Assalamualaikum Wr.Wb Rekan-rekan sekalian..., Berikut ini adalah tulisan bagian ke 2, menanggapi komentar bung Panut Wirata. Semoga dapat memperjelas permasalahan sesungguhnya, dan tidak menimbulkan salah pengertian diantara kita. Wassalam Mohamad Rosadi Virginia BAGIAN KE 2..., Eng..Ing..Eng......:) Panut Wirata wrote: Ingat kalau >konglomerat turunan Cina bisa kolusi tentu dengan pejabat pemerintah. >Yang salah dua-duanya. Jangan gunakan kasihan atas kelemahan >diri-sendiri sebagai alasan tidak bisa menolak tawaran suap. Lalu >bagaimana dengan BUMN yang ternyata jadi sapi perahan putra-putri >Soeharto dan para menteri. Juga jangan lupa bahwa kurs rupiah yang >melemah gila-gilaan pertengahan tahun lalu mungkin disebabkan >penarikan modal asing walaupun juga mungkin pelarian modal dari >keturunan cina yang takut keluarganya diperkosa. Saya setuju tuh dengan perkataan anda soal kolusi. Dalam suatu kolusi memang kedua belah pihak lah yang bersalah. Tanpa bermaksud membela siapa-siapa, saya pikir KEPENTINGAN EKONOMI para Konglomerat(yang mayoritas etnis tionghoa) jauh lebih besar ketimbang pejabat pemerintah yang diajak berkolusi. Anda sepertinya salah menangkap pesan saya. Sepertinya saya sudah berulangkali menyebutkan dalam tulisan saya terdahulu, bahwa yang saya permasalahkan adalah TINDAKAN dan CARA-CARA yang TIDAK BAIK yang dipakai para konglomerat itu dalam menjalankan usahanya, BUKAN pada etnisnya. KEBETULAN saja konglomerat Indonesia yang melakukan tindakan tidak terpuji dalam berbisnis itu, yang telah memporak-porandakan perekonomian kita,mayoritas berasal dari etnis tionghoa. Jadi hanya KEBETULAN bung..... Soal Keluarga Pak Harto, kita dapat mendiskusikannya di lain waktu. Lebih baik kita mmembatasi permasalahan sesuai dengan topik awal diskusi ini, yaitu tuduhan rasis terhadap pak Adi Sasono atas pernyataannya terhadap konglomerat keturunan. Oh ya..., saya kok kurang mengerti KORELASI antara pelarian modal dari keturunan cina(etnis tionghoa) dengan RASA TAKUT akan perkosaan yang menimpa keluarga mereka..??? Bisa dijelaskan..? Panut Wirata Wrote: Lalu korupsi yang >sudah mengurat dan mengakar di Indonesia. Anda akan terheran-heran >bila mendengar cerita tentang gaya hidup pejabat/keluarga pejabat yang >mondar-mandir keluar negeri untuk belanja. Uang dari mana? Para >menteri/pejabat tinggi yang menyekolahakan anak-anaknya di AS serta >beli rumah di AS. Lagi-lagi tentang korupsi, ingat TKI dari Timur >Tengah yang mengirim uang ke keluarganya di Jatim lewat Bank BUMN >hanya diberi nilai 4000 rp/dollar walaupun kurs sudah 8000 rp/dollar? >Mau tahu korupsi yang lebih menyedihkan? Pembantu rumah tangga saja >mengambil untung bila disuruh belanja. Lalu bangaimana dengan >preman-preman yang memajaki pedagang kaki lima? Belum lagi >preman-preman yang menetapkan harga atau memaksa nelayan menjual >ikannya pada pembeli tertentu. Lalu segala macam penjarahan, perusakan >dan segala macam anarki belakangan ini, sehingga pabrik takut >berproduksi. Wah..wah...diskusinya jangan melebar begini dong, cukup kita batasi masalahnya dengan kasus Pak Adi Sasono dengan konglomerat keturunan. Masalah pejabat yang korupsi,pembantu RT,preman,pabrik,nelayan, pedagang kaki lima,TKI, dsb, bisa kita bicarakan dalam diskusi yang lain, dengan topik tersendiri tentunya. Karena kalo tidak kita batasi, bisa-bisa nanti kita sampai pada diskusi soal pertandingan Sepakbola liga Inggris lagi(kapan ni diskusi soal bola..???) Panut Wirata Wrote: Lalu kalau bilang nepotism, ini tidak relevan untuk >keturunan cina sebab mereka tidak banyak duduk di pemerintahan. > Anda katakan bahwa beberapa etnis tionghoa dulu menindas golongan >pribumi. Anda bisa memberikan contohnya? Kalau kasusnya adalah >antara majikan yang tidak adil terhadap pembantu, saya percaya ini >sering terjadi. Tetapi etnis tionghoa menindas pribumi, sulit >terjadi. Ingat kerusuhan Solo th 1980 yang kemudian menjalar ke >kota-kota sekitarnya termasuk kota-kota di Jawa Timur? Ini mulanya >hanya perkelahian antara anak-muda keturunan Cina melawan Jawa. Jadi >berbicara tentang tindas-menindas, dalam kenyataan sehari-hari, orang >keturunan cina itu sangat hati-hati dalam bergaul, sangat mengalah >karena tak berdaya. Bahkan banyak hak asasinya yang dicabut. Mau >contoh? Tidak diijinkannya barang cetakan beraksara cina, peringatan >imlek di larang, segala atribut-atribut berbau cina dilarang, ngomong >bahasa cina di tempat umum bisa-bisa di bunuh masa, sering di pojokan >sebagai tidak sopan, tidak tahu adat dsb. Padahal, orang keturunan >cina di Jawa misalnya di rumah berbahasa jawa ngoko, makannya soto dan >nasi pecel walaupun juga capcai, siomay, bakso. Ibu-ibunya banyak >yang pakai sarung. (Cinophobia di Indonesia kelewat batas, sampai >untuk urusan dengan Cina kita barus belajar dari bule, bukan dari >orang keturunan cinanya sendiri). Bandingkan dengan cina-cina Malaysia >yang masih fasih berbahasa CIna, punya partai Cina, punya sekolah >cina, dsb. Bandingkan orang Batak yang tinggal di Jawa misalnya, >apakah mau menjadi njawani? Atau orang Jawa yang transmigrasi di >Sumatra misalnya, apakah mau nyumatrani? Bukankah kita begitu bangga >bercerita bahwa orang Jawa di Surinam masih bisa bahasa Jawa. Nah >kalau konsisten, harusnya kita juga bangga dan malah mendorong orang >keturunan cina yang masih memelihara kultur cina. Ataukan masalahnya >adalah jawa-centrisme. Keturunan cina tidak baik karena tidak mau >jadi jawa? Saya kira kita perlu menerapkan satu standar yang sama >bagi semua orang dalam berkehidupan bernegara. Bung Panut,agar diskusi kita lebih terarah, maka rasanya kita perlu menyamakan persepsi kita terhadap beberapa hal. Pertama, tolong diperhatikan sekali lagi..., saya Tidak bicara masalah etnis tionghoa secara menyeluruh, yang saya maksudkan sudah jelas.., KONGLOMERAT etnis tionghoa(OKNUM etnis tionghoa). Kemudian yang kedua, masalah yang didiskusikan lebih banyak menyangkut persoalan EKONOMI. Jadi kalo saya bilang BEBERAPA etnis tionghoa(BUKAN Semuanya loh..anda kelupaan ya menyebutkan kata "BEBERAPA" nya ..?)melakukan penindasan kepada golongan pribumi(sorry...,kayaknya saya salah ya menyebutkan golongan pribumi..., lebih tepat dengan Golongan Rakyat Kecil atau "GRK" barangkali..), maksudnya lebih pada PENINDASAN EKONOMI. Sengaja saya tidak memperjelasnya, karena saya anggap rekan-rekan sudah faham tentang itu. Tapi saya minta maaf kepada anda dan yang lainnya, jika ternyata saya telah membuat anda sekalian jadi salah menduga. Nah.., sekarang sudah jelas khan..kalo etnis tionghoa yang saya maksudkan adalah dari "jenis" Konglomerat, bukan kalangan rakyat biasa.Bagi saya....jenis kulit,ras,agama,kecantikan,kekayaan, kepandaian, TIDAK menjadi halangan bagi saya untuk berteman atau bergaul dengan sesorang. Saya juga tidak setuju kok dengan orang yang membenci orang lain hanya lantaran orang tersebut seorang tionghoa. Kemuliaan seseorang itu kan terletak kepada KETAKWAAN-nya kepada ALLAH SWT(Inna akramakum 'Indallahi atqooqum = Sesunggunya yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa). Cuma dalam menuduh seseorang itu rasis.., perlu adanya penelitian dan pengamatan lebih lanjut lagi.., tidak cukup dengan hanya dengan MEMBACA komentarnya saja. Ngomong-nomong soal siomay dan bakso, anda bikin saya teringat makanan Indonesia ..., wah .....saya jadi ngebayangin ni lagi makan siomay dan bakso plus sate padang di Majestik atau di Blok-M (Hussssyyyy...puasa..puasa..ngomongin makanan...hehehehehe) Panut Wirata: > Saya setuju dengan pendapat Gus Dur bahwa kita sebagai bangsa ini >masih anak-anak. Masalahnya adalah bisakah kita tumbuh menjadi dewasa >dan tidak mandek pertumbuhan kita. Mampukah kita selalu keluar dari >suatu permasalahan untuk mengatasi persoalan lain yang lebih tinggi >tingkatnya. Mampukan kita membuat hukum kita berfungsi mengatur >kehidupan berbangsa dan bernegara. Mungkin banyak hukum yang di buat >Belanda perlu dirombak....apa saja kerjaan ahli hukum atau DPR yang >berwenang membuat hukum selama ini? Dan saya rasa, kelemahan hukum >dan penegakannya inilah sumber dari segala KKN dan anarki yang membawa >Indonesia ke tingkat peradaban yang serendah/setinggi sekarang ini. Bangsa kita memang belum dewasa bung..., masih banyak sekali orang-orang yang tidak mau bertenggang rasa dengan orang lain,menuntut hak secara berlebihan sehingga melupakan orang hak lain,bersikap dan bertindak berlebihan terhadap orang lain(terutama yang dianggap lawannya), dan terutama TIDAK JUJUR pada diri sendiri. Kita bangsa Indonesia....Insya Allah akan mampu keluar dari berbagai persoalan yang dihadapai, manakala KRISIS MORAL yang menjadi sumber segala macam petaka, berhasil kita atasi.Dan tidak ada cara yang lebih ampuh untuk mengatasi KRISIS MORAL ini dengan kembali mendalami,memahami,dan menjalankan agama kita masing-masing secara BENAR.Dengan moral yang baik dan adanya perasaan yang selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, maka Insya Allah akan lahir manusia-manusia Indonesia yang jujur dan adil(jauh dari KKN dan sifat-sifat buruk lainnya), menyayangi sesama manusia,dan selalu berusaha untuk memakmurkan dan memajukan bangsa dan negaranya, serta mensejahterakan umat manusia. Panut Wirata Wrote: > Omong-omong tentang Adi Sasono rasis, saya kira definisi rasis >yang baik adalah yang hanya memakai ras, etnis, warna kulit, agama, >kepercayaan sebagai satu-satunya dasar pertimbangan dalam menilai, >memutuskan atau menentukan sesuatu yang tak ada kaitannya dengan ras, >agama kepercayaan tsb. Jadi bila Adi Sasono dalam mengembangkan >ekonomi kerakyatan hanya memberi kredit pada pengusaha kecil dan >menengah keturunan pribumi, dan tidak memberi kredit pada pengusaha >kecil-menengah pribumi keturunan cina, maka beliau adalah rasis. Hal inilah yang coba saya jelaskan kepada rekan-rekan lain. Cuma sayangnya banyak rekan yang salah menagkap maksud saya..., sampai-sampai saya disebut sebagai seorang rasis..:) Ok deh bung Panut.., yok kita tunggu saja langkah-langkah yang akan dilakukan pak Adi Sasono..., kalo memang nantinya ternyata beliau mendiskriminasikan etnis tionghoa dari kalangan biasa(bukan konglomerat loh...:),baru deh kita rame-rame protes.....,karena tindakan tersebut sangat bisa dikatakan rasialis.... Panut Wirata Wrote: >Dalam hal ini, isu antara pengusaha kecil vs konlomerat perlu dipahami >sebagai antara pengusaha kecil dan konglomerat yang bisa dihitung >asetnya, tanpa perlu memasukkan unsur apakah yang satu itu pribumi dan >yang lain itu keturunan. > Mudah-mudahan hal ini sedikit memberi suatu alternatif cara >memandang bagi saudara Rosadi. >Wassalam >Panut Wirata Pemasukan unsur etnis tionghoa dalam diskusi ini memang sudah ada sejak awal, karena itulah beredar tuduhan rasis kepada pak Adi Sasono(termasuk pada saya juga loh...:).Makanya saya berusaha untuk meletakkan permasalahanya secara proposional, sehingga kita terhindar dari perbuatan yang berbau fitnah. Terima Kasih atas tanggapan anda..., semoga kita dapat terus menjadi teman diskusi yang baik. Wassalam, Mohamad Rosadi > >---Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> Allooo Ian..., gue mo nanggap balik ni. Kayaknya lo belum terima email >> diskusi gue ke bung patiwael seluruhnya. kalo udah, mestinya lo nggak >> salah tanggep(mispersepsi)seperti ini. >> >> OK..ini tanggapan gue,disimak baik-baik ya.......:) >> >> >> Mohammad Rosadi wrote: >> >> >> Oh ya... soal Adi Sasono, saya rasa kita harus melihat perkembangan >> >> lebih lanjut. Untuk menyebut menteri kita yang satu sebagai >> rasis,saya >> >> kita perlu pembuktian lebih lanjut.Mengenai sikap dan komentarnya >> yang >> >> cenderung memojokkan etnis tionghoa, bisa jadi itu merupakan >ungkapan >> >> kekecewaan dan kemarahan pak Adi Sasono atas keserakahan dan >> keangkuhan >> >> para konglomerat yang mayoritas etnis tionghoa,yang telah >> >> memporak-porandakan perekonomian Indonesia dan memiskinkan rakyat. >> >> Ian wrote : >> >> >Adi Sasono telah mendefinisikan orang berdasarkan etnisnya >> >(race/genetics), maka ia adalah RACIST. >> >Sebagai sekjen ICMI, hal ini sangatlah ridiculuous. >> >Bukankah Allah SWT (itu kalau Adi Sasono percaya adanya Tuhan) >> menciptakan >> >orang berbeda2 berdasarkan geneticsnya ? >> >Kalau misalkan seseorang itu adalah penjahat, kenapa yang dilihat >> adalah >> >kulitnya ? kenapa bukan kejahatannya ? >> >> Aduh Ian..., sabar dong, jangan keburu nafsu. maksud gue,kita harus >> BERHATI-HATI menuduh orang rasis. Dalam masalah Pak Adi Sasono,saya >rasa >> kita mesti liat dulu kelanjutannya. Kalo nanti ternyata dalam >> tindakannya memberdayakan ekonomi rakyat beliau MEMANG >> mendiskriminasikan atau menindas etnis tionghoa (seperti halnya yang >> dilakukan BEBERAPA orang etnis tionghoa dulu kepada golongan pibumi), >> barulah kita bisa sebut rasis. kita tunggu aja deh.... >> >> Mohamad Rosadi wrote : >> >> >Terus terang saya sendiri juga sangat MUAK dengan kelakuan dan >> tindak-tanduk >> >> beberapa orang etnis tionghoa selama ini, suatu perasaan yang >mungkin >> >> juga dirasakan oleh rekan-rekan yang lainnya(ngaku deh....). >> >> Ian Wrote: >> >> >Anda sangatlah racist tanpa anda sadari. >> >(anda telah melihat keetnisan/kesukuan/genetics/race sebagai salah >satu >> >faktor. Kalau anda tidak racist, anda akan bilang : >> >'saya muak dengan penjahat2, saya muak dengan orang2 yang >menghalalkan >> >segala cara dalam berbisnis, saya muak dengan para koruptor, dll' >tanpa >> >harus menambahi dengan embel2 : cina, jawa, black, etc.. >> >Anda telah melanggar kehendak Tuhan anda sendiri >> >(banyak juga lho orang2 yang mengaku beragama fanatik padahal mereka >> >sendiri itu adalah pelanggar nilai2 agama mereka sendiri yang palibng >> >utama) >> >> Ya nggak gitu dong ian. lo musti INGAT dan TAU dong kalo tulisan gue >> diatas itu merupakan TANGGAPAN atas tulisan bung patiwael yang >menyoroti >> Pak Adi Sasono yang dianggap menyebarkan rasa permusuhan rasial kepada >> ETNIS TIONGHOA....ingat Ian...ETNIS TIONGHOA yang dibicarakan oleh >bung >> patiwael..lebih SPESIFIK dari hanya sekedar penjahat. Karena bung >> Patiwael menyoroti masalah Pak Adi Sasono dan ETNIS TIONGHOA, ya gue >> juga menanggapinya SEBATAS itu dong. Lagian gue kan cuma muak melihat >> kelakuan BEBERAPA orang etnis tionghoa...BUKAN semuanya. Dan sorry ya >> Ian.., gue nggak pernah bilang kalo gue FANATIK...,itu kan cuma >persepsi >> lo sendiri. Gue cuma mau bersikap JUJUR saja, bahwa selama ini memang >> ADA perasaan MUAK pada sebagian besar masyarakat Indonesia,termasuk >> gue(gimana rekan-rekan lain..,mo ngakuin nggak..???) melihat kelakuan >> BEBERAPA etnis tionghoa, ITU SAJA!!! >> Gue nggak mau SOK menjadi pembela dan pahlawan hak asasi manusia >> KESIANGAN (Yang baru bersuara lantang..ketika banyak orang >> membicarakannya). Gue lebih suka menempatkan suatu persoalan pada >> proporsi yang sebenarnya. Bagi gue, siapa saja yang TERBUKTI salah >HARUS >> dikatakan salah, Walaupun SELURUH DUNIA menganggapnya benar. INSYA >> ALLAH, guepun akan MEMBELA etnis tionghoa(CINA) di Indonesia jika >mereka >> diperlakukan semena-mena, karena menurut ajaran agama >gue(ISLAM),SANGAT >> DIWAJIBKAN membela hak-hak kaum yang tertindas dan HARAM hukumnya >> menyakiti orang yang lemah. Di dalam ajaran Islam, KEMULIAAN manusia >> terletak pada tingkat KETAKWAANNYA, BUKAN pada jenis kulit,suku >> bangsa,kecantikkan,status sosial,kecerdasan,dsb. >> >> >> Mohamad Rosadi Wrote: >> >> >Jujur saja kadang dulu saya suka mengumpat mereka dengan kata-kata >> seperti "CINA BRENGSEK" atau "DASAR CINA", karena kelakuan oknum-oknum >> Tionghoa yang angkuh dan selalu menghalalkan berbagai cara dalam >> berbisnis. >> >> Ian Wrote: >> >> >ini bukti lagi bahwa anda memang racist. >> >We do not need people like you in Indonesia. Indonesia sudah fucked >up >> >already, tidak perlu ditambah dengan para racist yang hanya akan >> >menghancurkan negeri ini. >> >> Ckkk..ckkk..Ian..Ian...,nggak bisakah lo sabar dikit, melihat suatu >> masalah dengan pikiran jernih..??? sabar dulu dong mas.Dalam tulisan >> diatas gue cuma mo bilang, bahwa kata-kata umpatan kepada etnis >tionghoa >> diatas sudah MENDARAH DAGING dalam bahasa pergaulan di Indonesia >> sehari-hari(lo boleh tanya sama semua orang di Indonesia,khususnya >> Jakarta...,gue rasa sebagian besar dari mereka pernah mengatakan >> kata-kata yang mirip itu, bahkan lebih parah mungkin). Sering kali >orang >> di Indonesia mengucapkan kata-kata itu TANPA BERMAKSUD menyebarkan >rasa >> permusuhan kepada Etnis Tionghoa, hanya sekedar pengungkapan rasa >> jengkel saja. Kalo lo benar-benar menyimak diskusi gue dengan bung >> patiwael,lo pasti baca tulisan gue yang menagatakan bahwa kata-kata >> umpatan kepada etnis tionghoa seperti diatas itu sebenarnya nggak >pantas >> diucapkan, tapi untuk menghapuskannya dari "bahasa" pergaulan >> sehari-hari di tanah air perlu waktu yang cukup lama.(makanya disimak >> dong diskusinya, jangan langsung emosi dulu...., BE COOL MAN !!!!!). >> Tentang rasis..,kita liat saja nanti siapa SEBENARNYA yang rasis..... >> >> >> Mohamad Rosadi Wrote: >> >> >Namun apa lantas saya juga bisa disebut sebagai seorang RASIS karena >> mengucapkan kata tersebut..???? belum tentu dong,karena dalam >> kenyataannya saya juga punya banyak temen dari kalangan etnis >tionghoa, >> baik di lingkungan tempat tinggal,kampus, dan lingkungan tempat >bekerja >> di Jakarta. >> >> Ian Wrote: >> >> >FYI, >> >Di amerika banyak racists yang bilang 'Im not a racist because I have >> some black friends' >> >Anda mempunyai teman dari race lain karena keadaan situasi saja, >karena >> >sudah terbukti dari ucapan2 anda bahwa anda mempunyai preferance on >the >> >basis of genetics, which is, may I say, VERY DISGUSTING! >> >enggak beda ama Nazi, enggak beda ama orang Arab jaman Jahiliyah yang >> >membunuhi anak2 perempuan. >> >> Itu mah terserah lo...mo bilang gue apa kek..itu hak lo! Cuma gue mo >> kasih tau satu hal sama lo..., jadi orang jangan cepat emosi....karena >> akan berakibat fatal bagi diri lo(kesehatan lo) dan orang >lain(fitnah). >> Bagi gue.., cukuplah ALLAH menjadi saksi atas diri gue..., apa gue >rasis >> apa nggak...apa gue menyalahgunakan Islam apa nggak...., ALLAH lah >saksi >> gue..., dan hal itu akan gue pertanggungjawabkan dan buktikan di >akherat >> kelak. >> >> Mohamad Rosadi: >> >> >Kata-kata umpatan saya kepada Oknum-oknum tionghoa itu BUKAN >> >> berarti saya benci kepada Etnis Tionghoa, tapi karena kebencian >saya >> >> pada tindak-tanduk mereka.Lah wong temen saya yang etnis tionghoa >> saja >> >> kalau benci sama orang-orang seetnisnya sendiri juga bilang "CINA >> >> LO"..., lucu khan..? >> > >> >Tidak lucu sama sekali. >> >Kebencian ama tindak tanduk tapi kok bawa2 warna kulit ? >> >logika dari mana ini ? >> >hanya karena warna kulit lebih mudah dilihat ? >> >> >Salam >> > Ian >> >> Ian..Ian..., bingung gue sama lo, emosional banget seh..,padahal gue >> udah berusaha keras menyampaikan sikap jujur gue dengan bahasa yang >gue >> anggap cukup SOPAN. Gini ya Ian..., maksud gue LUCU itu, karena >ternyata >> kata-kata umpatan kepada Etnis tionghoa..JUSTRU juga diucapkan oleh >> orang Etnis Tionghoa sendiri. Ini kan salah satu bukti bahwa kata-kata >> umpatan tersebut sudah MENDARAH DAGING dan menjadi BIASA dalam bahasa >> pergaulan (TIDAK HANYA DIUCAPKAN oleh orang pribumi saja).Makanya gue >> bilang, penyebutan rasis kepada seseorang itu tidak bisa hanya >> berdasarkan kata-kata yang dia ucapkan, tapi harus kita liat dulu >> TINDAKAN yang dilakukannya. Masakkan lo akan mengatakan teman gue yang >> etnis tionghoa itu sebagai rasis, karena mengucapkan kata-kata "CINA >LO" >> kepada temannya sesama etnis tionghoa..??? >> >> >> Salam >> >> Mohamad Rosadi...,yang katanya seorang RASIS...:) >> Virginia >> >> PS. Nanti akan gue kirimin lo hasil diskusi gue dengan bung >> patiwael(kalo lo memang belum terima)..agar lo bisa sedikit >> tenang...sehingga bisa melihat suatu persoalan dengan jernih. >> >> >> >> ______________________________________________________ >> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com >> > >_________________________________________________________ >DO YOU YAHOO!? >Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
