Salam!
Di sini ada bacaan santai menjelang buka puasa. Kali aja ada yang tertarik
menanggapi.
Salam!
ramadhan pohan

Subj:    Re: [bincang] Prajurit Muslim di Militer AS
Date:   12/27/98 8:03:06 PM !!!First Boot!!!
From:   [EMAIL PROTECTED]
To:     [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
CC:     [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]

Prajurit Muslim di Militer AS


Saat bulan Ramadhan tiba, imam militer Angkatan Laut AS, Letnan M Malak Abdul
Al Muta'ali Ibn Noel, memimpin shalat berjamaah di sebuah masjid. Pada hari
awal Ramadhan lalu, sekurangnya empat ribu orang tampak shalat dengan khusuk
di masjid yang terletak di markas AL AS ini. Jamaah tersebut adalah personil
AL AS yang masih aktif bertugas.

''Ini adalah bulan yang menyatukan kita dengan Allah secara spiritual,'' ujar
Noel. Pria berusia 37 tahun itu telah aktif di AL AS selama 19 tahun. ''Dalam
Quran dikatakan bahwa bulan ini (Ramadhan) adalah bulan untuk Allah,'' ungkap
Noel.

Islam ternyata tak lagi asing di kalangan masyarakat Amerika. Pemerintah AS
memperkirakan sekitar 3,5 hingga 6 juta umat Islam tersebar di berbagai
kalangan AS, tak terkecuali di bidang militer.

Sejak Perang Teluk Persia pada 1991 -- ketika itu pasukan AS diturunkan secara
besar-besaran di Timur Tengah -- kesadaran orang Amerika akan Islam meningkat.
Militer Amerika bahkan kemudian berupaya mengakui agama yang satu ini dan
memberinya status yang sama seperti halnya agama Kristen dan Yahudi.

Menurut jurubicara Departemen Pertahanan, Letkol Tom Begines, 70 persen dari
1,4 juta personil militer AS yang masih aktif secara sukarela menjadi pemeluk
agama. Dan 4.000 di antara mereka, memilih menjadi muslim. Angka ini meningkat
dari 2.500 pada 1993.

Namun angka sebenarnya diperkirakan lebih besar lagi akibat ada sebagian orang
yang enggan mengungkapkan keislamanannya di hadapan publik. Menurut ketua
Asosiasi Muslim Militer Amerika (MAMA), Sersan Talib Shareef, kini ada sekitar
sepuluh ribu penganut Islam dalam tubuh militer AS.

Termasuk di antara mereka adalah warga kelahiran Amerika seperti Noel. Noel
berasal dari Salem, New Jersey. Noel masuk Islam pada 1989 lalu dan terlibat
dalam Operasi Badai Gurun 1991 silam.

''Saya tidak pernah mendapat kesulitan dari pihak militer untuk melaksanakan
ajaran Islam,'' kata Noel. Noel melanjutkan studinya untuk meraih gelar master
pada bidang hukum Islam, atas beasiswa AL Amerika.

Tujuannya belajar, kata Noel adalah ''untuk mendidik militer mengenai
bagaimana sebenarnya kami.'' Menurutnya, ''Orang membaca segala hal negatif
tentang Islam.''

''Namun ketika mereka melihat orang menjalankan ajaran Islan yang sesungguhnya
... melakukannya dengan ikhlas, demi meraih ridho Tuhan, ... mereka mulai
melihat bahwa ada sifat universal di antara keyakinan ini,'' papar Noel.

Contoh lainnya adalah imigran kelahiran India, seperti kapten AL KM Muhamad
Shakir. Shakir menjadi warga negara AS sejak 1978 silam. Ia menjadi direktur
pelatihan endrokrinologi di Pusat Kesehatan AL Nasional di Bethesda. Ia adalah
salah satu ahli dalam tim perawat George Bush (saat itu menjadi Presiden AS).

''Memang ada niat dan upaya sistematik yang memberi keleluasaan pada muslim
dan muslimah menjalankan ajarannya,'' kata Kapten Mel Ferguson. Ia adalah
asisten eksekutif ketua Imam Angkatan Laut AS. Menurutnya, meningkatnya
personil militer yang muslim ''jelas merupakan fenomena yang tumbuh dan telah
kita ketahui bersama.''

Militer AS memang telah mengakui keberadaan Islam. Selain telah menunjuk tiga
orang imam, sejak 1993 militer juga telah memberikan kesempatan untuk
menjalankan program pelatihan imam. Pentagon juga telah menyediakan makanan
bebas babi, menginjinkan personilnya yang beragama Islam untuk shalat Jumat,
memberi fasilitas perjalanan untuk naik haji ke Mekah, serta menempatkan
simbol Islam sejajar dengan agama lain.

Pada Juni lalu, misalnya, tanda bulan sabit terpampang bersama-sama tanda
salib umat Kristen dan bintang Davidnya umat Yahudi. Ketiga lambang ini
menghiasi bagian luar tempat beribadah di pusat kesehatan AL AS, Bethesda.

''Ini menandakan kemauan AL untuk menghargai keberagaman agama dalam
militer,'' ujar imam dari barisan sipil, Yahya Hendi.

Pada bulan Ramadhan -- saat umat Islam menahan diri dari segala hal yang
membatalkan puasa termasuk makan dan minum -- komandan di kesatuan militer
diharapkan bisa memberi kelonggaran kepadda para bawahannya yang tengah
berpuasa. Misalnya, mereka diberi keringanan dari latihan fisik yang berat.
Para komandan juga menetapkan jam kerja yang fleksibel sehingga personil yang
muslim bisa melaksanakan ifhtar alias berbuka puasa saat maghrib tiba. Mereka
bahkan bisa mengikuti shalat tarawih berjamaah setelahnya.

Sejumlah markas militer memilki ruangan yang disulap menjadi ruang shalat.
Bahkan sekurangnya dua fasilitas militer telah memiliki masjid sendiri.

Sumbangan untuk membangun masjid pun datang dari luar AS. Pada 1992,
pemerintah Arab Saudi telah menyumbangkan dana untuk mengubah sebuah kantor
menjadi masjid di Pangkalan Militer Eutis di Newport News.

Sementara pada November 1997, sebuah masjid di Norfolk Naval Station dibuka.
Masjid ini terletak di sebuah komplek yang juga memiliki sebuah sinagog
(tempat beribadah kaum Yahudi) dan dua buah kapel milik umat Kristen.

''Menurut saya satu hal penting adalah para pelaut Muslim diberi dukungan
religius yang sama besarnya dengan para pelaut yang beragama Yahudi maupun
Kristen,'' ujar mantan komandan pengakalan yang kini ditunjuk sebagai kepala
operasi di Pentagon, Kapten John N Petrie.

Toleransi tampaknya mewarnai militer AS. Sejumlah umat Islam bahkan menyebut
militer sebagai pelopor dan mendobrak perbedaan rasial setelah Perang Dunia
II. Menurut mereka, militer pun bisa memainkan peran serupa dalam mempelopori
sikap saling pengertian pada keyakinan yang beragam.

''Saya masuk militer ketika integrasi dimulai,'' kata imam masjid Masjidush-
Shura, Ghayth Nur Kashif. Ia telah bergabung dengan Angkatan Udara AS sejak
empat tahun lalu.

Sementara kalangan Islam lainnya menilai, kehadiran Islam dalam militer
mengurangi momok menakutkan mengenai Islam setelah pemboman di kedubes dan
aksi terorisme lainnya. ''Kehadiran kami malah harus meladeni orang yang
mengutuk ... setiap aksi kekerasan terhadap orang tak berdosa,'' sessal
Shareef dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan MAMA.

''Padahal aksi semacam itu bertentangan dengan agama kami. ... itu bukan
prilaku Islami,'' tambah Shareef yang kini berkantor di Fort Gordon Air Base,
Georgia.

Shareef mengakui, serangan terorisme kadang meningkatkan ketegangan antara
umat Islam dan non muslim di militer. Dalam sejumlah wawancara oleh Washington
Post, beberapa pemeluk Islam mengaku pernah ditanyai, ''Apakah yang ada di tas
Anda itu bom?'' atau ''Apakah namamu Saddam Hussein.

Seorang pria bahkan mengaku punya pengalaman buruk beberapa tahun silam. Saat
itu, rekan-rekannya sesama prajurit latihan baris-berbaris yang sambil
menyanyikan mars ''Aku ingin membunuh seorang Arab''.

Namun demikian, mereka mengakui bahwa perlakukan bernada minor itu tak sering
terjadi. Mereka mengakui, militer AS cukup mengakomodasi para penganut Islam.

''Banyak orang yang kenal saya telah belajar sedikit tentang Islam dari
saya,'' ungkap opsir Undra Tincani, wanita berusia 24 tahun yang bekerja di
pangkalan Norfolk. Saat serangan terorisme muncul, katanya, maka teman-
temannya yang non muslim bisa menyampaikan bahwa ''orang-orang tersebut
(teroris, red) tidak menjalankan agama sebagaimana seharusnya.

Tincani lahir di Los Angeles dan masuk Islam pada 1994. Saat menjalankan
tugas, ia biasa menggunakan topi seragam sebagai pengganti jilbab. Bahkan
ketika ia berada di kawasan yang mengharuskan seluruh anggota AL membuka
topinya, ''saya tetap memakainya setiap saat''.


Republika Online 12/28/98

Kirim email ke