Ada pertanyaan besar di benak saya yang tumpul ini, sudah siapkah kita
menghadapi pasca pemilu 99 nanti..??

Mungkin saat ini kita sudah siap untuk menyongsong dan melaksanakan
pemilu bulan Juni nanti, terbukti dengan sudah di tetapkannya partai
partai yang berhak mengikutinya, di bentuknya KPU (dengan berbagai
persoalan internalnya), diawalinya promosi partai2 dan segala tetek
bengek persiapannya. Saya ndak begitu perduli dengan kesiapan pemilu
ini, karena saya yakin semua pihak sudah cukup bersemangat dan
mempersiapkan diri untuk melaksanakan pemilu sebaik baiknya, walaupun
kecurangan masih terindikasi disana sini.

Tapi saya merasakan bahwa kita terlalu asyik dengan kesibukan untuk
mempersiapkan pemilu ini, sehingga terdapat kesan terabaikannya
persiapan untuk menghadapi pasca pemilu nanti. Semua orang sepertinya
sibuk membicarakan tentang pelaksanaan pemilu bulan Juni nanti. Semua
partai gencar mencari dukungan, melontarkan statemen2 politik,
menawarkan konsep2, dan segala pernik2 nya. Sayang sekali, jarang saya
dengar orang membicarakan antisipasi terhadap kemungkinan2 jelek yang
akan terjadi pada pasca pemilu nanti.

Pertanyaan yang timbul di benak saya adalah, siapkah semua pihak
menerima hasil pemilu nanti, khususnya, siapkah yang kalah menerima
kekalahannya dengan lapang dada?. Siapkah para pengikut partai yang
kalah menerima pemimpin dari partai lain..? Mungkin gampang aja kita
bilang, asalkan pemilu dilaksanakan dengan jujur dan adil, semua akan
siap menerimanya. Tapi itu kan sekarang, sebelum semuanya terjadi.
Apakah nanti juga akan bisa mengatakan hal yang sama..?

Kita ingat pada awal2 digulirkannya agenda reformasi, semua orang
membicarakan istilah reformasi dan demokrasi, bahkan mungkin di warung
kopi di sudut kampung pun diwarnai dengan istilah istilah itu. Banyak
orang yang serasa jadi pahlawan kesiangan dan teriak2 serta mengkalim
diri masing2 sebagai orang yang pro reformasi, tokoh demokrasi de el el,
de es be. Tetapi berbagai kenyataan menunjukkan bahwa sebenarnya
sebagian dari masyarakat kita termasuk para tokohnya belum siap untuk
berdemokrasi.

Contoh yang jelas, mungkin rekan2 masih ingat, beberapa waktu yang lalu
di UGM dilaksanakan semacam seminar (lupa namanya) yang dipimpin oleh
rektor UGM sendiri dengan mengundang hampir semua partai baru yang sudah
terbentuk. DI dalam undangan sudah di sebutkan bahwa seminar hanya akan
membahas masalah RUU Pemilu. Ternyata di dalam seminar, ada seorang
wakil dari partai, yang juga menyebut dirinya seorang pro-demokrasi,
memaksakan kehendak untuk memasukkan pembahasan tentang susunan anggota
DPR ke dalam agenda pembahasan. Setelah di tolak oleh ketua panitia
karena memang keluar dari batasan yang telah di tentukan, akhirnya si
peserta tersebut walk out. Ini kan menandakan bahwa si orang tersebut
sebenarnya belum mengerti arti demokrasi, dan belum siap untuk
berdemokrasi.

COntoh lain yang lebih jelas, dan masih hangat adalah peristiwa kelompok
12 yang memaksa dengan tindakan kekerasan kepada seorang anggota KPU
untuk menanda tangani surat pernyataan perijinan partai mereka untuk
ikut pemilu. Kalau yang duduk jadi anggota tim 11, yang menentukan
berhak atau tidaknya sebuah partai untuk ikut pemilu, itu orang2 semacam
Harmoko atau Baramuli, mungkin tindakannya masih agak bisa di tolerir.
Tapi kan yang duduk di dama tim itu orang2 yang integritas dan
komitmennya terhadap reformasi sudah di akui oleh semua pihak seperti
Nurcholis Madjid dan Adnan Buyung. Ini kan juga menandakan bahwa
sebagian dari masyarakat kita, termasuk para tokohnya belum siap untuk
berdemokrasi, belum bisa menerima kekalahan dengan besar hati. Ini juga
mengindikasikan bahwa rasa saling curiga, dan saling tidak percaya di
tengah2 masyarakat kita masih sangat tinggi.

Kalau yang semacam ini nanti juga erjadi pada pasca pemilu, saya kuatir
kondisi bangsa kita akan semakin terpuruk. Sayangnya, hal ini kurang
menjadi perhatian. Justru menjelang pemilu ini, kecurigaan kecurigaan
satu sama lain masih terus berlangsung. Partai A dicurigai menggunakan
money politics, ketua partai B dicurigai mencari dukungan dana dari luar
negeri, calon presiden dari Partai C dianggap nggak bisa apa-apa dan di
setir oleh orang2 di sekitarnya, dll. Seandainya dalam pemilu nanti yang
menang adalah partai A dan pemilu sudah dilaksanakan dengan sejujur
jujurnya..apakah hasilnya akan bisa di terima oleh partai partai yang
lain...? sedangkan sejak awal sudah timbul kecurigaan.


Tolong rekan2 yang melihat kenyataan langsung di lapangan, mungkin bisa
memberikan gambaran yang lebih jelas.
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke