Coba tuch, kegiatan yang sangat bagus dari habibie, ujung-ujungnya sama
dengan yang saya bahas dengan bung ridwan soal 'Menteri tidak boleh ilut
kampanye'. Kutipan kalimat habibie ini menunjukan sebenarnya tujuannya
ke Aceh: "Perlu tidaknya referendum,menurut Habibie, harus didengar
suara MPR. "Karena itu mari kita sukseskan pemilu,".
Kalimat 'mari kita sukseskan pemilu' adalah kode yang paling buat saya
sebel. Kalau mau bantu rakyat Aceh yach harus bantu tanpa embel-embel.
Kalau memang tulus sudah sewajarnya Aceh dibantu karena sumber daya alam
yang dikuras juga sudah banyak. Jadi sekali lagi enggak perlu pakai
embel-embel:'mari kita sukseskan pemilu'.
peace.
http://kompas.com/kompas-cetak/9903/27/UTAMA/habi01.htm
Title: Habibie Minta Maaf -- Sabtu, 27 Maret 1999

KOMPAS Online
 
News on East Timor
Political Parties
Koran Daerah
English Nederlands
Sabtu, 27 Maret 1999

Habibie Minta Maaf
* Mahasiswa dan Pelajar di Aceh Tuntut Referendum

Banda Aceh, Kompas

Presiden BJ Habibie secara terbuka menyatakan menyesal dan memohon maaf kepada masyarakat Aceh dan keluarga korban operasi militer pada masa lalu. Namun, permintaan maaf itu disambut para mahasiswa dan anggota masyarakat lainnya dengan tuntutan agar segera diadakan referendum di Daerah Istimewa Aceh. Menurut mereka, inilah jalan terbaik yang mesti ditempuh untuk menjawab segala kekecewaan masyarakat Aceh terhadap pemerintah pusat.

Habibie datang ke Aceh, Jumat (26/3), bersama sejumlah menteri dalam suatu kunjungan silaturahmi. Seusai shalat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, ia berdialog dengan sejumlah mahasiswa dan anggota masyarakat lainnya di masjid itu.

Kedatangan Habibie disambut aksi ribuan mahasiswa dan pelajar di jembatan Pante Pirak, yang berjarak sekitar 500 meter dari Masjid Baiturrahman. Mereka yang sejak Kamis melakukan aksi dan menginap di DPRD Aceh, tak bisa mencapai masjid karena dihadang petugas keamanan sejak pukul 10.00.

Sejumlah poster dan spanduk dibawa dalam aksi itu. Isinya meminta penyelesaian kasus Aceh secara damai melalui referendum. Di tengah teriknya Matahari dan hadangan petugas, mereka mengumandangkan shalawat badar dan membaca hikayat Prang Sabi. Hikayat karangan Teungku Chik Pantee Kulu tersebut dulunya dibacakan untuk membangkitkan semangat rakyat Aceh dalam perang melawan Belanda.

Dalam pernyataan yang diberikan kepada pers, mahasiswa berpendapat, lebih adil dan demokratis bila referendum dilaksanakan. "Tanyakan rakyat, mereka maunya apa. Jangan lagi pemerintah pusat memaksakan kehendaknya kepada rakyat Aceh," teriak seorang mahasiswa yang disambut "referendum, yes" oleh mahasiswa lainnya.

Upaya dialog dengan petugas agar diizinkan menuju masjid dilakukan beberapa wakil mahasiswa, namun petugas tetap tak mengizinkannya. Dua mahasiswa, Mahyuddin dan Zulfikar malah nekat terjun ke sungai, berenang ke seberang. Sungai Krueng Aceh yang lebarnya sekitar 150 meter itu tak sanggup direnangi Zulfikar. Ia terpaksa dibantu seorang anggota polisi, karena kepayahan.

Sejumlah mahasiswa lainnya menyeberang melalui beton pipa air minum yang lebarnya hanya sekitar setengah meter dan tanpa tempat pegangan. Mereka dalam jumlah lebih dari seratus orang bisa mencapai jalan samping masjid dan menggelar poster dan spanduk.

Massa yang terus memaksa petugas akhirnya dibubarkan dengan tembakan gas air mata. Mereka kucar-kacir, namun kemudian kembali lagi ke dekat jembatan. Ketika Presiden BJ Habibie tiba dan melaksanakan shalat di masjid, massa ini pun shalat di badan jalan. Seusai shalat, dua kali terjadi bentrokan massa dengan petugas. Mereka dihalau hingga ke Jl Panglima Polem yang jaraknya sekitar 400 meter dari lokasi itu. Sebanyak 111 orang pengunjuk rasa terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Hingga pukul 21.00, tercatat tujuh orang masih dirawat karena luka-luka. Mereka adalah Iqbal, Wahyuni, Ridwansyah, Zamzami, Rizal, Sanusi dan Kurniadi. Belum diperoleh kejelasan, mereka luka tembak atau terluka akibat faktor lainnya.

Jalan raya Banda Aceh-Medan yang melewati kota-kota kabupaten dan kecamatan, menjelang kedatangan Habibie, dipasangi spanduk-spanduk besar berisi tuntutan referendum. Beberapa bangunan yang bercat putih, termasuk atap-atap terminal bus, juga dicat dengan kata "referendum".

Kuburan massal

Sebelum berdialog, Presiden Habibie yang memulai pidatonya dengan mengucapkan Allahu Akbar, menyatakan, pemerintah kini terus memperhatikan Aceh. Selain menyatakan maaf kepada masyarakat dan keluarga korban operasi militer, Habibie atas nama Presiden dan ABRI, juga menyatakan telah menginstruksikan agar ABRI tak melakukan tindak kekeras-an dan pertumpahan darah lagi. Dia juga minta pengusutan tuntas sesuai hukum terhadap oknum ABRI maupun masyarakat yang melawan hukum dan melanggar hak asasi manusia.

Presiden juga mengatakan, kuburan massal korban operasi militer agar segera dibongkar dan diperlakukan secara syariat Islam. Pemda Aceh diminta memfasilitasi upaya ini, dan kuburan itu hanya boleh dibongkar bila seizin ahli waris korban. Semua biaya ditanggung pemerintah.

Pemerintah dikatakan juga telah memberi amnesti, grasi dan abolisi terhadap sejumlah narapidana politik di Aceh. Dalam bidang pendidikan, sebanyak 85 madrasah swasta akan dinegerikan dan ditambah gurunya.

Dalam bidang perhubungan, Bandara Sultan Iskandarmuda akan dijadikan sebagai bandara yang bisa melayani penerbangan jamaah haji dengan memperpanjang landasannya. Transportasi kereta api yang telah mandek di tahun 1970-an akan dihidupkan kembali. Habibie juga menjanjikan pengembangan kawasan ekonomi terpadu Sabang.

Dalam dialog sesi pertama, Habibie diminta untuk realistis memberi perhatian terhadap tuntutan mahasiswa, dibanding perhatian terhadap kalangan birokrat. Tokoh masyarakat, Muhammad Nur Husein melemparkan ide tersebut. Lalu penanya selanjutnya, Mukhtar Hasan dan M Lidan, juga meminta perhatian serius pemerintah pusat terhadap Aceh. Seorang penanya lain menanyakan kepada Habibie tentang kesediaannya melaksanakan referendum di Aceh.

Menjawab semua pertanyaan itu, Habibie kembali menyatakan, pemerintah kini memberi perhatian serius pada Aceh. Namun terhadap pertanyaan tentang referendum, Habibie mengatakan, tak punya kuasa untuk menjawabnya. Perlu tidaknya referendum, menurut Habibie, harus didengar suara MPR. "Karena itu mari kita sukseskan pemilu," kata Habibie.

Sesudah dialog sesi pertama, Imam Besar Masjid, Teungku Haji Sofyan Hamzah ingin menutup acara karena waktunya sudah habis. Namun kemudian banyak mahasiswa yang mengangkat tangan ingin bertanya. Habibie menyatakan bersedia menjawab beberapa pertanyaan lagi.

Fuadri, Ketua Senat Mahasis-wa Universitas Syiah Kuala dan Teungku M Nasir, tokoh pemuda, kembali menanyakan jawaban konkret Habibie tentang referendum. Mereka menegaskan, referendum adalah penawar luka rakyat Aceh, bukan janji-janji pembangunan. (nj/y)


Get The Latest News at Kompas Cyber Media
KOMPAS Online
© C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian KompasD e s i g n e d  b y  Agrakom

Kirim email ke