Title: RE: RAMADHAN (Insiden Menjelangnya)

    Bridwan wrote on Friday, December 18, 1998 8:25 AM :

    Kita doakan agar Negara kita tetap akan selalu berada
    dalam kedamaian yang sebenarnya.

Barangkali insiden kali ini adalah hadiah dari sang penguasa ...

Sent:   Friday, December 18, 1998 9:34 AM
Subject:        Insiden Berdarah Kembali Terulang

Hanya sepekan setelah Jakarta diwarnai gegap-gempita demonstrasi
antikekerasan, insiden berdarah berulang hari Kamis (17/12) di Jakarta.
Bentrokan terjadi antara pasukan ABRI dengan mahasiswa yang berdemonstrasi menuju Gedung DPR/MPR Senayan. Bentrokan kemudian berubah menjadi tawuran massal, yang mengakibatkan puluhan korban luka-luka, di antaranya luka berat, baik di pihak mahasiswa maupun aparat keamanan.

Vera (mahasiswi angkatan '95, Fakultas Hukum Universitas Kristen
Indonesia/UKI) tengkuknya trauma berat. Ia adalah satu dari 21 mahasiswa
korban tindakan aparat keamanan, yang mencegat bus mahasiswa. Anggota-anggota ABRI menembaki bus yang sedang mengangkut mahasiswa dari Senayan ke arah UKI, persis di daerah Cawang Atas.

Setelah ban-ban bus kempes ditembaki, mahasiswa berhamburan keluar. Begitu keluar pintu bus, Vera dihajar dan diinjak sehingga tengkuknya trauma berat.

Tim dokter menyatakan, harus dilakukan pembedahan untuk menyelamatkan
nyawanya. Sementara 20 mahasiswa lainnya masih harus dirawat di Unit Gawat
Darurat RS UKI.

Aksi kemarin melibatkan ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan
kesatuan aksi yang mengatasnamakan Komite Aksi Mahasiswa se-Jabotabek. Mereka
tidak lagi mengarahkan sasaran ke kawasan Monumen Nasional dan Istana
Kepresidenan, tetapi bergerak menuju Gedung DPR/ MPR, setelah berhasil
mengepung Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Sedikitnya, tujuh kesatuan aksi bergabung dalam aksi bersama itu, yakni Forum
Kota, Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred), Forum
Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta, Forum Bersama (Forbes), Gerakan Mahasiswa Pancasila untuk Reformasi (Gempur), dan Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (Komrad). Dalam aksi bersama itu mereka menuntut pengadilan terhadap aparat rezim Orde Baru, dan pelaksanaan pemilu yang demokratis.

Siang sebelumnya, ratusan warga dari 25 ormas Islam yang menamakan diri Front Pembela Islam berunjuk rasa di emplasemen Tugu Monas. Mereka meminta agar masyarakat menghormati bulan suci Ramadhan dan menuntut ABRI bersama-sama pemerintah menutup tempat-tempat maksiat.

Sementara di Masjid Istiqlal, sekitar 200 mahasiswa yang tergabung dalam
Gerakan Reformasi Akhlak (Gerak) mendatangi Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Mereka meminta MUI lebih tegas menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa.

Membawa tongkat
Penjagaan pasukan ABRI di sekitar Polda, Semanggi dan Taman Ria Senayan tidak seketat hari-hari sebelumnya. Setelah mengepung Polda, mahasiswa dengan leluasa bergerak ke arah Gedung MPR/DPR. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Kota bergerak di barisan terdepan bersama-sama mahasiswa anggota Komrad.  Mereka ditahan aparat di bawah jembatan layang Taman Ria Senayan.

Sejumlah mahasiswa dari kedua kesatuan aksi itu membawa tongkat kayu dan bambu. Mereka sempat bertengkar dengan mahasiswa lain yang ingin mengamankan "senjata" tersebut. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba antara aparat dan mahasiswa terjadi saling gebuk dan lempar batu.

Setelah mahasiswa bertahan beberapa lama di bawah jembatan layang Taman Ria,
ribuan mahasiswa Famred menyeberang ke jalan tol dari arus berlawanan. Aparat
sempat menahan mereka, tetapi sejumlah mahasiswa lainnya menyeberang lagi ke
jalur lambat dari arah Grogol menuju Semanggi. Ribuan mahasiswa segera
berhamburan menyeberang hendak mendekati Gedung MPR/DPR. Saat itu juga
barikade aparat Pasukan Anti-Huru-hara (PHH) Kodam dan Brimob bobol.

Pasukan berhamburan menyelamatkan diri ke Rumah Makan Pulau Dua yang jaraknya
sekitar 200 meter dari posisi semula. Tindakan ini membuat mahasiswa yang
telah berada di depan panik. Saat itulah ratusan aparat lain yang bersiaga di
depan pintu keluar tol di depan Gedung MPR/DPR memberondong mahasiswa dengan peluru karet dan gas air mata. Mahasiswa pun kocar-kacir menyelamatkan diri.

Beberapa roboh terkena hantaman peluru karet dan pukulan benda keras petugas.
Sampai pukul 23.00 WIB, ratusan korban tercatat Kompas dirawat di beberapa
rumah sakit.

RSAL dr Mintoharjo memberikan pertolongan pertama kepada 56 mahasiswa.
Sebagian besar menderita luka memar dan kepala sobek. RS Pelni Petamburan
menolong tiga mahasiswa yang luka ringan. Di IGD RS Cipto Mangunkusumo, dua mahasiswa dirawat, seorang mengalami patah tangan kiri.

Di RS St Carolus 16 mahasiswa dirawat. Mereka rata-rata mengalami memar baik di kepala, tangan atau bagian badan lainnya serta luka tembak peluru karet.

Sebanyak 51 korban dirawat di RS Jakarta. Belasan korban luka ringan yang
datang dan pergi, dirawat di Posko Kesehatan Universitas Atma Jaya (UAJ).

Seorang mahasiswi dari Akademi Bahasa Asing (ABA) patah tangan kanannya karena
dipukuli lima tentara. Rekannya, juga mahasiswi, pingsan karena gas air mata
dan pukulan tentara, sementara lambung kiri seorang mahasiswa Universitas
Muhammadiyah, tertembak peluru karet.

Setidaknya 16 korban
Berbeda dengan korban lain yang merupakan akibat langsung dari tindakan kekerasan di seputar Senayan, korban di RS UKI Cawang Jakarta Timur sebagian besar akibat bus "Himpurna" yang mereka tumpangi ditembak aparat keamanan di daerah Cawang Atas. Akibatnya, 21 orang luka-luka.

Ketika ditanya tentang peristiwa di Cawang Atas itu, Kepala Kepolisian Resor
Jakarta Timur Letkol (Pol) Sahrir Kuba secara singkat menjawab, "Belum
menerima laporan".

Dari pihak aparat keamanan, setidaknya 16 orang (10 anggota Kepolisian RI,
lima anggota TNI AD, dan satu Marinir) mengalami luka-luka dan dirawat di
Dinas Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Metro Jaya. Salah seorang di antaranya mendapat 10 jahitan di kepala. Seorang anggota Brimob mengalami trauma di bagian belakang kepalanya.

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Mayjen (Pol) Noegroho Djajoesman ketika
mengunjungi aparat yang terluka menyatakan, peristiwa itu sebenarnya tidak
perlu terjadi kalau semua pihak menahan diri. "Jangan ada lagilah unjuk rasa
di bulan puasa," katanya.


Kirim email ke