JUMAT� (5/3) malam, pelantun Selamat Malam , Evie Tamala didampingi Heru Waluyo, mantan suaminya, bertandang ke kantor BI . Sepintas, hubungan keduanya tampak biasa-biasa, seperti tak pernah terjadi sesuatu pun di antara mereka. Malam itu, Evie-Heru sengaja datang untuk buka-bukaan bareng kru BI . Begitu terbukanya Evie dan Heru membeberkan hubungan masa lalu dan menyoal masa depan hubungan mereka, membuat wartawan harian Kompas yang juga hadir di studio BI , sempat terheran-heran. Evie memang tidak sedang berbasa-basi. Apa yang dikatakan, sesuatu yang selama ini dipendamnya. ''Ini baru Evie yang orisinil,'' kata rekan wartawan itu. ''Itu karena kami merasa tidak sedang diwawancarai,'' kata Evie. '' BI sudah seperti keluarga buat kami,'' tandas Heru.
Tak harmonisnya hubungan Heru-Evie berakhir di pengadilan. Keputusan talak I bain, memisahkan tali kasih yang selama ini terjalin. ''Saya pikir, keputusan itu keliru. Talak I bain diputuskan kalau salah satu melakukan perzinahan. Ini 'kan nggak,'' kata Heru dengan nada kecewa. ''Keputusan itu menyebabkan kami harus pisah raga. Tapi, hati kami tetap nyatu ,'' tambah Heru. ''Saya masih sayang sama Mas Heru. Hanya ada hal-hal yang harus dibereskan sebelum kami memutuskan bersama lagi,'' timpal Evie. ''Frekuensi ketemu kita jadi sangat sedikit. Saya nggak boleh meluk dia lama-lama. Kami masing-masing punya mata-mata. Bersama saya ada Joni Tamala,'' ujar Heru. ''Sama saya ada Suli Waluyo,'' sambut Evie disertai derai tawa. ''Saya datang ke BI karena sayang Mas Heru. Ingin meluruskan berita-berita soal Mas Heru,'' tambah Evie.
Ketakharmonisan hubungan kasih mereka seperti bola salju. Menggumpal dan semakin lama semakin besar. Sialnya, sinyal ketakharmonisan itu tak diantisipasi, terutama oleh Heru. Istri, agaknya, butuh kepekaan lebih dari suami. Suami, harusnya, tahu kapan belaian kasih dibutuhkan. ''Dulu kalau dia sakit, saya bilang, ah aleman (cari perhatian - red.). Saya pikir, pura-pura. Dia juga begitu. Kalau saya sakit, kecapekan, nggak direken (diperhatikan, red.),'' ujar Evie. ''Setelah pisah, kita justru jadi lebih memperhatikan, masing-masing jadi cerewet meski lewat telepon,'' sambung Evie. Sayang, kerinduan Heru, terhalang kesepakatan yang terlanjur mereka buat. ''Kesepakatan pisah raga, menjelang puasa,'' jelas Evie. ''Emosi tinggi sekali waktu itu,'' tambah Heru.
Obrolan Evie-Heru, kru BI dan wartawan harian Kompas , sesekali diselingi tawa dan gurauan-gurauan. Saat-saat dirasa pas, Heru tak segan-segan memanfaatkan peluang membujuk Evie untuk rujuk. Berikut, petikan obrolan Evie-Heru, obrolan BI dan Evie-Heru.
Heru: ''Saya mau tanya, Neng masih cinta sama saya nggak?''
Evie: "Saya menyayangi Mas Heru. Ya, sayang itu segala-galanya.''
Heru: ''Kalau begitu, kita rujuk aja ....''
Evie: ''Hahaha. Kita lamaran dulu. Kita merencanakan pesta pernikahan lagi. Mas Slamet (kru BI , red.) jadi panitia. 'Kan bisa lebih sempurna, lebih lengkap. Dulu 'kan dadakan. Tapi... ya, semuanya kembali ke takdir.''
Wawancara terpotong acara makan malam bersama. Usai makan, Evie mengambilkan minum untuk Heru.
Heru: ''Cinta itu tidak butuh dialektika....''
Evie: ''Mungkin lebih pada, ...apa namanya....''
Heru: ''Sikap dan perbuatan.''
Evie: ''Ya!''
BI : '' Apa yang diharapkan Evie saat sedang murung ?''
Heru: '' Lha , ini yang saya kurang peka.''
Evie: ''Bukan berarti Mas Heru salah. Mungkin cuma belum memahami kebutuhan saya. Uring-uringan, diam sambil menangis, dikira Mas Heru ngajak ribut. Padahal bukan itu....''
BI : '' Apa yang dibutuhkan Evie ?''
Evie: ''Saya butuh didekati dengan sentuhan, semacam itulah....''
Heru: ''Oke, terang-terangan aja . Mungkin saya kurang peka....''
BI : '' Evie tidak ngomong ?''
Evie: ''Makin tidak dianggap, saya makin jengkel. Padahal menangani perempuan itu mudah dan murah.''
Heru: ''Laki-laki kadang kurang memperhatikan yang remeh-remeh. Perempuan sebaliknya.''
BI : '' Dengan kejadian ini ?''
Heru:� ''Saya akan lebih memperhatikan dia.''
BI : '' Kalau kebutuhannya beda ?''
Evie:� ''Orangnya 'kan sama. Tapi, tahu belum tentu berarti paham.''
BI : '' Kelihatannya sedang mencari titik temu ?''
Heru:� ''Saya sudah ketemu titiknya. Hahaha.''
Evie:� ''Hahahaha....''