Analisa yang sangat bagus tentang tragedi Kalimantan oleh Mahendra
Siregar.
========================================================================

Menurut penilaian saya pribadi, paling tidak ada tiga alasan mengapa
tragedi di
Kalbar tidak begitu ramai diperdebatkan di milis Bincang atau dalam
wadah
lainnya:

1. Kita kurang memahami permasalahan yang terjadi dengan baik, secara
rasional
maupun emosional. Pengetahuan kita mengenai Kalimantan dan suku-suku
yang ada di
sana sangat terbatas sehingga kita kekurangan bahan untuk mencerna
persoalan yang
terjadi secara rasional. Sedangkan secara emosional, mayoritas
suku-suku di luar
Kalimantan (kecuali Madura) merasa tidak memiliki "perasaan senasib"
dengan
saudara-saudara kita yang saling "baku-potong" itu. Hal ini berbeda
dengan
peristiwa di Ambon, yang walaupun sebagian besar dari kita sebenarnya
sama tidak
mengertinya dalam memahami persoalan di Ambon dengan Kalbar, tetapi
kita memiliki
"solidaritas" agama yang dapat membangkitkan sentimen emosional yang
sangat kuat.
Akibatnya, walaupun kita juga tidak mengerti persoalan di Ambon dengan
benar dan
lengkap, tetapi sesama kita (baik umat Islam maupun Kristen) langsung
merasa
"senasib" dengan saudara-saudara di Ambon secara emosional, sehingga
hampir-hampir kita terjerumus dalam perang saudara. Terus terang saja,
saya
menilai perdebatan anggota Permias di milis ini mengenai Ambon lebih
didorong
oleh emosi solidaritas sesama pemeluk agama, ketimbang diskusi rasional
yang
semestinya terjadi di antara kaum intelektual.

2.    Sebagian besar dari kita lebih senang mencari kambing hitam dari
suatu
persoalan daripada berusaha melihatnya sebagai suatu fenomena sosial
yang terjadi
di tengah-tengah masyarakat kita. Saya tidak menyangkal kemungkinan
adanya
provokator di daerah-daerah yang menyulut pertumpahan darah diantara
kelompok-kelompok masyarakat kita. Namun demikian, mengkambing-hitamkan
provokator sebagai satu-satunya penyebab semua permasalahan bukan
merupakan
langkah yang tepat. Provokator itu dapat dianalogikan dengan korek api,
sedangkan
hubungan antar kelompok masyarakat kita adalah suatu tumpukan ilalang
kering yang
mudah dibakar. Oleh karena itu, disaat kita bersama-sama mencari para
provokator
itu dan menyeret mereka ke pengadilan, marilah kita sirami ilalang
kering ini
dengan air segar, sehingga korek-korek api sebesar apapun tidak akan
sanggup
membakarnya. "Penyakit" mencari kambing hitam ini juga menjalar ke
berbagai pihak
lain seperti menuduh keberpihakan atau kelambanan ABRI, Pemda dsb. Hal
ini
merupakan suatu sikap yang tidak tepat, karena sekali lagi hal itu
mencoba
mengingkari kenyataan yang terjadi di masyarakat kita. Kalau ABRI
dianggap
terlambat bereaksi, jangan terlalu cepat menuduh secara apriori. Jumlah
anggota
ABRI kita sangat kecil dibandingkan populasi, sekitar 1:500 orang,
sedangkan
rasio polisi adalah 1:1100. Bandingkan dengan negara-negara maju yang
mencapai
rasio 1:200 atau lebih rendah lagi. Dan jangan lupa, kondisi geografis
kita yang
didominasi oleh laut tentunya semakin menyulitkan mobilisasi Apkam dari
satu
daerah ke daerah lainnya. On top of that, infrastruktur, peralatan dan
kemampuan
SDM Apkam yang kita miliki masih minim.

3.    Secara sadar atau tidak, kita terjerat dalam kerangka berpikir
negara-negara besar (baca:Barat) dalam melihat dunia dari kacamata
mereka. The
Clash of Civilization-nya Huntington yang anda kutip itu terlalu
mengeneralisir
(dan exaggerate)  signifikansi pertentangan antara agama sebagai suatu
teori yang
terjadi dimanapun, dan sepenuhnya adalah refleksi cara pandang
negara-negara
Barat. Sebagai contoh, persoalan mengenai kemerdekaan Palestina sering
dianggap
sebagai pertentangan antara Yahudi, Kristen dengan Islam. Itu adalah
cara
berpikir Barat yang selalu melakukan stereotyping terhadap persoalan
Palestina
sebagai persoalan bangsa Arab atau Islam. Padahal yang sebenarnya
terjadi adalah
direbutnya secara paksa hak-hak kemerdekaan bangsa Palestina oleh
Israel. Oleh
karena itu, Indonesia senantiasa mendukung perjuangan bangsa Palestina
menuntut
dihormatinya hak kemerdekaan mereka, karena hal itu merupakan cara
pandang bangsa
Indonesia yang menjunjung tinggi kemerdekaan suatu bangsa. Saya yakin
banyak dari
kita yang terjebak dengan cara berpikir Barat itu dan juga menganggap
bahwa
dukungan Indonesia kepada Palestina adalah karena populasi terbesar
rakyat kedua
negara itu adalah sama-sama Islam. Itu keliru, karena sikap itu sama
saja dengan
mengakui bahwa cara pandang Barat yang benar. Indonesia selalu
konsisten dalam
Politik Luar Negerinya, tidak melihat latar belakang agama, bangsa dsb
dalam
menentukan sikap dan posisi terhadap suatu persoalan. Oleh karena itu,
tragedi di
Kalbar tidak terlalu disorot oleh media AS seperti kejadian di Ambon,
karena
tidak ada aspek "clash of civilization"-nya, sehingga kurang menarik.
Padahal
untuk bangsa Indonesia, persoalan di Kalbar, Kupang, Ambon, Aceh dan
didaerah
manapun adalah sama pentingnya.

Penyebab Berbagai Kerusuhan di Indonesia

Saya harus mengakui bahwa pengetahuan pribadi saya mengenai Kalbar atau
Ambon
sangat minim (oleh karena itulah saya berusaha membina kontak dengan
tokoh-tokoh
masyarakat itu supaya dapat lebih well-informed dan tidak kelihatan
"lucu").
Namun sebagai orang Indonesia, saya memiliki kewajiban untuk mencoba
memahami
persoalan yang terjadi di tanah air kita tanpa terjerat kepada
keinginan untuk
mencari kambing hitam. Disamping itu, tugas saya saat ini antara lain
menjelaskan
persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia kepada masyarakat Amerika
Serikat.
Inilah pemikiran saya mengenai penyebab kejadian-kejadian di tanah air
kita:

1.    Krisis ekonomi saat ini telah menyebabkan isu seperti pemerataan,
keadilan,
distribusi pendapatan dan sebagainya semakin mengemuka. Sebelumnya,
pergolakan-pergolakan yang berlandaskan isu tersebut selalu "dicegah"
dengan
tindakan represif atas nama persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga
tidak sempat
meluas. Pergolakan itu umumnya terjadi antara penduduk asli dengan
pendatang di
suatu daerah (walaupun definisi asli dan pendatang itu sendiri
relatif). Penduduk
pendatang umumnya dianggap "merampas" hak-hak penduduk asli, karena
umumnya
secara relatif lebih sukses dalam status sosial-ekonominya, sehingga
menumbuhkan
rasa dendam dan cemburu yang besar di kalangan penduduk asli. Rasa
dendam itu
diledakkan oleh satu-dua insiden kecil (disinilah mungkin peran
provokator itu),
yang dengan cepat merembet ke masing-masing kelompok masyarakat itu
secara luas.
Hal itu dapat dilihat dengan bagaimana menderitanya Saudara-saudara
kita yang
Tionghoa di Jakarta Mei 1998, Saudara-saudara umat Islam menjadi korban
di
Kupang, suku Bugis, Buton dan Makasar (yang hampir seluruhnya muslim)
menjadi
korban di Ambon dan Orang Madura di Kalbar.

2.    Dalam menjawab berbagai pertanyaan dari masyarakat Amerika, saya
selalu
menggunakan analogi Washington, DC. Saya menjelaskan bahwa untuk dapat
mengerti
kejadian-kejadian di Indonesia mari kita bayangkan seperti ini: Seluruh
penduduk
Washington DC (yang mayoritas adalah African-Americans) dikurangi
tingkat
pendapatannya sebesar 20%, lalu sekitar 30% dari seluruh tenaga kerja
yang ada
diberhentikan dari pekerjaannya, dan seluruh sosial security and
welfare benefit
dihentikan seketika. On top of that, naikkan harga-harga dengan 80-100%
dan
kurangi pasokan obat-obatan, public transport dan utilities lainnya.
Silakan
bayangkan apa yang akan terjadi, mungkin peristiwa pada akhir tahun
60-an di
sekitar 14th St. akan terulang lagi dalam skala yang lebih luas (lebih
menyerupai
kejadian Mei 1998 di Jakarta). Biasanya setelah mendengar penjelasan
itu
orang-orang Amerika itu diam dan mengangguk-angguk. Hal ini tentu saja
bukan
excuse atau apology kita dalam membenarkan apa yang terjadi di
Indonesia sekarang
ini. Namun paling tidak mengingatkan kepada rakyat Amerika yang
seringkali
menganggap diri paling pintar dan mulia itu, bahwa kalau anda tidak
mengerti
persoalannya jangan kebanyakan berkhotbah. Pelajari dan pahami dulu,
baru kita
diskusi untuk membantu mencari jalan keluarnya bersama-sama.

Salam
Mahendra Siregar
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke