Wah salut ama Bung Pattiwael.....gitu dong...saya nunggu anda comment
nich ........
Betul saya sendiri tidak tega melihat prajurit-prajurit yang kelelahan
sementara jendralnya ngecek di lapangan (paling banter 30 menit dan dateng
dengan LAND ROVER terbaru yang harganya sekitar 200-300 jutaan) dan kemudian
balik ke rumah di Kebayoran Baru atau Menteng dengan kamar ber-AC entah 2-3 atau
lebih.
Kemudian ngecek anaknya yang sekolah di LA atau Boston dengan handphone
Nokia 8810-nya......sungguh mengenaskan......
Kalo rekan-rekan nggak percaya sekali-kali keliling di dekat komp.
Pangkalan JAti yang rumah-rumahnya setingkat komp Pondok Indah (Jalan Utama).
Denagn mobil 2-3-4-5 jumlahnya dan berkelas....dengan pagar-nya yang
tinggi-tinggi.
Jauh dari rasa krisis yang mencekik....
Bung Pattiwael saya tunggu comment berikutnya
Wass
AL
>From: Andrew G Pattiwael[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: 26 Desember 1998 10:03
>Subject: Bukan Ratih, Tetapi Sadar akan Rakyat
>
>Bukan Ratih yang kita perlukan, tetapi ABRI yang sadar bahwa
>untuk menenangkan rakyat, tidak dibutuhkan senjata dan peluru.
>tidak dibutuhkan Pam Swakarsa dan preman-preman Anton Medan dll.
>yang dibutuhkan rakyat adalah kesadaran dan kepercayaan ABRI,
>bahwa kita semua menginginkan orde lama diadili, kita semua
>ingin bertobat, kembali dari jalan yang penuh dusta dan kemunafikan
>sudah cukup pertumpah darahan, sudah cukup rekan-rekan mahasiswa
>terluka, terbunuh dan tertinggal pelajaran. Sudah cukup rekan-rekan
>prajurit menderita harus melawan kata hati demi menuruti kata perintah.
>Sudah cukup setahun kita menderita. Sudah capai kita semua melalui
>hari-hari yang suram ini, sudah capai kita terus-terus ketakutan akan
>terjadi sesuatu yang mengerikan atas saudara dan keluarga di Indonesia.
>
>Hentikan deh omong kosong, tolak pinggang dan segala tindakan yang pura-pura.
>Rakyat lapar, berikan mereka makan, bukan berikan 300 milyar untuk membeli
>pentungan dan rotan. sudah cukup ABRI, latih lah mental ABRI, bukan latih
>mereka dan menambah jumlah mereka. Mental mereka yang diatas-atas inilah
>yang perlu dilatih, sudah cukup mengadu domba ABRI dan rakyat, bapak-bapak
>jendral, kasihan mereka, mereka tidak bisa semewah dan senikmat bapak-bapak
>yang berpangkat dan bergelimangan uang. Prajurit dan rakyat jelata juga
>lapar..banyak adik-adik kecil di perumahan kumuh kekurangan gizi. Mau jadi
>apa mereka besarnya nanti?
>
>Apakah bapak-bapak jendral masih mempunyai moral? tidak usah mereka
>disekolahkan seperti anak-anak bapak keluar negeri, dibelikan rumah dan
>mobil mewah. Cukup berikan sandang dan pangan yang secukupnya, berikan
>pendidikan yang memadai di negeri sendiri, setidaknya berikan apa yang
>mereka berhak terima. Lihat lah sekeliling Mabes, Makodam, dll.
>Belikanlah 300 milyar itu nasi yang secukupnya, atau obat yang murah.
>
>Mungkin mulut seorang Pattiwael tidaklah akan didengar, mungkin mulut
>se-permias@ pun tidak dapat didengar. tetapi setidaknya kita pernah
>bersuara, walau hanya sepatah dan dua patah kata saja.
>
>Andrew Pattiwael
>The Military College of Vermont
>Norwich University Corps of Cadets
>
>
>
>
>