Indra Adrisudiro wrote:
> On Mon, 15 Mar 1999 01:37:55 -0500, FNUB wrote:
> -----------------------------------------------
> |> Nah, ini dia abang kita sudah perlihatkan taringnya.
> |> Apakah tindakan Tommy merupakan isyarat keluarga
> |> Cendana kepada aparat hukum untuk sadar dengan power
> |> yg masih dipunyai keluarga itu? Ataukah tindakan
> |> itu sekedar impuls dari seorang anak bontot laki-laki
> |> yg sudah terbiasa diperlakukan sebagai anak emas?
> |> Mari kita lihat babak selanjutnya...
>
> Mbah:
>
> Saya pribadi sih ngeliatnya sebagai fenomena post-
> power syndrome. :)
>
> Biarpun officially udah nggak punya power, tapi masih
> nyoba-nyoba ... syukur-syukur kalau masih banyak yang
> takut sama dia -- ngono batine.
>
> Hopefully yang begini-begini nggak tahan lama ...
Eh, ini ngomongin Mas Tommy itu atau bapaknya? Kalau
bapaknya menurut saya memang masih punya (limited) power.
Jadi belum bisa dibilang kena post-poer syndrome.
Kalau Mas Tommy and his siblings nah itu memang bisa
dibilang begitu. Tapi saya yakin sebentar lagi Tommy akan
merevisi statement-nya. Mari kita lihat, mau taruhan.....?
Masih menurut saya, power Pak Harto saat ini hanya cukup untuk
menerangi diri beliau sendiri, dan saya rasa sebaiknya dia pake
untuk keperluan itu saja. Jangan menggunakan baterai terakhir
untuk membela anak-anaknya. Nggak cukup kuat lagi lah.
Kalau memang niat, sebetulnya tokoh-tokoh reformasi itu sebaiknya
mengarahkan tuntutannya ke anak-anak ini dulu, bukan ke bapak.
Mengapa? Karena semua problem yg timbul dari ruistlag, BPPC,
tol, dll, semuanya kan punya bukti hitam di atas putih. Jadi proses
hukumnya lebih mudah. Herannya kita nggak pernah semangat
ngomongin kemungkinan ini. Mau nuntut Pak Harto dengan
jumlah kekayaan, wah sulit, mosok orang mau minta kwitansi,
"Ini lho upeti saya, tolong dikasih tanda terima". Asset tak berjalan
macam tanah dll. juga rada sulit. Punyanya Pak Harto itu apa saja
sih? Paling nggak akan lebih banyak dari punyanya para jendral
bintang 3 (yg juga udah kebangetan kayanya). Kalau ngomongin
hartane anake nah baruuu....
Kalau ngejar bapaknya dulu wah proses hukumnya bakal lama.
Dari dulu saya juga sudah sering tulis yg ini.
In fact kemarin itu saya pengen protes ke AR masalah ini.
Soale menurut saya, statement AR menuntut Pak Harto buat saya lebih
bernuansa politik. Ndak mungkin AR nggak tau seberapa lama
proses pengadilan bakal berlangsung. Saya takut aja giliran masih
pada saat proses hukum tiba-tiba eyang tersayang 'dut'. Lha ini
kan mencemarkan sejarah bangsa kita. Presiden pertama meninggal
dalam status (resmi maupun tidak) tahanan rumah, lalu prez kedua
meninggal dalam status terdakwa. Mungkin kompromi politik semacam
perlakuan thd prez Korsel diperlukan. Perlu ditawarkan ke Pak Harto
mau nggak ngaku salah dg cepat lalu minta maaf kepada rakyat,
lalu langsung dikasih grasi. That's it, that's enough for us. Kita kan
bukan masyarakat barbar yg haus darah dan ingin orang masuk bui
atau ingin orang digantung. Ini penyelesaian terbaik bukan hanya
buat Pak harto tapi juga buat bangsa pada umumnya. Kesan yg kita
tangkap kok orang pengen ngadili (kalo perlu di alun-alun) lalu di-dor...
(to be honest, saya rada kasihan dg Tutut dan Bambang, dalam
skala global mereka merusak tatanan ekonomi dg memacetkan
dana pinjaman & utang, dan merepotkan instansi-instansi terkait dg
perjanjian kerjanya dulu. Tapi mereka berjasa pula dalam membangun
jalan tol dan mendobrak pertelevisian tuh. Nek Tommy, hehe....
embuh ah).
Cukup dulu orek-orek saya hari ini. Any thought, any comment?
Salam,
Eyang Troy
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)