Wah, persoalan ini agak mbingungkan, Saya pernah ngobrol ama seorang bule yang pernah jadi sukarelawan medis di sana, dia bilang seharusnya udah dari dulu2 si Amerika (atas nama NATO) melancarkan serangan militer ke Kossovo. Dalam hal ini si temen bule melihatnya dari sudut pandang kemanusiaan (HAM). Kemudian kalau saya ngobrol masalah ini juga dengan rekan2 muslim, hampir seperti paduan suara semuanya mengatakan bahwa seharusnya Amrik bertindak keras untuk menyelesaikan masalah di Kossovo. Dasar yang diambil oleh yang kedua ini adalah, bahwa si Amrik terkesan ndak adil. Ketika Irak menyerang Kuwait, seperti tanpa di minta dan di komando, Amrik langsung bereaksi mengerahkan pasukannya, meskipun pada tahap awalnya sempat menimbulkan pro dan kontra di konggres nya. Tapi terhadap masalah Palestina dan Bosnia, Amrik terkesan enggan untuk bertindak. Sekarang, setelah kemaren Amrik bersama NATO nya ngebom Yugo, banyak orang rame rame menentangnya, termasuk beberapa negara islam (tadi disebutin di CNN, Irak, Iran dan Indonesia). Lha kan memang repot.... Saya kebetulan pernah ngobrol di warung tegal bersama seorang kolonel marinir Amrik dan saya nanyain pendapatnya tentang kritik yang dilontarkan oleh negara lain terhadap "arogansi" amerika yang demen intervensi militer ke negara2 yang punya masalah. Bapak kolonel itu bilang, ini memang dilema bagi Amrik. Pada saat di suatu wilayah terjadi konflik apapun bentuknya yang mengarah kepada pelecehan demokrasi dan HAM, dan sepertinya tidak bisa di selesaikan dengan perundingan, dunia cenderung melirik kepada US untuk mengadakan intervensi untuk menyelesaikannya. Kenapa hanya nglirik...? lha banyak juga yang terkesan munafik, gengsi untuk ngelihat langsung dan minta tolong secara terang terangan. Jadi dengan nglirik, suatu saat akan gampang memalingkan muka dan melihat ke tempat lain. Ketika Irak invasi ke kuwait, negara lain hanya diam sambil lirik lirikan, karena agak takut juga sih kalo ikut2an musuhin Irak. Kemudian tampillah si Amrik sebagai pendekar demokrasi dan HAM. Dengan segudang argumen politik, akhirnya Amrik berhasil ngajak temen2nya untuk bergabung dalam pasukan multinasional. Setelah penyerangan terjadi, dan ada satu dua "musuh" Amrik yang berkomentar, akhirnya yang tadinya cuman lirik2an doang, merasa perlu untuk ngelihat ke tempat lain dan ikut2an berkomentar. Disinilah dilemanya (menurut bapak kolonel itu lho..) Pada saat konlfik yang terjadi di teluk persi hanya melibatkan AMrik dan Irak, tanpa kuwait dan tetangga lainnya, akhirnya semua berani berkomentar dan menentang tindakan AMrik, termasuk Arab yang melarang wilayahnya dijadikan basis pasukan darat AMrik. Dari obrolan obrolan ini, saya melihat bahwa dilema ini akan dialami oleh si pendekar HAM, Amrik, dimana mana. Gejala lirik lirikan kemudian berpaling muka ini juga sepertinya sedang terjadi dalam menyikapi masalah Kossovo ini. Saya pribadi sebagai manusia ndak setuju terhadap intervensi militer oleh NATO atau siapapun terhadap wilayah negara lain, apalagi Kossovo secara yuridis formalnya merupakan bagian dari Yugo, jadi menurut saya, secara hukum internasional juga Amrik sudah nyalahi aturan. Akan tetapi kalau melihat konflik yang berkepanjangan dan tak kunjung selesai, serta jatuhnya korban yang makin banyak akibat pertikaian etnik ini, saya melihat ada benarnya juga serangan NATO terhadap Kossovo (Serbia). Perundingan perundingan damai sudah di tempuh, tapi sampai sekian lama belum membuahkan hasil, sementara pelecehan HAM, pembantaian dan segala jenis kejahatan kemanusiaan lainnya terus berlangsung. Kalau Amrik ndak cawe cawe dan bertindak keras, mungkin konflik itu ndak akan pernah terselesaikan, dan akan semakin banyak lagi nyawa yang hilang. Dengan aksi militer ini, Amerika mungkin melanggar kedaulatan negara lain, dan penyerangan itu sendiri bisa menimbulkan korban jiwa. Tapi bila itu bisa membuahkan hasil dengan berhentinya konflik yang sudah kronis, saya rasa sih ndak usah terlalu disalahkan.. itu hanya pendapat saya lho... --- "FNU Brawijaya, RPI, Troy, NY" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > AWW, > > Hiyaaa..... NATO ngebom Yugoslavia. Ada komentar? > > Kalau menurut saya sih serangan NATO melanggar kedaulatan > negara Yugoslavia. Bagaimanapun juga Kosovo adalah bagian > daripada negara Yugoslavia. Memang orang Serbia ada radanya. > Mereka menganggap etniknya lebih baik dari etnik yang lain. > Yang lain dianggap cuma numpang dan perlu dikontrol. > > Di masa lalu usaha pemersatuan memang agak aneh, paling tidak > menurut ukuran yg nulis. Penggunaan abjat latin oleh orang > Kroasia dan abjat greco oleh orang Serbia tidak menunjukkan > usaha persatuan. Penggunaan tiga bahasa dalam mata uang mereka > juga menunjukkan adanya sentimen etnik untuk menang-menangan. > > Yang jadi pertanyaan buat saya sendiri sih, seberapa jauh > suatu daerah berhak mendirikan negara sendiri, dan seberapa > jauh current pemerintah boleh menumpas pemberontakan itu. > Itu bila saya diperbolehkan menggunakan istilah tsb lho. > Yang jadi pertanyaan saya, kapan suatu kelompok masyarakat > dan daerah tertentu disebut mempunyai aspirasi yang berbeda > dan boleh memisahkan diri dari kelompok yg lebih besar dimana > kelompok tadi masuk di dalamnya. > > Kalau memang atas nama hak kita sebagai manusia dan kelompok, > kira-kira boleh tidak sih kita mendirikan negara sendiri. > Misal gini. Si A punya 1000 pendukung dan menempati suatu wilayah > sebut saja wilayah X. Si A dan pendukungnya sepakat dan merasa > wilayah di mana kita tinggal cukup untuk mereka sendiri, tidak > perlu tergantung pada orang lain. Nah, boleh nggak sih kita > mendirikan negara mini? > > Misal saja, Karina Sukarnoputri adalah lurah wanita Desa Sambirejo > dengan penduduk 50,000 orang. Semua penduduk cinta banget deh sama > lurahnya. Di Desa Sambirejo ada sumber minyak kecil, sawah ada, > industri bakiak (yg diekspor ke Jepang) juga maju. Pokoknya sandang, > pangan lebih dari cukup untuk seluruh penduduk Desa Sambirejo. > Penduduk desa juga punya ciri yang lain dari desa-desa sekitarnya. > Bahasanya walaupun sama-sama bhs Jawa, tetapi slank-nya lain. > Kebiasaan pake blangkon terbalik dan menyarungkan arit instead of > keris juga membuat karakteristik penduduk desa ini lain dari desa > sekitarnya. Nah, boleh nggak sih kalau Karina dan pendukungnya > mendeklarasikan Republik Sambirejo? Kalau terus ABRI mengancam > Mbak Karina dan pendukungnya, apakah Mbak Karina boleh minta > tolong Jepang (yg punya kaitan darah) atau AS yg digdaya sbg > pendukung hak azasi manusia? > > Nah, ada nggak yang bisa jawab? Kalau boleh alasannya apa, dan > kalau tidak boleh alasannya apa? Soalnya Mbak Karina dan penduduk > Desa Sambirejo juga agak kesel, masak Mbak karina selalu kalah > dalam pemilihan camat. Padahal dari segi kecantikan oke, kapabilitas > oke, hubungan ke luar negeri (hasil usaha bakiak dan ekspor minyak) > juga oke. Lagipula, penduduk Desa Sambirejo kebanyakan beragama > Islam dan taat, sementara desa sekitarnya ada yg Islam abangan, > ada yg mayoritas Kristen, dll. Mana di Desa Sontoloyo, tetangga > desa, membolehkan pelacuran dan perjudian, berhubung sawahnya > sedikit dan kering berhubung tidak dilewati sungai. > > Wassalam, > Jaya > _________________________________________________________ Do You Yahoo!? Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
