Dear PERMIAS...
Kita semakin semarak saja dengan diskusi-diskusi tentang negara, agama,
ethnic, etc. To some extent, sangat menarik. Saya menikmatinya,
membaca setiap tulisan... tapi maaf, kebanyakan besikap passif karena
tidak tahu hendak berkomentar apa.
Mungkin ada baiknya kita "menarik nafas dalam-dalam" atau step back a
little bit, sesuai dengan saran Bung Indi.
Mungkin kita bisa berfikir sejenak: "What is Indonesia?" and "Who are
Indonesians?" seperti kita menanyakan: "Why was I born like this? and
why not like that?" or "Why should I be with this belief and why not
with that belief?"
Is this too logic or too extranous? This may be the only way I could
think of for a moment.
smile,
ida
<[EMAIL PROTECTED]>
>From: Panut Wirata <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: tanggapan atas tanggapan Panut, Pattiweal, Alvian dll
>To: [EMAIL PROTECTED]
>
>Saudara-saudara tercinta yang budiman dan berakal budi:
> Saya kira sebaiknya kita tidak perlu saling menyinggung karena
>dengan demikian maka kita kehilangan kejernihan dalam berfikir. Saya
>kira dengan mailing list ini kita saling bertukar pikiran,
>berargumentasi secara sehat serta saling memberikan pencerahan pada
>yang lain, memperluas wawasan, memberikan/menerima informasi yang
>sulit didapat, dsb,dsb.
> Berkenaan dengan pahlawan kesiangan pembela konglomerat keturunan
>cina, maaf saja, saya tidak termasuk di dalamnya. Namun tidak adil
>bila dalam pelacuran yang dirazia hanya pelacurnya tanpa hukuman bagi
>yang melacur. Tidak adil hanya menangkap pemakai/pecandu narkotika
>tanpa mengadili penjualnya. Jadi, kalau konlomerat yang tidak
>benar disalahkan, janganlah teman yang di ajak tidak benar bisa
>berjalan lenggang kangkung tanpa rasa bersalah, dan yang penting,
>tidak dianggap bersalah. Saya salut dengan tulisan-tulisan Kwik Kian
>Gie yang menelanjangi praktek kotor para konlomerat,misalnya seperti
>"Saya Mimpi Jadi Konglomerat". Beliau juga menyarankan agar para
>bankir yang ngemplang di hukum, dan saya setuju sekali. Saya kira
>kita semua (yang di luar lingkaran kotor tersebut)tidak ada yang
>menarik manfaat dari praktek kotor konglomerat. Tak perlu menjatuhkan
>cercaan bahwa mereka bangsat, tapi silahkan sistim hukum yang
>menjatuhkannya. Dan yang penting, teman kolusinya juga harus di
>hukum. Demi keadilan. Masalahnya, keadilan di Indonesia sukar
didapat.
> Berkenaan dengan Adi Sasono, mungkin beliau tidak rasis tapi
>pernyataan-pernyataannya cenderung rasis atau secara tidak sadar
>rasis. Sekali lagi, seseorang itu rasis bila hanya menggunakan
>ras/etnis sebagai pertimbangan untuk memutuskan sesuatu yang tidak ada
>kaitannya dengan ras. Selama kebijakan ekonomi kerakyatan itu memang
>untuk seluruh rakyat/pengusaha kecil-menengah, tanpa memandang
>keturunan, agama, warna kulit, bentuk mata dsb, maka itu baik.
>Sehingga warga keturunan cina yang miskin yang petani di Kalbar-pun,
>bersama seluruh warna Indonesia yang lain bisa dapat fasilitas. Itu
>baik.
> Mungkin program Adi Sasono itu baik, sebab tujuannya adalah
>supaya jurang ekonomi antara kaya dan miskin bisa diperdangkal. Bila
>perbedaan ekonomi itu tidak mencolok, tentu tidak banyak kerusuhan.
>Malaysia sering dicontohkan oleh Adi Sasono. Dengan Program Ekonomi
>Baru-nya Mahatir berhasil mempersempit dan memperdangkal jurang
>ekonomi antara Melayu dan Keturunan Cina Malaysia dan tidak ada
>kerusuhan lagi. Tapi perlu diingat bahwa perbandingan Melayu dan Cina
>Malaysia hampir 1:1 sedang di Indonesia mungkin 1 : 20. Tapi satu hal
>yang sangat salah bila membandingkan cina Indonesia dengan cina
>Malaysia. Saudara-saudara sekalian salah bila lebih suka(kurang tidak
>suka) pada Cina Malaysia dibanding Cina Indonesia. Karena Cina
>Indonesia jauh lebih berasimilasi dengan penduduk asli Indonesia
>daripada Cina Malaysia dengan orang Melayu.
> Untuk Bung Alvian, mungkin saudara-saudara Anda yang keturunan
>Cina itu tersinggung sebab mereka mungkin menganggap yang dikritik kok
>hanya yang cinanya, sedang pejabat korupnya tidak. Saya yakin mereka
>bisa mengerti bila dalam berbincang-bincang tidak bernada penuh
>prasangka.
>
>Wasalam,
>Panut Wirata
>
>
>
>
>
>
>>
>
>_________________________________________________________
>DO YOU YAHOO!?
>Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com