Republika Online
Forum/ListPenelusuranInfo IklanInfo SirkulasiKembali ke Home Page
Republika Online edisi:
09 Jan 1999


Berita Hari Ini Berita Sebelum Berita Berikut

Beragama untuk Konflik?

Apakah manusia beragama untuk berkonflik? Pertanyaan ini selalu muncul setiap kali terjadi pertentangan, kekerasan, dan kerusuhan sosial yang melibatkan komunitas agama. Ada nuansa kegetiran dalam pertanyaan itu, karena seringnya agama tampil dalam wajah yang paradoks.

Agama sebenarnya merupakan medium trasendental, sekaligus profan, yang digunakan oleh Tuhan dan manusia untuk saling ''menyapa''. Tuhan menyapa manusia melalui firman-Nya, dan melalui firman itu pula, manusia ''menyapa'' Tuhan. Dalam perspektif mistisisme atau sufisme dalam Islam, proses saling menyapa itu, terjadi lebih mendalam lagi, yakni terjadinya saling kemanunggalan antara Tuhan dan manusia yang tidak bisa dikonstruksikan secara verbalistik, atau tak terlukiskan (ineffability), seperti dinyatakan oleh Wiliam James. Dengan proses saling menyapa itu, dan bahkan, kemanunggalan antara manusia dan Tuhan: Ke dalam, manusia diharapkan selalu berada dalam realitas primordialnya sebagai makhluk religius; dan keluar, manusia selalu mengasah komitmen kemanusiaannya yang dibuktikan dengan secara aktif terlibat dalam berbagai kerja kemanusiaan. Inilah cita-cita luhur yang terdapat pada semua agama.

Tapi paradoks dengan cita-cita luhurnya itu, dalam realitas bumi, agama seringkali tampil dalam suatu komunitas yang menyeramkan dan menakutkan terhadap komunitas agama lain. Belakangan ini setelah terjadinya serangkaian kekerasan dan kerusuhan yang terjadi di Jakarta dan di NTT beberapa waktu yang lalu, situasi psikologis dan sosiologis keagaman masyarakat mulai diliputi oleh perasaan saling curiga, tidak nyaman, dan tidak aman. Alhasil, situasi konfliktual kini mulai menyeliputi pada sebagian besar pemeluk agama. Dan karena wilayah konflik itu berada dalam ranah agama, yang selalu dipandang sebagai problem of ultimate concern, suatu problem yang berhubungan dengan kepentingan mutlak, biasanya konflik akan melahirkan trauma yang cukup mendalam, dan karena itu, akan membentuk jaringan konflik.

Absolutisme agama dan distorsi epistemologis

Dalam telaah filsafat dan sosiologi, konflik sebenarnya merupakan hal yang wajar sejalan dinamika kehidupan manusia. Lewis A Coser, penulis buku The Functions of Social Conflict, mengatakan konflik merupakan kewajaran bagi setiap masyarakat yang sedang mengalami perubahan sosial dan kebudayaan. Thomas Hobbes, seorang filsuf besar, berpendapat bahwa konflik yang dapat mengarah pada tindak kekerasan merupakan keadaan alami manusia (state of nature). Dari seorang filsuf besar ini pula terlontar pernyataan yang menyeramkan, homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia yang lain), yang bisa berakibat perang semua lawan semua (belum omnium contra omnes). Namun, konflik tidak selamanya berakibat destruktif, sebab seperti dinyatakan oleh Georg Simmel, salah seorang tokoh sosiologi terkemuka, avis pacem para belum (jika menghendaki perdamaian, hendaklah bersiap untuk perang). Bagaimana dengan konflik agama?

Konflik biasanya muncul dalam masyarakat yang di dalamnya ditandai dengan aneka ragam kemajemukan -- meskipun dalam ajaran agama mana pun konflik tidak dapat dibenarkan. Bila mengikuti ''teori'' tiga lapis agama dari Masdar F Mas'udi (1995) -- yang membagi agama pada tiga lapis, yaitu: pertama, agama sebagai kesadaran azali yang ilahiyat; kedua, agama sebagai konsep ajaran atau doktrin, dan ketiga, agama sebagai aktualisasi dan pelembagaan -- maka konflik selalu terjadi pada lapisan ketiga, baik yang melibatkan antarkelompok dalam suatu komunitas agama maupun dengan pihak luar.

Dari analisis yang berkembang, ada kesan faktor nonagama seperti politik, ekonomi, etnis, dan lain sebagainya, cenderung ditempatkan sebagai sumbu pemicu terjadinya konflik realistik antara kelompok agama yang satu dengan kelompok agama yang lain. Sementara agama, dinilai hanya dimanfaatkan untuk kepentingan konflik yang acapkali berkembang secara radikal menjadi zero sum game (pertarungan habis-habisan), seperti penghancuran terhadap infrastruktur yang dibangun dengan susah payah oleh para pemeluk agama.

Sebenarnya, ihwal konflik antarumat beragama, tidak hanya dipicu oleh unsur eksternal, tapi -- tidak kalah pentingnya lagi untuk disebut -- adalah adanya distorsi epistemologis dalam menangkap absolutisme agama, yang alih-alih memperkokoh komitmen ilahiyah pemeluk agama, malah berkembang ke arah juvenile extremism (ekstrimisme mentah), yang dapat menumbuhsuburkan sikap eksklusivisme.

Apa itu absolutisme agama? Dan kenapa absolutisme agama bisa melahirkan distorsi epistemologis? Absolutisme, terutama yang berbentuk Realitas Mutlak atau Kebenaran Tertinggi (The Ultimate Reality) adalah kebutuhan alami bagi manusia sebagai makhluk yang serba relatif (relativismus uber alles).

Dengan kerelatifannya itu, nalar rasional manusia acapkali gagal memberikan jawaban yang memuaskan jika dihadapkan pada persoalan eksistensial dan fundamental yang bersumber dari keberadaan dirinya dalam realitas kosmik, seperti tentang ihwal ontologis manusia beserta proses teleologis manusia dalam mengarungi kesemestaan kehidupan ini. Sebagai bukti kegagalan nalar rasional manusia itu, dapat dilihat pada filsafat, yang meskipun telah diakui kecanggihannya dalam menguak hal-hal yang bersifat fundamental, toh pada akhirnya, filsafat harus mengakui sempitnya ruang epistemologis yang dimilikinya. Sehingga terhadap hal-hal yang bersifat fundamental, pada akhirnya manusia menerima kebenaran agama yang dihadirkan ke bumi melali proses pewahyuan. Apalagi, dalam episteme modernisme filsafat sendiri sebenarnya melakukan desakralisasi terhadap pengetahuan yang bersifat ketuhanan.

Sampai saat ini -- meskipun masih ada saja pemikiran yang bercorak Nietzhe-an -- agama tetap diakui keberadaannya, terutama dalam memberikan penjelasan tentang persoalan kemutlakan. Cuma persoalannya, kebenaran yang diterima dari agama ini, tidak dalam bentuk monistik, sebagai konsekuensi banyaknya agama historis yang hadir dalam kehidupan kultural umat manusia di mana masing-masing agama itu memperoleh tempat yang kokoh dalam lubuk hati para pemeluk agama.

Dari sinilah kemudian bersemai apa yang oleh Arthur J Damo (Rachman, 1995) disebut dengan cara pandang agama (religion's way of knowing) yang selalu mengutamakan klaim kebenaran (truth claim) atas informasi kemutlakan yang diterima oleh masing-masing pemeluk agama. Sementara pada sisi lain, menolak terhadap kebenaran yang datang dari agama lain. Adanya klaim-klaim inilah yang secara sosiologis berpotensi memperlebar jarak sosial (social distance), serta menimbulkan pertentangan dan konflik realistik pada wilayah sosial-politik.

Reorientasi pembelajaran agama

Melalui proses pembelajaran, baik yang dilakukan secara formal maupun yang berlangsung secara alami dalam kehidupan kebudayaan masyarakat, apa yang dipandang mutlak dalam agama itu dibakukan atau diobjektivikasikan. Dan terbukti, pembakuan ini tidak saja mampu mempertahankan keaslian doktrin agama yang berkaitan dengan kemutlakan, tapi juga berhasil memperkaya khazanah epistemologi keagamaan, yakni lahirnya ilmu-ilmu keagamaan yang kelak dapat mempermudah generasi selanjutnya dalam memahami dan mempraktikkan ajaran agama.

Di samping itu, pembakuan yang diikuti dengan internalisasi terhadap generasi selanjutnya, secara sosiologis dapat memperkokoh ikatan primordial komunitas agama. Sampai di sini, pembakuan masih terkesan manusiawi, karena dengan cara demikian, jalan manusia dalam menemukan Realitas Mutlak menjadi lebih gampang.

Cuma yang perlu diperhatikan, seringkali pembakuan bisa berakibat pada terjadinya formalisme yang berlebihan, yang justru dapat mempersempit ruang gerak agama. Dalam formalisme, agama menjadi mandek sebatas sebagai himpunan doktrin dan hukum-hukum yang telah baku, yang diyakini mengandung kemutlakan, dan karena itu, menuntut penerimaan secara taken for granted. Padahal, pembakuan itu tak lebih sebagai suatu ikhtiar epistemologis yang terikat oleh dinamika ruang dan waktu (space and time), sehingga membuka peluang untuk dikaji ulang, bahkan kalau perlu, didekonstruksi.

Tapi, karena yang epistemologis itu telanjur dipandang sebagai bagian dari iman, maka akan terjadi apa yang oleh Arkoun disebut dengan taqdis al- afkar al-diniy (proses pensakralan pemikiran keagamaan). Dalam pandangan M Amin Abdullah (1995, 36), jika proses itu tepat sasaran, tidaklah menjadi soal. Tetapi jika proses pensakralan itu melenceng jauh dari sasaran, dalam arti bahwa pemikiran keagamaan bercampur aduk dengan kepentingan golongan atau kelembagaan atau kepentingan kelompok tertentu, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan dan distorsi dalam kehidupan agama umat manusia, bahkan sangat dimungkinkan terjadi ''manipulasi'' yang cuma menguntungkan pihak-pihak tertentu saja.

Apa yang dikemukakan oleh M Amin Abdullah itu, sebenarnya sudah tidak lagi berada pada tataran kekhawatiran. Sebab dalam tataran sosiologis kini telah muncul keberagamaan yang banyak digerakkan oleh kesadaran kelompok yang sempit. Th Sumartana, dalam suatu tulisannya tentang Globalisasi, Pluralisme, dan Dialog Antaragama (1998, 130-1), menyebut enam bentuk kecenderungan utama dalam keberagamaan yang didasarkan pada semangat kelompok itu. Pertama, parchohialisme yang bertolak dari arogansi wilayah serta ciri yang menetap pada kelompok itu. Kedua, sektarianisme, yang lebih menonjolkan ciri sekte dan merasa sebagai kelompok yang paling hebat dan kampiun. Ketiga, ghettoisme, bertolak dari ketidakpercayaan kepada orang lain, serta menutup diri, baik dengan alasan superioritas maupun sebaliknya, inferioritas. Keempat, tribalisme, mengandalkan persatuan komunitas sendiri dengan ciri-cirinya yang menolak kehadiran orang lain. Dengan kesadaran in-group dan out-group yang kental. Kelima, fasisme, menganggap diri paling utama dan sampai pada kesimpulan mengenyahkan orang lain pun memiliki legitimasi tertentu. Ketujuh, eksklusivisme, yaitu sikap menutup diri dari pergaulan dengan orang lain, karena takut tercemar keburukan orang lain, ingin mempertahankan keaslian dan kemurnian pribadi.

Dari semua kecenderungan destruktif itu, kita menangkap adanya sesuatu yang hilang dalam agama, yaitu daya jelajah agama yang memungkinkan setiap orang melakukan ziarah spiritual ke dalam jantung spritual agama lain. Padahal, dengan melakukan ziarah spritual -- oleh John S Dunne disebut dengan passing over, kecuali akan menambah wawasan intelektual agama lain yang diperolehnya secara fenomenologis. Juga, akan dapat memperkaya pengalaman spritual yang sebelumnya diperkaya oleh agama yang dipeluknya.

Bagaimana kita dapat keluar dari tawanan formalisme agama, untuk selanjutnya melakukan perjumpaan secara mendalam dengan agama lain? Itu semua sangat tergantung pada proses pembelajaran atas agama yang kita peluk. Nah, dengan mempertimbangkan akibat-akibat destruktif yang bakal muncul bila agama dikembangkan ke arah bentuk formalisme yang berlebihan, ada suatu tuntutan imperatif agar dilakukan reorientasi terhadap pembelajaran agama, yakni: Pertama, melakukan semacam pergeseran titik perhatian dari agama ke religiositas. Menurut YB Mangunwijaya (1994, 12), dalam beragama, bukan to have a religion yang menentukan dan yang harus dihargai serta yang harus diusahakan, akan tetapi being religius. Dalam to have a religion, yang dipentingkan adalah formalisme; agama sebagai kata benda. Sedang dalam religiositas adalah penghayatan dan aktualisasi terhadap substansi nilai-nilai luhur keagamaan.

Kedua, memasukkan kemajemukan, terutama agama, sebagai bagian dari proses dalam memperkaya pengalaman beragama. Sebagai realitas kosmik, keberadaan kemajemukan tak terbantahkan. Oleh karena itu, yang perlu dikembangkan adalah sikap proaktif, dengan cara mengembangkan rasa kesamaan dan saling mengerti (mutual unvertanding), bukan sekadar hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence), tapi tidak saling mengerti.

Agar proses ini dapat berjalan secara baik, dibutuhkan suatu pembentukan teologi yang bersifat inklusif, yakni teologi yang dapat memberikan pembenaran dan penguatan terhadap munculnya budaya dialog. Jadi, ada semacam space yang bersifat terbuka, yang memungkinkan masing-masing agama saling memperkaya.

 

Menuju lembar atas

   

[HOME ] [INDEX LENGKAP] [BERITA UTAMA] [NASIONAL] [EKBIS]
[NUSANTARA] [METRO] [INTERNASIONAL] [HIBURAN] [OPINI]
[IPTEK-KESH] [SUPLEMEN] [OLAHRAGA] [KONTAK KAMI] [BERITA LALU] [TELUSUR]

Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta © PT Abdi Bangsa 1999




Kirim email ke