On Wed, 6 Jan 1999, Irwan Ariston Napitupulu wrote: > > Irwan: > Bung Adi, apakah situs itu pada akhirnya akan dapat memberikan > pengertian atau tidak, itu tergantung dari bagaimana kita membacanya. > Apakah kita membaca dalam niatan mencari jawaban atas pertanyaan2 > yg ada seputar agama Kristen ataukah mencari pembenaran atas > apa yg memang sudah ada didalam benak kita tentang Kristen sebelumnya. Saya membuka site itu karena saya tertarik dengan namanya, tanpa pikiran lainnya. Namun setelah membaca beberapa bagian, saya menemukan beberapa bagian tentang Islam yang insyaallah saya tahu tidak benar. Kalau si pemilik tidak tahu, mungkin ya sudah. Namun kalau kita melihat keseluruhan site, bagaimana cara dia mengkaji masalah, maka - setidaknya buat saya - terasa adanya double standard. Dia mengkaji secara mendalam masalah yang jika dikaji akan "menguntungkan" dan hanya sekedar memposting tanpa kajian masalah yang jika dikaji dengan level kedalaman yang sama akan tidak "menguntungkan". > > Selain itu, terhadap pertanyaan2 atau hal2 yg mempertanyakan > akan ajaran Islam di situs tersebut pun juga tergantung bagaimana > kita membacanya. Apakah kita membaca hal tersebut sebagai > suatu serangan kepada kita ataukah malah kita jadikan sebagai > tolok ukur sampai seberapa jauh kita sebenarnya mendalami, menguasai, > mengetahui ajaran agama kita sendiri. > Dari yg sudah2 biasanya saya malah banyak belajar dari > pertanyaan2 atau pun serangan2 dari rekan2 yg non Kristen atas > ajaran agama yg saya imani ini. > Bukankah cara bersikap seperti ini malah jauh lebih baik ketimbang > langsung antipati terhadap semua orang yg mempertanyakan agama > kita? > Saya tidak mengerti bagaimana sebuah sumber yang rancu bisa menjadi tolok ukur. Bahkan bisa katakan bahwa site itu cendrung "offensive". Bagaimana jika situasi dibalik. Saya membuat website yang saya klaim untuk mengembangkan saling pengertian, namun disitu saya menempatkan artikel yang sama sekali tidak bisa diterima umat kristiani. Apa anda akan berpendapat bahwa site saya untuk membangun saling pengertian dan bisa menjadi tolok ukur? ---deleted --- > > Oh ya, kalau anda memang merasa yakin bahwa ada kesalahan > di site tersebut yg menurut anda perlu diperbaiki, anda bisa kirim > imel ke pemilik site tersebut. Tentunya seperti yg dia jelaskan > datanglah dengan suatu argumen yg memang kuat dan juga > referensi yg bisa dipertanggungjawabkan bila anda menemukan > adanya fakta2 yg diselewengkan. > Terus terang saya merasa malas. Kenapa? Saya tidak tahu seberapa jauh bung Irwan tahu tentang masalah seperti ini. Selama ratusan tahun telah ditulis ratusan (mungkin ribuan) buku yang intinya - dalam pandangan umat Islam - untuk menggoyahkan dasar-2 Islam. Penulis-2nya tidak tanggung-2, berasal dari sekolah-2 yang dipandang tinggi. Pembahasannyapun bisa dibilang mencakup segala bidang. Selama ratusan tahun pula telah ditulis ratusan (mungkin ribuan) buku yang intinya menjawab tulisan-2 tersebut, menganalisis "ketidakjujuran" dalam analisis tulisan-2 tersebut. Dan hal ini masih berlangsung hingga saat ini, dengan cara-2 yang lebih halus. Jadi, kalau seseorang menulis sesuatu, dengan berbagai referensi, akan dapat dibalas dengan sesuatu yang memuat referensi yang meragukan referensi sebelumnya. Dan ini bisa berlangsung terus, on and on and on. So what for, kalau calon lawan diskusi dari awal tidak menunjukkan kejujuran ilmiah? Mendingan waktu saya digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat lainnya. --deleted -- Sekian pandangan saya tentang site dimaksud. Widjojo
Re: Perlunya HUKUM (was: Re: interesting info about the so-called...
Widjojo Adi Prakoso,Cornell U.,Ithaca,NY Thu, 7 Jan 1999 09:27:30 -0500
- Re: Perlunya HUKUM (was: Re: inte... Irwan Ariston Napitupulu
- Widjojo Adi Prakoso,Cornell U.,Ithaca,NY
