Saya lebih cendrung dalam diskusi tidak selalu ada titik temu.
Musyawarah mufakat hanya alat untuk memaksa seseorang untuk menerima
pendapat yang tidak disetujuinya. Kalau memang ada ruang yang lebar atas
ketidak setujuan, biarkan saja. Toch semua orang bisa menilai lewat
argumentasi masing-masing.
Yang rasional, yang ngaco, yang cuma percaya sama issue, yang
deterministik, yang...., yang.... tentunya menambah wawasan kita akan
cara berpikir orang dan memacu kita untuk bisa menilai berita.
peace.
Frarev Sitorus wrote:
>
> Saya lihat diskusi abang-abang sekalian penuh "klimaks" tanpa
> "anti-klimaks", so...kapan anti - klimaksnya supaya tercapai titik temu
> dari perbedaan pola pikir yang kritis...?
>
> :)
> KOCU