Dari Republika......


           Ulama Madura Tolak Warganya Dipulangkan
                        dari Sambas

 KUALA LUMPUR -- Malang menimpa sekitar 400 orang
 Madura yang hendak mengungsi dari daerah kerusuhan etnis di
 Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Bermaksud hendak
 mencari tempat yang lebih aman di Pontianak, mereka -- antara
 lain wanita dan anak-anak -- justru tersasar ke Lundu, sekitar
 108 kilometer dari Kucing, ibu kota Negara Bagian Serawak,
 Malaysia Timur.

 Salah seorang dari mereka mengatakan tujuan sebelumnya
 adalah Pontianak, namun di tengah jalan rombongan mereka
 yang berjumlah empat kapal diserang penduduk setempat yang
 juga menggunakan perahu. ''Kapal pompong kami terpaksa
 membelok arah menjauhi serangan perahu itu dan mendarat di
 Pelabuhan Sematan, Lundu, sedangkan tiga kapal lainnya, tidak
 tahu nasibnya,'' tambahnya.

 Kepolisan Daerah Lundu, Paul Atin, kepada koran terbitan
 Kuala Lumpur, Berita Harian, kemarin, mengemukakan salah
 seorang dari penumpang kapal itu, Selasa malam, melahirkan
 seorang anak di sebuah klinik setempat. Ibu dan anak
 dilaporkan dalam keadaan sehat.

 Para pengungsi yang tersasar itu berasal dari Desa Paloh di
 Pemangkat, Kalimantan Barat. Sejak beberapa hari lalu di
 daerah itu telah berkobar kerusuhan antara etnis pendatang dan
 etnis setempat.

 Mereka yang tersasar itu di antaranya 80 orang anak-anak, dan
 sisanya wanita serta orang tua. Mereka berlayar dari Paloh di
 Pemangkat ke Lundu, Serawak, sekitar delapan jam perjalanan.
 Pihak berwajib di Serawak telah memberikan bantuan
 kesehatan dan makanan kepada para pengungsi itu. Hingga
 Selasa malam mereka belum diperbolehkan turun dari kapal.
 Keterangan dari Kantor Penghubung Konsulat Jenderal RI di
 Kucing kemarin menyebutkan ke-400 orang Madura itu akan
 segera dipulangkan. ''Tinggal menunggu waktunya saja dan
 harinya mungkin hari ini (Rabu),'' demikian seorang petugas yang
 dihubungi Antara lewat telepon dari Kuala Lumpur.

 Kepala Kantor Penghubung Konsulat Jenderal RI di Kucing,
 Ayi Nugraha, menurut seorang stafnya, sudah sejak pagi
 berangkat ke Sematan, Lundu, untuk mengurus warga Indonesia
 yang nyasar tersebut.

 Situasi perbatasan antara Indonesia dan Malaysia Timur di
 Tebedu tetap aman dan tidak terlihat banyak orang Indonesia
 yang berusaha memasuki wilayah Serawak, Malaysia.

 Konflik di Sambas sendiri menurut Pangdam VI Tanjungpura
 Mayjen TNI Zainuri Hasyim mulai mereda. ''Kini kondisi konflik
 cenderung mereda, namun soal pengungsi yang masih tersebar
 merupakan soal yang mesti mendapat perhatian serius,'' katanya
 di Singkawang kemarin. Pangdam mengatakan jalur transportasi
 sudah normal dan tidak dijumpai halangan di jalan seperti pada
 awal peristiwa Sambas.

 Kapolda Kalbar Kol (Pol) Chaerul Rasyidi dan Danrem
 121/ABW Kol (Inf) Encip Kadarusman yang mendampingi
 Pangdam VI lebih lanjut menjelaskan saat ini aparat keamanan
 setempat bersama Pasukan Pengendali Kerusuhan Massa
 (PPRM) --yang baru tiba dari Jakarta-- telah diterjunkan ke
 lokasi yang dinilai masih rawan. Penerjunan pasukan ke lokasi
 yang dinilai rawan itu bertujuan untuk meredam konflik
 antarkelompok masyarakat yang masih berlangsung, sekaligus
 membantu evakuasi para pengungsi yang masih tercecer.

 Untuk mencegah penyerangan terhadap pengungsi, Chaerul
 Rasyidi mengatakan bahwa kepolisian terpaksa menggunakan
 'diskresi kepolisian' Pasal 18 (tembak di tempat) untuk
 mengatasi kerusuhan di wilayah Kalbar, ''Kita mempunyai
 wewenang dan mendapat dukungan dari Angkatan Darat,''
 tegasnya kepada Republika kemarin.

 Kapolda mengungkapkan sekarang ini masih ada sekitar 5.000
 penduduk keturunan Madura yang terjebak di desa-desa.
 ''Mereka inilah yang harus ditolong, karena mereka sekarang ini
 tengah dilanda ketakutan yang luar biasa,'' katanya.
 Para warga Madura ini banyak bersembunyi di kebun-kebun,
 hutan-hutan, dan gua-gua. ''Jika merasa aman baru mereka
 keluar, tapi itu pun dengan penuh kewaspadaan, takut diserang
 tiba-tiba,'' ujar Kapolda.

 Menurut Kapolda, mereka yang masih menyerang para
 pengungsi diduga adalah kelompok-kelempok yang selama ini
 melakukan pengejaran dan penganiayaan terhadap etnis
 Madura. ''Mereka menggunakan berbagai senjata tradisional
 maupun otomatis.''

 Dari pemantauan Republika, situasi di beberapa daerah seperti
 di Pemangkat, Tebas, Sambas, sampai tadi malam tampak
 sudah pulih. Aktivitas sudah kembali normal, terlihat hilir mudik
 beberapa angkutan barang.

 Sementara itu, jumlah pengungsi dari Kabupaten Sambas, yang
 ditampung di Pontianak hingga pukul 11.20 WIB kemarin
 berjumlah 12.434 jiwa, yang tersebar di 11 lokasi
 penampungan. Jumlah tersebut diperoleh dari Posko
 Pengendalian Dampak Kerusuhan Sambas Pemda Tk I Kalbar,
 yang terus bersiaga selama 24 jam untuk mengikuti
 perkembangan situasi yang terjadi. Sedangkan jumlah korban
 yang meninggal dunia akibat kerusuhan itu, menurut data Posko,
 yakni 176 jiwa.

 Kakanwil Depkes Kalbar, dr M Torisz MPH, kepada
 Republika mengatakan banyak pengungsi mendapat serangan
 berbagai macam penyakit. ''Puluhan orang terpaksa harus
 dirawat karena sakit hepatitis, diare, paru-paru, dan malaria,''
 katanya.

 Bantuan sosial bagi para pengungsi tersebut amat diperlukan.
''Kalau ditanya apakah masih memerlukan, jelas masih
 memerlukan, karena jumlah pengungsi ke Pontianak makin
 bertambah, sedangkan dukungan Kanwil Depsos juga terbatas,''
 kata Kakanwil Depsos Kalbar, Suyatno Yuwono, di Pontianak,
 kemarin.

  Untuk memenuhi kebutuhan pengungsi, kata Suyatno, pihaknya
  memakai indeks kebutuhan berupa bantuan beras 400 gram per
  jiwa/hari dan untuk lauk pauk Rp 1.500 per jiwa/hari. Bantuan
  diberikan dua kali sehari.

  Menjawab pertanyaan mengenai adanya sejumlah pengungsi
  yang ingin kembali ke Madura, Suyatno menjelaskan bahwa
  pihaknya sedang melakukan pendataan mengenai hal itu.

  Rencana kepulangan warga Madura dari Sambas kemungkinan
  akan menggunakan KRI Sabang. Kapal perang milik Armada
  Barat (Armabar) itu saat ini tengah beroperasi di wilayah
  Kepulauan Kalimantan dan sekitarnya.

''Memang KRI Sabang yang saya tahu direncanakan untuk
  mengangkut warga Madura dari Sambas, karena posisi
  kapalnya sedang beroperasi di wilayah perairan Kalimantan.
  Kalau dari Armatim belum ada rencana pemberangkatan, meski
  Pangarmatim sudah berkoordinasi dengan Gubernur Jatim,'' kata
  Kadispen Armatim, Letkol Laut (E) Ditya Soedarsono, kepada
  Republika, kemarin.

  Menanggapi rencana pemulangan para pengungsi itu, para ulama
  dan tokoh masyarakat Madura yang mengadakan pertemuan di
  Pondok Pesantren Syaechona Cholil, Bangkalan, Madura,
  Selasa (23/3) malam, meminta pada pemerintah untuk tidak
  memulangkan warga Madura yang sudah bertahun-tahun berada
  di Kalimantan Barat.
 ''Dari kesepakatan musyawarah itu, para ulama dan tokoh
   masyarakat Madura tidak setuju jika pemerintah memulangkan
  warga Madura dari Sambas. Kalau mereka dipulangkan ke
  Madura akan timbul masalah baru, karena mereka tidak
  memiliki sanak keluarga di Madura,'' kata KH R Fuad Amin
  Imron, pimpinan Ponpes Syaechona Cholil, Bangkalan.

 Pertemuan dihadiri sekitar 150 ulama dan tokoh masyarakat
 Madura. Selama empat jam lebih musyawarah berlangsung dan
 merumuskan sikap sebagai pernyataan kebulatan tekad untuk
 mengimbau kepada etnis lain di Kalimantan Barat, seperti Cina
 dan Melayu, agar tidak melibatkan diri dalam gerakan antietnis
 itu. Ini dimaksudkan agar tidak memicu aksi yang sama di
 daerah lain, khususnya di Madura.

 Menurut KH Fuad Amin Imron, musyawarah itu juga dihadiri
 salah satu korban kerusuhan yang berhasil menyelamatkan diri
 dari Sambas dan kini menetap di kampung Blega, Bangkalan.
''Hanya ada satu-dua orang korban yang berhasil menerobos
 lolos pulang kampung ke Madura. Kalau pemulangan dalam
 jumlah besar belum ada, dan ulama serta tokoh masyarakat
 Madura menolak keras jika warga Madura dari Sambas
 dipulangkan,'' tambahnya.





Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke