Isnet Scholarship Inc. Seperti yang sudah kita duga, hal ini akan terjadi. Namun ternyata jauh lebih besar dari yang kita duga. Per Agustus 1998 saja, di Jakarta ada 30% pelajar SD/SMP/SMA yang DO. Hal ini terjadi karena krismon yang terus berkepanjangan. Sementara di seluruh Indonesia Agustus tahun lalu saja Bappenas memperkirakan 11 juta pelajar yang terancam sekolah alias DO. Dari jumlah ini hanya 1/4-nya yang konon mampu di tanggulangi oleh pemerintah. Itupun melalui JPS (Jaring Pengaman Sosial) yang menurut mendikbud hanya mampu menampung 1/5-nya. Artinya masih 8.8 juta yang DO. Dalam bulan-bulan ini, tentunya jumlhanya akan jauh membengkak lagi. Itu perhitugan di atas kertas, bagaiaman kondisi real-nya? Potongan kisah-kisah berikut memberi gambaran apa yang terjadi : Rektor IKIP Jakarta Dr. Sutjipto ketika ditanya : "Menurut Anda angka itu realistis tidak?" Saya kira dilihat dari jumlah murid SD yang mencapai 30 juta, itu kan artinya 30 persen. Tapi, itu kan perhitungannya dari SD, SMP, SLA, sampai perguruan tinggi. Jadi, perhitungan itu realistis. Tapi, saya kira drop out itu belum mencapai puncaknya. Krisis moneter kan baru setahun. Mungkin orang masih punya persediaan uang sedikit-sedikit. Ketua Yayasan Nanda Dian Nusantara, Roostien Ilyas : Jika kondisi ini dibiarkan, kata Roostien, mereka bisa menjadi kader-kader anarkis yang paling handal. ''Tujuh tahun kemudian mereka yang sekarang berumur belasan itu, mau jadi apa mereka, jika tak ditangani secara baik. Jika satu anak bisa mempengaruhi 50 orang, apa tidak bubar negara ini. Apalagi, mereka tak takut mati,'' tutur Roostien. Di tempat lain, di Kramatjati, seorang anak usia belasan tahun harus menerima sundutan rokok dari orang tuanya karena hari itu tak bisa menyetor Rp 5.000 sebagai hasil kerjanya di jalanan. ''Kalau tak begitu, ia tak akan bersungguh-sungguh bekerja. Saya sudah tua, kalau dia tak dapat uang, mau makan apa,'' ujar sang ayah. (Republika, 14 Maret 99) ''Dulu, saya ingin sekolah tinggi. Ingin menjadi guru. Sekarang, entahlah...,'' ucap Arum ketika ditanya apa cita-citanya. Sementara itu, Maman, adik Arum, berkata: ''Seperti kakak, saya juga ingin menjadi guru. Tapi, emak enggak ada uang. Saya diminta berhenti sekolah.'' ''Kalau saya sih ingin jadi sopir sajalah,'' kata Hendi, anak tukang becak, yang mengaku sedang menunggu badan membesar supaya bisa membawa mobil angkutan kota. ------------------------- Di sarikan dari berbagai sumber: oleh Isnet Scholarship Inc atau dikenal Komite Beasiswa Isnet/KBSI. Sebuah Non Profit Organization berkedudukan di Delaware yang bergerak dalam pemberian beasiswa kepada pelajar SD hingga Perguruan Tinggi di Indonesia. Jika ingin berpartisipasi hubungi kami di email: [EMAIL PROTECTED] atau kinjungi website: http://www.isnet.org/~kbsi -- wujudkan kepedulian kita http://www.isnet.org/~kbsi
