Wah Eyang Troy.......saya tahu koq anda tidak bermaksud menyindir. Sama sekali tidak apa-apa. Istilah Orang Lama saya pakai selain untuk memperlihatkan ketidak sukaan saya dengan Orang-Orang Orde baru sejak tahun 1970-an, juga bisa digunakan sebagai alat bermawas diri. Coba saja kita bayangin, seandainya salah satu dari Golongan Orang Lama menjadi Pemimpin, berapa juta orang yang akan sinis, mengingat pola tingkah laku oknum tersebut selama ini ? Boro-boro mau dididukung, yang ada hanyalah rasa sentimen saja. Salam, bRidWaN At 16:43 18/03/99 -0500, . Brawijaya wrote: >Menwasbang-pan melarang lima menteri untuk kampanye. It's a good sign. >Apa cukup? Jelas belum tho... Apalagi alasan di belakang larangan itu >kurang mantap. Akbar Tanjung kena larangan nggak? Lha kalau enggak >entar enak saja berkampanye. Entar pake dana kantor lagi. Kalau misal >kita jadi bawahan dia lalu minta disediakan dana untuk ini itu dan >enggak jelas apa ya nggak kelabakan. Ditolak masuk tong sampah, mending >diturutin tetap dapat tong...tongkrongan. > >AM Saefudin sudah ikut woro-woro untuk tidak berkampanye, bagus itu. >Memang Rudini jelas tidak bisa menyuruh menteri tidak berkampanye. >Mestinya presiden yg menyuruh. Kalau nggak mampu menyuruh pembantunya >ya sudah. Berarti memang ada pertimbangan lalu. > >Rudini biarpun orang lama (pinjam istilah Bridwan) tetapi sudah termasuk >menteri yg berani pada jamannya dulu. Banyak ide-ide yang cemerlang yg >menuju ke arah reformasi a.l. desentralisasi yg berjalan sangat lambat. >Kita memang perlu waspada terhadap pejabat dan bekas pejabat era ORBA, >tetapi janganlah hantam kromo lalu memberikan cap tertentu. Wah ya belum >tentu tho.... Kita nggak perlu trauma, lha wong kita kan orang yg sehat. >Yang traumatis kan biasanya orang yg tidak dapat menerima kenyataan. Jadi ya >nggak sehat (eh, ini bukan nyindir Bung Bridwan lho, enggak ada itu). Lagi >pula kita nggak bisa mbalik tangan mak grebyak seperti bikin rempeyek, lalu >mau semua serba baru. Semua mesti ada proses. Kalau mau yang serba baru >ongkosnya ya mahal. Contoh ekstrim en klasik buat yg pengen serba baru ya >Polpot itu. Bukan sekedar ngganti yg lama, malah sekalian dimusnahkan sampai >ke pondasi-pondasinya. > >Balik lagi ke Rudini. Orek-orek saya barusan kan kita mesti waspada. >Salah satu harian memuat statement salah satu organisasi urusan pemilu >agar pers menyerahkan urusan pemilu ke mereka saja, dan agar pers lebih >menekankan pada urusan membina masyarakat agar bijak dalam mencoblos. >(Sama dengan anjuran Cak Nur dg contoh klasik ajaran Islam ttg dosa >kolektif menyumbang secawan madu ke gentong itu). Statement itu sih >baik-baik saja. Cuma kalau ada pihak independen pengen ikut mengamati >ya jangan dilarang. Dan semua mesti ada bukti tertulis, nanti mentang- >mentang independen lalu suaranya langsung dianggap benar. Ya endak >kayak gitu ya? > >Saya tidak tahu seberapa ekstensif UU baru yg mengatur jalannya pemilu. >Cuma di masa lalu, yg namanya pihak saksi hanya ada di TPS. Jadi biarpun >saksi dari tiap partai dan independen (bila ada) sudah lega, kotak suara >itu yg tadinya isinya Eyang Troy lagi tidur tiba-tiba sampai ke kelurahan >sudah alih rupa jadi Harmoko lagi senyum simpul. Hehe...maksud saya tiba-tiba >semua kertas yg dicoblos adalah nomor dua. Okay tidak semua, tergantung >target Golkar waktu itu, kalau 95% ya bakal 95% itu lah. Lha Karena banyak >sekali TPS, para saksi tingkat TPS ini kan nggak bisa ngomong kalau di TPS >anu perolehan PPP adalah 30% misalnya. Wong sudah di-mix dari semua TPS kok. >Lha terus saja misal dari tingkat kecamatan, ke tingkat kabupaten, dan >propinsi. >Di tahap itu semua kan bisa di-otak-atik pake utek. Misal lho kok kecamatan >Ndiwek setelah diolah Golkar menang 99%, wah nggak bener ini, kurangin >dikit ah jadi 91%. Makanya pemilu yang lalu yang berhak punya komputer >kan cuman Golkar ya? Partai lain nggak bisa punya karena biarpun sanggup >menyediakan komputer sendiri, tapi operating systemnya nggak sama. Partai >ini paling banter beli yg pake DOS atau Windows ya? Atau Unix kalau emang >niat. Tapi komputer pemilu dulu itu pake OS yg hebat, khusus buatan >Mikocok, saingan bisnis Microsoft. Bisa langsung mengolah data sehingga >didapat GIGO alias Garbage In Golkar Out. Pokoke hebat deh, Indonesia itu >lebih hebat dpd mahluk angkasa luar. Komputer mereka kan masih bisa diinfeksi >virus oleh mahluk bumi (itu lho di Indepedence Day). > >Apakah lalu semua TPS dihubungkan dengan jaringan komputer. Enggak juga, >duit dari mana. Entar ngutang lagi. Sambungan telpon juga masih terbatas. >Yang perlu adalah kehadiran saksi di setiap tingkatan. Biar para saksi ini >yang bikin jaringan sendiri dengan saksi-saksi di setiap tingkatan. Nggak >perlu >komputer, cukup angkat telepon umum laporan ke saksi di tingkat lebih >atas. Paling habis 2 pulsa. Kecuali kalau mau bikin proyek jaringan >komputer, terus ditenderkan, terus yang menang mas Tom...Tom Cruise. >Yang ini lain cerita lah. > >Pokoke, menurut saya sih ngadain pemilu mestinya gampang tinggal ada >saksi dan mempelai, eh, maksud saya bukti tertulis dengan tembusan. >Hehe...ini sekedar pendapat lho, pendapat menurut saya. Kalau menurut >bapak presiden pasti tulisan Bung Harmoko, bukan saya. Sekian dulu orek-orek >hari ini. > > >Salam, >Eyang Troy > >
