Bagus sekali bila partai partai politik non golkar sudah mulai
berkoalisi meskipun masih bersifat informal dan masih berlangsung di
jalanan. Hal ini menunjukkan bahwa partai partai tersebut sudah memulai
kesadaran baru untuk mengesampingkan perbedaan perbedaan yang terdapat
di antara mereka yang punya potensi konflik. Dengan berkoalisi, akan
memungkinkan bagi mereka untuk menggolkan calon presiden dari salah
satu ketua partai mereka. Yang paling penting bagi saya adalah, dengan
berkoalisi ini, berarti pula memperkecil potensi konflik diantara
pengikut partai yang bisa timbul akibat perbedaan dan kekalahan. Syukur
syukur koalisi ini bisa segera di formalisasi, dan akan lebih bagus
lagi bila bisa diwadahi dalam satu wadah partai yang lebih besar, dan
akan terbentuk two-party system di negara kita. Ini memang tidak mudah,
dan rasanya akan mustahil bisa terbentuk pada pemilu berikutnya (2004)
karena masyarakat kita saat ini masih dilanda demam kebebasan
berpolitik akibat kungkungan selama 32 tahun. Setiap orang masih ingin
menikmati kebebasan politik baru ini dengan berlomba lomba mendirikan
partai politik. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan
two-party system di negara kita pada pemilu 2009 ataupun 2014
mendatang. Sistem dua partai ini sudah terbukti efektifitasnya di
negara2 besar seperti Inggris dan USA, karena akan memudahkan check and
balance.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa negara kita harus meniru USA
ataupun negara lain, tapi alangkah baiknya bila sistem politik yang
sudah terbukti efektif di negara lain itu dicoba untuk di terapkan di
negara kita. Apabila ternyata tidak cocok, maka bisa di evaluasi dan
dicari yang terbaik buat negara kita.

Yang jelas, gejala yang menunjukkan bahwa partai partai politik
non-golkar mulai berkoalisi adalah merupakan gejala yang bagus.

Namun yang saya soroti bukanlah masalah koalisi tersebut, tetapi sekali
lagi, perlakuan sebuah partai terhadap partai lain yang masih
menyiratkan ketidak dewasaan masyarakat kita dalam perbedaan pendapat
dan pandangan seperti yang terjadi dalam kasus Purbalingga. Saya tetap
tidak sependapat apabila kejadian seperti itu dianggap wajar karena
menunjukkan adanya niat untuk berkoalisi melawan Golkar. Kalau hal
tersebut masih juga dianggap wajar, saya kuatir bahwa pertandingan
politik (pemilu) kita ini akan berlangsung tidak sehat, dan hasilnyapun
tidak akan memuaskan.

Saya ingat pertandingan tinju dunia antara Mike Tyson melawan Holyfield
yang sangat memalukan dunia pertinjuan beberapa waktu lalu. Seorang
raksasa tinju dunia melakukan perbuatan yang memalukan dengan menggigit
telinga lawannya dengan alasan karena jengkel akibat lawannya sering
main curang dengan memukul terlalu bawah dan dibiarkan saja oleh wasit.
Ini kan mirip dengan pertandingan politik kita saat ini. Partai partai
politik non golkar mungkin merasa jengkel dengan kecurangan kecurangan
yang dilakukan oleh golkar selama masa ORBA dan selalu dibela oleh
pemerintah dan ABRI yang seharusnya bertindak sebagai wasit. Akan
tetapi pembalasan yang dilakukan dengan tindakan yang tidak tepat
justru akan merugikan, dan akan mencoreng muka sendiri seperti yang
dialami oleh Tyson.

Dalam pertandingan tinju penyelesaiannya mudah. Setelah Tyson menggigit
kuping si Holyfield, pertandingan di hentikan, dan tyson dinyatakan
kalah, serta diberikan sanksi. Tapi hal itu tidak akan bisa di
berlakukan begitu saja di dalam pertandingan politik seperti pemilu
kita nanti. TIdak mungkin pemilu di nyatakan bubar dan Golkar keluar
sebagai pemenang karena lawan Golkar melakukan tindakan seperti yang
terjadi di Purbalingga. Permasalahannya sangat rumit. Kalau penonton
pertandingan tinju Tyson-Holyfield akan dengan mudah menerima
kemenangan Holyfield, maka "penonton" pertandingan politik kita tidak
akan bisa seperti itu. Jadi akan sangat kompleks permasalahannya.

Jadi, bentuk pelanggaran apapun di dalam pertandingan politik kita
nanti harus bisa si eliminir sedapat mungkin, janganlah koalisi
dijadikan alasan untuk "melegitimasi" tindakan tindakan brutal suatu
kelompok terhadap kelompok lain. Janganlah kecurangan kecurangan di
masa lalu tetap di bawa bawa sebagai alasan untuk melakukan pembalasan
dengan cara yang memalukan bangsa kita yang dikenal selama ini sebagai
"bangsa yang berbudi pekerti luhur". Marilah kita memainkan
pertandingan politik ini dengan jiwa fair play.

Udah kepanjangan ah...capek ngetik..

--- Yusuf-Wibisono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >Silakan baca paragraph yang saya cuplik dari kompas ini, dan silakan
> >kasih komentar:
> >..............
> >  Gus Dur menyatakan keberatan jika para pendukung parpol
> >  tertentu yang menyerang Golkar dicap sebagai pengganggu. ��Itu
> >  kan timbal balik saja. Nyatanya, parpol lain kan nggak diganggu,��
> >  tegas cucu salah seorang pendiri NU ini.
> >.............
>
> Yw: Kondisi di jalanan sekarang, menunjukkan bahwa koalisi (informal)
>     sekarang ini sudah terbentuk. Walopun golkar diganggu, tapi
>     kalo dilihat secara jernih, itu bukan merepresentasikan
>     situasi 'saling mengganggu' sama sekali. Kata lain: yg diganggu
>     (oleh oknum/massa partai lain) hanya golkar.
>
>     Karena menyadari adanya koalisi yg kuat besar dan raksasa
>     sekali, sejumlah partai (yg takut diasosiasikan sbg antek
>     golkar atau antek cendana), tidak punya nyali/power utk
>     turun ke jalan. Lalu, partai-partai gurem, juga tidak
>     berani pawai di jalan (kecuali dapat restu dari koalisi).
>
>     Koalisi raksasa yg saya maksud ini meliputi:
>     Partai-partai yg berafiliasi dg NU, PAN, dan PDI-Mega.
>     Dg tokoh sentralnya: (semua sudah tahu) Gus Dur, A. Rais,
>     dan Megawati. Tokoh-tokoh sentral ini juga rasanya sudah
>     bukan rahasia umum lagi, sudah berada pada kesepahaman.
>     Bukan kesepahaman aliansi (persekutuan), tapi lebih pada
>     kesepahaman koalisi. PPP, saya tidak tahu, tapi tampaknya
>     mendapat restu juga (utk bergabung dalam koalisi).
>
>     Di jalan-jalan, bendera ketiga kelompok besar itu
>     sering bersanding. Massa besar dari mereka juga sempat
>     berhadapan fisik (di Semarang, etc), dan tidak bentrok,
>     melainkan malah berada dalam situasi 'kompak ni ye'.
>     Yg mengamati perkembangan mungkin mendengar juga,
>     bahwa massa PDI-perjuangan di semarang kemarin itu,
>     malah sempat dikomando oleh Matori Abdul Jalil
>     (utk menghindari kemacetan lalu lintas), dan patuh!
>
>     Fakta lain: PAN tidak pernah menghujat Gus Dur dan
>     afiliasinya, tidak pernah menghujat Mega dan afiliasinya
>     juga, dan seterusnya; dan demikian pula PDI-P dan
>     grup Gus Dur. Sementara thd golkar dan afiliasinya,
>     komentar mereka senantiasa pedas (kalo tidak bisa
>     disebut menghujat).
>
>     Begitulah pengamatan beberapa bulan ini dari jalanan.
>     Ada pendapat lain?
>

_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke