In a message dated 1/1/99 11:26:12 AM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED] writes:
<<
INDI
PS: tunggu dulu, mas Ramadhan...
"mendurhakai agama" itu bagaimana caranya?
apakah itu ada hubungannya dengan "membohongi diri sendiri"?
>>
Salam!
Bung INDI, dalam puisi Bumerang yang Anda angkat ke permukaan itu, ada
tendensi ingin "aneh-aneh". Terus terang, saya sendiri tidak mau menghakimi
puisi-- sebab itu bisa mengingkari hati nurani saya sendiri.
Mohon dimengerti, saya HANYA SEKADAR mengingatkan bahwa puisi yang Anda angkat
itu pasti menimbulkan penolakan (bisa jadi penghujatan) umat beragama. Percaya
atau tidak, gara-gara puisi/sastra orang bisa bunuh-membunuh-- BIASANYA
KARENA PENGANUT AGAMA TERTENTU TERSINGGUNG DAN MERASA DISEPELEKAN ATAU
DIHINAKAN AGAMANYA.
Anda jangan tangisi itu sebagai "fenomena Indonesia". Tapi tolong dimengerti
itu sebagai persoalan yang bisa timbul di mana saja, di AS, Inggris, Italia,
Turki, India-- nggak usah menyebut Iran, Irlandia dll.
Ingat fatwa ttg Salman Rushdie? Ingat ttg Monitor-nya Arswendo Atmowiloto?
Soal ini jangan semata-mata dilihat sebagai kebebasan berpikir dan berekspresi
ataupun berseni. Sebab-- bagi kalangan lain-- imajinasi atau kebebasan
ekspresi sejenis Salman atau Anda dkk itu seolah menjadi ''kebebasan untuk
menghinakan keyakinan orang-orang lain.''
Mau tahu yang mana yang saya anggap membuat Anda dan teman penyair Anda itu
mesti waspada (Ojo dumeh, man)? Ini saya kutipkan:
>>tuhan mengutuk tuhan
> >>tuhan mengutuk manusia
> >>manusia membunuh tuhan
> >>Tuhan membunuh manusia
> >>
Jelas?
Bagi Anda dan teman Anda yang gegabah dan takabur (maaf, saya anggap Anda
terlalu arogan dan angkuh)-- mesti hati-hati deh. Soal keliaran filosofis
maupun penjelajahan spiritual adalah biasa dalam sastra-- saya akui sendiri
itu. Tetapi sensitif saya tetap terpasang. Ini artinya saya hidup di
masyarakat, hidup dalam alam peradaban yang tidak sendirian, mesti perduli
kepada orang-orang lain. Saya yakin, kita tidaklah perkasa hanya karena kita
mencoba mempermainkan agama (Saya lebih senang menggunakan istilah bahwa Anda
dkk TIDAK "sensitif" atau "peka" "perduli").
Salam!
ramadhan pohan
(orang yang tak tahu apa-apa soal puisi, filosofi dan religi-- cuma sekadar
SENSITIF)