akan mengantisipasi untuk mengamankannya. ''Ya
>biar saja, biar pusing Pak Noegroho Djayoesman (Kapolda Metro Jaya, red),''
>katanya.
>
>Ketua KISDI berpendapat rencana tersebut perlu dikaji ulang. Soalnya, jika
>dilaksanakan, bisa timbul kekacauan dan mengganggu ketertiban umum. Bahkan,
>Sumargono menilai rencana salat di jalan itu melecehkan nilai Islam dan
>memolitisasi nilai-nilai Islam.
>
>''Jika ingin memperingati 40 hari korban Semanggi, seharusnya, itu
dilakukan
>di tempat lain, bukan dicampuradukkan dengan ibadah dalam Islam. Sebab,
dalam
>ajaran Islam, tidak dikenal peringatan meninggalnya seseorang, seperti
tujuh
>hari, 40 hari, seratus atau seribu hari,'' katanya.
>
>Sumargono khawatir, peringatan dengan mencampuradukkan ibadah Islam dengan
>simbol-simbol agama telah dipolitisasi dan dilecehkan. Karena itu, dia
>mengharapkan, jika mahasiswa UI ingin berunjuk rasa terhadap pemerintah,
>hendaknya dicari waktu dan tempat yang tepat. Jangan mengambil momentum
ibadah
>agama untuk kepentingan politik.
>
>

Kirim email ke