Rupanya para elit politik di Indonesia rebutan PNS.
PNS sendiri, diwakili korpri seharusnya bersikap dong.........
Mumpung banyak yang "mau" nih.....dan 'harga'nya kan mahal...

pandu
********************************************
PERANAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN ABRI DIPERTIKAIKAN

Hingga saat ini banyak orang masih bertanya-tanya latar belakangan
manuver Habibie yang tidak menyetujui Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan
ABRI mendukung golkar. Ada yang mengatakan Habibie bermaksud untuk
mendirikan partainya sendiri yang akan dimotori Adi Sasono. Latar
belakang sesungguhnya menurut seorang pengamat disebabkan oleh
pertengkaran antara Akbar Tanjung dan Adi Sasono yang menyangkut
jaringan pengaman sosial (social safety net).

Sehubungan dengan peranan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam kepengurusan
partai maka PNS pekan ini menjadi sorotan kalangan-kalangan politik di
ibu kota. Akbar Tanjung, Ketua Umum Golkar, menginginkan PNS tetap
mendukung Golkar. Sedangkan Habibie menyetujui pegawai negeri sipil
(PNS) dan ABRI bersikap netral. Mungkinkah Habibie sudah tidak
mempercayai Akbar lagi sehingga menyetujui rencana Adi Sasono untuk
membentuk Partai Daulat Rakyat Indonesia (PDRI)?, tanya seorang
pengamat. Ada suara-suara yang menyatakan bahwa Menteri Koperasi Adi
Sasono akan keluar dari Golkar dan membentuk partai baru bersama Hariman
Siregar. Mereka akan didukung oleh Syarwan Hamid, Menteri Dalam Negeri-
nya Habibie.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, memberi peringatan
keras kepada para pimpinan Golkar yang tetap ngotot agar Pegawai Negeri
Sipil (PNS) tetap diijinkan menjadi pengurus partai. PNS jangan
dijadikan kuda tunggangan Golkar. PNS bisa kemana-mana, kata Amien Rais
di Jakarta, Rabu kemarin. Seperti diberitakan pembahasan Rancangan
Undang-Undang (RUU) Politik di DPR, khususnya yang menyangkut seputar
posisi PNS dan jatah kursi ABRI DPR, masih panas. Tiga fraksi yaitu FPP,
FPDI dan Fraksi ABRI sepakat menolak PNS menjadi pengurus parpol. Namun
Fraksi Karya Pembangunan tetap ngotot bahwa PNS boleh menjadi pengurus
parpol.

Golkar sebagai kekuatan terbesar masih tetap menginginkan PNS menjadi
pengurus partai. Hal ini tidak lain merupakan strategi Ketua Umum
Golkar, Akbar Tanjung, untuk memenangkan pemilu mendatang, sehinga dia
harus berdebat dengan Mendagri Syarwan Hamid. Mendagri Syarwan Hamid
tetap berusaha menggolkan agar PNS tetap netral dan tidak menjadi
pengurus partai. Masalah netralitas ini sudah ditekankan presiden BJ
Habibie dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR.

Dalam pernyataan bersama Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) milik NU dinyatakan bahwa kedua partai itu
prihatin terhadap pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Politik yang
mengarah ke status quo. Kedua partai ini mengingatkan wakil rakyat di
DPR agar mendahulukan kepentingan bangsa daripada kepentingan kelompok.
Sedangkan bagi Ketua Umum Golkar, Akbar Tanjung, sebagai warga negara
para PNS boleh memimpin partai, katanya.

Menurut seorang pengamat politik, jika pegawai negeri sipil atau PNS dan
ABRI tidak diperkenankan mendukung Golkar, maka sudah dapat dipastikan
bahwa Golkar tidak memperoleh suara sebesar sepuluh persen sebagaimana
ditargetkan oleh DPP Golkar saat ini. Ketua DPA, Baramuli, juga sudah
mengatakan Golkar saat ini di Jawa Tengah benar-benar sudah terpuruk.
Organisasi Korpri di Yogya dan Jawa Tengah umumnya sudah menyatakan
keluar dari Golkar.

sumber Ranesi

Kirim email ke